Dosen UMS Temukan Spesies Baru Bakteri dari Rumput Teki di Cemoro Sewu
Merdeka.com - Ambarwati, salah seorang dosen di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), berhasil menemukan spesies baru bakteri Streptomyces. Menurut dia, bakteri tersebut kemudian diajukan namanya sebagai stretomyces cemorosewuensis sp.Nov. Ambarwati mengklaim bakteri itu mempunyai senyawa yang dapat mengatasi resistensi bakteri patogenik terhadap antibiotik.
"Saat ini, resistensi bakteri patogenik terhadap antibiotik yang telah ada sedang menjadi persoalan dunia. Berdasarkan data tahun 2019, lebih dari 2,8 juta infeksi telah resisten terhadap antibiotik di Amerika Serikat dan menyebabkan 35 ribu orang meninggal," ujar Ambarwati di Solo, Senin (24/2).
Fenomena tersebut, dikatakannya, mendorong penelitian untuk mencari sumber antibiotik baru. Salah satu yang menjadi fokus penelitian adalah streptomyces yang dikenal sebagai bakteri yang mampu menghasilkan antibiotik terbanyak, yakni 75 - 80 persen.
Lebih jauh ia mengatakan, Streptomyces cemorosewuensis berdasarkan hasil antiSMASH juga memiliki gen pengkode senyawa bioaktif sebanyak 53 kluster yang dapat menghasilkan antibiotik.
"Saya menemukan bakteri tersebut dari rhizosfer rumput teki yang hidup di kawasan Cemoro Sewu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur," terang Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat itu.
Menurut dia, bakteri tersebut kini sedang dalam proses submit ke National Center for Biotechnology Information (NCBI) untuk mendapatkan accession number. Dalam penelitiannya tersebut, dia menemukan 6 isolat streptomyces yang berpotensi menghasilkan antibiotik. Dari 6 itu berdasarkan sekuen gen 16S rRNA ada dua isolat yang berpotensi sebagai spesies baru.
"Setelah saya lakukan penelitian lanjutan dengan WGS hanya satu isolat yang paling potensial menghasilkan antibiotik dengan spektrum luas dan bahkan mampu berperan sebagai anticandida. Hasil ini, justru mampu mengubah konsep dasar yang selama ini banyak digunakan peneliti di seluruh dunia," terangnya.
Ambarwati menilai, selama ini untuk menentukan status spesies baru, seorang peneliti hanya berdasarkan similaritas gen 16S rRNA. Namun hasil ini menunjukkan bahwa dua isolat dengan indeks similaritas gen 16S rRNA 100 persen ternyata setelah di WGS menunjukkan similaritas hanya 95,31 persen. Jadi masih di bawah standar penentuan spesies baru, yaitu 98,65 persen," jelasnya.
"Artinya, kalau berdasarkan sekuen gen 16S rRNA keduanya adalah satu spesies, tapi dengan WGS keduanya dapat dikatakan sebagai spesies yang berbeda," imbuhnya.
Penentuan spesies baru streptomyces, lanjut dia, juga didasarkan pada hasil analisis menggunakan tiga software. Yaitu, RASH, AntiSMASH, dan BASys. Hasil analisis tiga software tersebut menunjukkan perbedaan nyata antara isolat sebelumnya dengan streptomyces rochei NRRL, B2410 sebagai spesies pembanding.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada promotor saya, Triwibowo Yuwono dan ko promotor, Subagus Wahyuono dan Sukarti Moeljopawiro. Mereka ini yang menyarankan WGS sehingga bisa ditemukan spesies baru ini," tutup Ambarwati.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya