Di Indonesia, profesi dubber dipandang sebelah mata
Merdeka.com - Sejak tahun 1997, pekerjaan dubbing film di Indonesia dianggap sebagai pekerja honorer oleh Menteri Penerangan, R Hartono. Hal itu dikemukakan koordinator dubbing di PT Mutu Entertainment, Adith S Permana (41), yang pernah mengisi suara untuk tayangan telenovela.
"Pekerjaan dubbing film sudah ditetapkan honorer. Karena undang-undangnya belum ada, perusahaan mana pun tal berani mengangkat dubber sebagai karyawan karena akan ditutup oleh pemerintahan," cerita Adith (41) kepada merdeka.com, saat ditemui di kantornya PT Mutu Entertainment di Tomang Asli, Jakarta Barat, (29/13).
Adith menjelaskan, dia bersama teman-temannya pernah berdemo di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) untuk menggugat kebijakan pemerintah yang menyebut pekerja dubbing sebagai honorer. Tapi langkah itu pun tidak memberikan solusi terbaik.
"Zamannya Pak Harto, kami sempat ke DPR demo, jawaban-jawabannya engga enak. Dulu anggota DPR bilang 'usia kalian berapa, kaliankan masih mudah bisa nyari kerja yang lain' sudah begitu saja, enggak ada solusi," beber Adith.
Dia menambahkan, era Soeharto menjadi masa-masa memprihatinkan buat mereka yang berprofesi sebagai dubber. Demi meneruskan hidup, beberapa dubber banting setir menjadi ibu rumah tangga, kolektor, pedagang dan lain-lain.
"Kita sudah seperti orang ngerayap lagi, kaya orang buta gitu. Mau kerja apa usia kita sudah engga pantesan lagi kan. Ada yang kuliah sampe DO sangking sibuk-sibuknya dubbing film," katanya.
Adith meminta pemerintah memperhatikan profesi dubber dan tak memandang sebelah mata. Dia menolak tegas jika dikatakan dubber pekerjaan merusak dan tak mendidik. Sebab, dia yakin masih banyak rakyat Indonesia di pelosok yang belum paham bahasa asing.
"Kita sih sudah bilang kepada pemerintah, bahwa orang-orang di kampung itu banyak engga bisa memahami bahasa Inggris. Tapi kesulitan masa-masa itu jadi banyak yang mundur jadi dubbing," katanya.
Adith berharap, pemerintahan Indonesia lebih menghargai para dubber di Tanah Air. Apalagi, beberapa hasil dubbing film yang pernah dilakoninya justru ditayangkan di negara lain seperti Singapura dan di Malaysia. Meski jarang mendapatkan dubbing film lokal, Adith mengaku tetap cinta pada profesinya ini.
"Harapan terbesar saya semakin semangat lagi. Karena dubber di Indonesia masih punya harapan," pungkasnya.
Laporan: Sukma Alam (mdk/lia)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya