Epidemiolog: Potensi Covid Gelombang Ketiga Sangat Jelas dan Sulit Dihindari

Minggu, 23 Januari 2022 13:31 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Epidemiolog: Potensi Covid Gelombang Ketiga Sangat Jelas dan Sulit Dihindari Ilustrasi virus corona. ©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Merdeka.com - Epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan akan potensi terjadinya gelombang ketiga Covid-19. Hal itu lantaran masih adanya kelompok masyarakat yang rentan terjangkit Covid-19.

"Sekali lagi potensi gelombang 3 itu sangat jelas dan sulit untuk dihindari. Karena bicara potensi gelombang bicara adanya kelompok masyarakat yang masih rawan. Belum memiliki imunitas atau meskipun sudah memiliki imunitas, dia menurun imunitasnya, proteksinya," katanya kepada merdeka.com, Minggu (23/1).

"Misalnya dari vaksinasi kan jelas menurun setelah 5 bulan ke atas. Atau setelah terinfeksi pun atau bahkan setelah terinfeksi dan sudah divaksinasi, sama menurun. Nggak ada yang bertahan lama. Itu fakta dari Corona," lanjut dia.

Faktor lain yang juga meningkatkan potensi gelombang ketiga, yakni varian Omicron. Yang memiliki kelebihan bisa menginfeksi orang yang sudah divaksinasi. Juga bisa menginfeksi orang yang memiliki antibodi. Itulah kelebihan Omicron.

"Karena itu, potensi adanya lonjakan kasus yang disebabkan Omicron ini sudah sangat jelas. Apalagi Omicron ini hingga 4 kali lebih banyak kasus infeksinya dibandingkan Delta juga kecepatannya 2 kali lebih cepat daripada Delta. Itu dari riset-riset yang ada sekarang.

Karakter Omicron yang demikian, bisa mengakibatkan jumlah kasus infeksi yang ada di masyarakat pecah rekor. Tidak saja di negara-negara lain, tapi juga di Indonesia.

"Saat ini walaupun di Indonesia baru menemukan 2.000-an kasus tetapi secara kasus di masyarakat tentu lebih besar," tegasnya.

Menurut dia, salah satu cara ampuh untuk merespon Omicron yakni dengan memperkuat aspek testing, tracing. Karena tanpa adanya deteksi dini yang kuat, Indonesia tidak akan memiliki kemampuan memadai untuk memutus transmisi.

"Karena memutus penyebaran dengan menemukan kasus-kasus infeksinya, kasus-kasus kontaknya sehingga mereka bisa menjalani isolasi karantina yang efektif. Ini yang akan efektif memutus transmisi," urai dia.

"Meskipun misalnya testingnya tidak dengan PCR, tidak masalah. Dengan rapid test antigen digalakkan," tandas dia. [eko]

Baca juga:
Pemprov Jabar Siapkan Sejumlah Faskes untuk Antisipasi Lonjakan Omicron
Antisipasi Lonjakan Covid-19, Persi Imbau Tenaga Kesehatan Tak Ajukan Cuti
Ini Lokasi Vaksinasi Booster di Jakarta
Ada WNA Inggris di Medan Positif Omicron, Dinkes Perketat Pintu Masuk Sumut
Kasus Omicron Meningkat, Epidemiolog Sarankan PTM dan WFO Ditunda
PM Selandia Baru Jacinda Ardern Batalkan Pernikahan karena Maraknya Kasus Omicron

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini