Divonis 8 Tahun Bui, Eks Dirut Keuangan Pertamina Merasa Dizalimi

Senin, 18 Maret 2019 21:57 Reporter : Yunita Amalia
Divonis 8 Tahun Bui, Eks Dirut Keuangan Pertamina Merasa Dizalimi Mantan Direktur Keuangan PT Pertamina, Frederick Siahaan. ©2019 Merdeka.com/Yunita Amalia

Merdeka.com - Mantan Direktur Keuangan PT Pertamina, Frederick Siahaan menyesali vonis 8 tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim Tipikor Jakarta. Fredrick menilai, majelis hakim mengesampingkan segala fakta persidangan dan justru menambahkan fakta baru.

Usai vonis yang dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim Frangki Tambuwun pada pukul 21.30 WIB itu, Frederick langsung menyatakan kekecewaannya. Dengan suara tenang, ia merasa persidangan selama ini tidak berarti.

Majelis hakim menurut Frederick, hanya menyalin dakwaan jaksa penuntut umum. Padahal, imbuhnya, banyak fakta persidangan yang bertolak belakang dari dakwaan jaksa. Seperti tidak adanya persetujuan komisaris dan direksi atas investasi di blok Baster Manta Gummy (BMG) di 2009.

"Saya kira ini sesuatu yang tragis banyak fakta persidangan diabaikan. Dikatakan tidak ada persetujuan padahal dalam persidangan ada (persetujuan). Katanya ada surat dari Citi Bank, padahal Citi Bank tidak pernah ada kirim surat," ujar Fredrick, Senin (18/3).

"Katanya putusan majelis hakim adalah suara Tuhan, tapi yang saya dengar adalah suara zalim, jadi saya mohon maaf persidangan 27 kali, saya, Bayu (Bayu Kristanto, eks Manager Merger Pertamina) bahkan Karen semuanya sia-sia," imbuhnya.

Reaksi kecewa juga ditujukan keluarga Fredrick. Istri Fredrick, pingsan usai mendengar vonis hakim. Keluarga yang menyaksikan persidangan turut menyuarakan kekecewaannya dengan berurai tangis.

Diketahui, Fredrick divonis 8 tahun penjara denda Rp 1 miliar karena dianggap menyalahgunakan wewenang dalam melakukan investasi sehingga negara dirugikan Rp 568 miliar.

Pertamina melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melakukan akuisisi saham sebesar 10 persen terhadap ROC Oil Ltd, untuk menggarap blok BMG. Investasi di blok BMG kemudian ditindaklanjuti tanpa didahului kajian terlebih dahulu oleh Bayu bersama dua terdakwa lainnya yaitu Frederick dan Karen. Hal itu dianggap telah mengabaikan due diligence sebagaimana pedoman investasi Pertamina.

Meski belum ada landasan hukum, April 2009, Karen kemudian memutuskan Pertamina menjalankan investasi tersebut. Namun, bukan mendapat untung, Pertamina justru merugi dari pelaksanaan investasi itu.

Melalui dana yang sudah dikeluarkan setara Rp 568 miliar itu, perusahaan minyak pelat merah itu berharap blok BMG bisa memproduksi minyak hingga sebanyak 812 barrel per hari. Namun, blok BMG hanya dapat bisa menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari.

ROC Ltd, selaku perusahaan yang menawarkan investasi tersebut memutuskan tidak meneruskan, memutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi.

Akhirnya, investasi yang sudah dilakukan Pertamina tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional.

Atas perbuatannya, Frederick divonis telah melanggar Pasal 3 undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 18 ayat 1 huruf b Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. [rnd]

Topik berita Terkait:
  1. Pertamina
  2. Kasus Korupsi
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini