Ekonom Paparkan Penyebab Neraca Perdagangan Indonesia Terus Terpuruk
Merdeka.com - Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengatakan, neraca dagang Indonesia kembali mengalami defisit. Penyebabnya, karena Indonesia saat ini tidak memiliki ekspor andalan. Akibatnya, pemerintah tidak bisa menahan defisit.
Dia mengungkap, pada bulan November ini Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca dagang mencapai US$ 2,05 miliar, terparah sejak 2013. Kondisi ini semakin memperhatinkan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
"Pertama defisit itu utamanya karena ekspor kita melemah, kita tidak punya ekspor andalan, orde baru kita punya komoditas ekspor andalan dan dikawal oleh pemerintah dan itu berhasil (seperti) playwood, tekstil kita jalan. (Sekarang) Ini nggak ada,” kata Fuad dalam diskusi bertajuk 'Menilik Defisit Neraca Perdagangan, Pajak dan Kondisi Bisnis Indonesia' di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya 35, Jakarta Selatan, Rabu (19/12).
Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi ini menilai kebijakan ekonomi untuk menaikkan nilai ekspor serta valuta asing tak dijalankan dengan baik, serta tidak dikawal seperti pada pemerintahan sebelumnya. Sehingga, kata dia, desifit neraca perdagangan tak terbantahkan.
"Paket kebijakan ekonomi yang sudah bertumpuk itu, itu satu meningkatkan ekspor, satu valuta asing, cuma ini semua di atas kertas, diunumin sendiri enggak jalan," ucap dia.
Politikus Partai Gerindra itu menambahkan, kebijakan penerapan B20 atau pencampuran 20 persen minyak sawit ke solar tidak berdampak besar. Bahkan, biang kerok defisit dagang saat ini paling besar disumbang pada sektor migas. Yaitu, kata Fuad, impor migas per-November masih bengkak dan menyumbang defisit US$ 1,5 miliar. Sepanjang bulan Januari-November pun tercatat defisit sudah mencapai US$ 12,15 miliar atau setara Rp 176 triliun.
"Untuk mengurangi neraca perdagangan makanya ada B20, itu enggak jalan, angka itu tidak pengaruh B20, kalau dikasih B20 rusak mesin kita, itu memang untuk bantu (harga) sawit yang jatuh," ujar Fuad.
Menurutnya, migas selalu menjadi biang kerok defisit neraca perdagangan dikarenakan pada saat ini masih kurang eksplorasi. Sehingga pemerintah selalu melakukan impor Bahan Bakar Minyak (BBM)
"Defisit neraca perdagangan itu berkaitan dengan inpor BBM, kita konsumsi kurang 1,6 juta barel, produksi kita 750 ribu barel, orde baru kita kebalik makanya jadi anggota opec, sekarang kebalik, ini sesuatu yang salah, menurut ahli minyak anda masih banyak (sumber minyak), berarti ada kebijakan eksplorasi yang tidak menenai," paparnya.
Lebih lanjut, perilaku koruptif dari pejabat juga menghambat kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah.
"Karena penyakit korupsi, menegakan pemerataan tidak bisa, melakukan perbaikan ekspor tidak bisa, impor ditekan tidak bisa," tandas Fuad.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya