Dosen UNS Sulap Tanah Liat Jadi Hand Sanitizer Alami
Merdeka.com - Prof Pranoto, Guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo berhasil mengembangkan tanah liat menjadi hand sanitizer alami. Tanah liat tersebut dibentuk seperti gerabah tempayan atau kendi berukuran besar dan diberi nama Gerabah Hanitizer.
"Tanah liat kita buat menjadi gerabah berbentuk tempayan atau kendi besar. Proses pembuatannya tidak ada yang khusus," ujar Pranoto saat ditemui di sela acara Pameran Produk Siap Komersial di halaman Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UNS Jumat (19/3).
Hanya saja, dikatakannya, yang membuatnya istimewa adalah jenis tanah liat yang digunakan. Yakni berjenis alofan yang mengandung silikat (Si) dan aluminat (Al) tinggi.
"Jadi kandungan Al dan Si-nya memang harus tinggi. Kalau tanah liat biasa itu rendah. Alofat ini di atas 50 persen. Kalau tinggi bisa menyerap, bisa mematikan virus dan bakteri," terang Pranoto
Menurut dia, tanah liat jenis alofat biasa ditemukan di gunung vulkanik. Namun beberapa daerah di dataran rendah juga bisa ditemukan. Ia mengaku sudah memulai penelitian sejak 2013 dan terus mengembangkan untuk sejumlah produk.
"Ini lempung yang ada di gunung vulkanik ketinggian 1.000 meter lebih, kami pernah teliti di Gunung Lawu, Sumbing, Papandayan, Arjuno, Wilis. Tapi di ada juga kita temukan di Mojolaban (Sukoharjo), Bayat (Klaten)," jelasnya.
Untuk cara kerjanya, lanjut dia, diawali dengan membilas gerabah dengan air bersih sebanyak tiga kali. Kemudian memasukkan air bersih dan mendiamkannya selama 30-60 menit di dalam gerabah. Air tersebut bisa digunakan sebagai pencuci tangan tanpa sabun.
"Tidak perlu pakai sabun. Air ini mengandung Ph basa, lebih dari 11. Kami sudah pernah teliti dengan air Kali Pepe, Bengawan Solo, Kali Jenes. Tadinya ada bakteri e-colinya, kemudian keluar tidak ada bakterinya," katanya.
Selain untuk hand sanitizer, Pranoto menyebut gerabah buatannya juga bisa digunakan untuk menyimpan air minum. Air yang sudah masak akan memiliki manfaat lebih jika disimpan di dalam gerabah. Pihaknya telah menguji dengan rekannya dari kedokteran, ke masyarakat Ngargoyoso (Karanganyar) yang kena gondok hilang.
"Ada jurnalnya kok, yang pernah dicoba itu untuk penyakit gondok," jelasnya lagi.
Selain dibuat untuk gerabah, tanah liat alofan juga dikembangkan menjadi alat bernama Profita Portabel. Profita merupakan akronim dari Proses Filter Air Alami.
Dengan profita, air kotor dapat difilter dengan tanah liat alofan dan campuran beberapa bahan campuran, seperti karbon aktif. Alat tersebut bisa dimanfaatkan di lokasi banjir.
"Jadi kalau ada air dari banjir yang kotor, ketika disaring dengan alat ini bisa bersih. Sementara hanya bisa diolah menjadi air bersih. Untuk menjadi air minum harus dimasak dulu," pungkas dia.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya