Enam asosiasi internet kecam iklan terselubung Telkomsel dan XL

Rabu, 24 September 2014 14:45 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Enam asosiasi internet kecam iklan terselubung Telkomsel dan XL Intrusive ads. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Munculnya intrusive advertising atau iklan terselubung pada situs internet yang dilakukan operator Telkomsel dan XL Axiata dianggap sangat mengganggu pengguna dan pemilik website. Enam asosiasi internet serempak mengecam adanya intrusive advertising tersebut.

Enam asosiasi itu adalah Indonesian E-comerce Association (IdEA), Indonesian Digital Association (IDA), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), Association of Asia Pacific Advertaising Media (AAPAM) dan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I).

Ketua umum IdEA, Daniel Tumiwa menjelaskan adanya iklan terselubung itu selain mengganggu, pemilik situs juga dirugikan. Dia bahkan menyebut hal itu merupakan pembajakan.

"Sangat mengganggu bisnis kita di dunia internet. Menurut kami sesi ini dibajak," kata Daniel saat jumpa pers di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Rabu (24/9).

Daniel menambahkan, meski sudah mendapat lebih 15 ribu tanda tangan dalam petisi di change.org dan 84 situs berbadan hukum menolak, namun belum ada tanggapan nyata dari Telkomsel dan XL Axiata.

"Kami pernah menanyakan tentang ini (kepada Telkomsel dan XL), jawabannya 'terserah, kita memasang di layanan kita'," ujarnya.

Selain itu, Ketua Umum IDA, Edi Taslim mengatakan, adanya iklan pengganggu ini perlu diketahui masyarakat luas. Terlebih, pihaknya yang beranggotakan 16 perusahaan media online tak mampu lagi berbuat banyak.

"Kami merasa ini harus diekspose ke masyarakat. Sebagai pemilik media online kami tak bisa mengontrol lagi (iklan terselubung)," kata Edi.

Senada dengan dua rekannya, Sekretaris Jenderal APJII, Sapto Anggoro menuding bahwa Telkomsel dan XL Axiata telah melanggar tata kelola internet. Sebab, mereka telah melakukan kecurangan dalam memasang iklan terselubungnya.

"APJII melihat ini pelanggaran etika tata kelola internet. Secara etis, XL dan Telkom tidak dibenarkan. Bahwa mereka telah melakukan kecenderungan kecurangan hingga kejahatan," jelas Sapto yang juga COO merdeka.com tersebut.

Sapto menambahkan, banyak kerugian yang dialami pengguna fasilitas internet. Selain itu, para pemilik konten sudah pasti mengalami kerugian.

"Pertama yang dirugikan adalah pengguna, karena telah membayar paketnya. Tapi pas sampai rumahnya (situs yang dituju) ditutup iklan (intrusive advertising). Itu tentu merugikan orang yang sudah bayar. Kedua, yakni pemilik konten. Ini kan seperti dia (pemilik konten) kan memiliki rumah, terus ada orang sudah ketok pintu kok nggak masuk-masuk, ternyata terhalang iklan. Rugi kan," terangnya.

Sapto bahkan menyebut dari iklan terselubung itu, Telkomsel dan XL telah mengambil keuntungan tanpa mengeluarkan modal. "Lebih jahat lagi, itu ada nilai ekonomisnya. Itu kan sama saja kaya ngutil (mencuri)," ungkapnya.

Keseluruhan asosiasi itu juga telah mendesak pemerintah untuk segera meregulasi iklan terselubung itu. Sebab, hal itu demi terciptanya iklim usaha yang kondusif.

Intrusive advertising merupakan iklan tanpa kejelasan. Biasanya hal itu dapat dilihat saat membuka internet via smartphone. Iklan itu biasanya berbentuk di banner atas situs (off deck) atau bahkan full satu halaman di halaman depan (Interstitial Ads). [war]

Topik berita Terkait:
  1. Internet
  2. Telkomsel
  3. XL
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini