Dampak Virus Corona, Mahasiswa Asal Aceh Minta Dievakuasi dari Wuhan China

Rabu, 29 Januari 2020 17:16 Reporter : Afif
Dampak Virus Corona, Mahasiswa Asal Aceh Minta Dievakuasi dari Wuhan China Suasana di Wuhan China. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah China sejak 23 Januari 2020 telah melarang seluruh warga yang tinggal di Wuhan, Provinsi Hubei keluar rumah. Termasuk mahasiswa asal Aceh yang tinggal di sana, tidak dibenarkan beraktivitas di luar asrama.

Kendati demikian, seorang mahasiswa asal Aceh yang masih berada di Wuhan, Ita mengaku seluruh mahasiswa dalam kondisi sehat. Tetapi otoritas China mulai melarang warga beraktivitas ke luar ruangan.

Dia berharap, pemerintah dapat segera menjemput seluruh mahasiswa yang masih berada di Wuhan. Karena sekarang pusat pertokoan mulai ditutup, jalan-jalan mulai sepi seperti kota mati dan kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok. Pemerintah China juga melarang warga mengkonsumsi air minuman isi ulang. Mereka juga terpaksa harus membeli stok bahan makanan yang banyak.

"Pusat-pusat transportasi juga sudah diblok, tidak ada aktivitas sama sekali masyarakat lebih memilih untuk berdiam diri di rumah masing-masing. Kami harus beli air mineral kemasan. Tidak boleh minum air galon, itu dilarang oleh otoritas China, begitu juga untuk makanan dianjurkan untuk masak sendiri," kata Ita, mahasiswa asal Nagan Raya dalam percakapan via telepon.

Sekarang ada belasan mahasiswa Aceh masih terisolir di Wuhan, pusat kota pertama kali terjangkit virus Corona. Semua memilih menetap di kamar masing-masing untuk menghindari paparan virus Corona. Kota Wuhan sekarang sudah diblok dan tidak dibenarkan siapapun masuk ke kota tersebut.

Kata Ita, perwakilan mahasiswa telah melakukan pertemuan dengan KBRI China dan mahasiswa berharap pemerintah segera mengevakuasi seluruh warga Indonesia keluar dari China.

"Kalau bisa ada jalur khusus balik ke Indonesia. Kita juga enggak mau jadi bahaya di Indonesia. Kita harus pastikan tidak terjangkit virus," ujar Ita.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri mengatakan, Pemerintah Aceh telah mengirim bantuan dana Rp 100 juta selama dua tahap. Dana tersebut dipergunakan untuk kebutuhan mahasiswa Aceh yang masih terisolir, baik di Wuhan maupun di luar kota tersebut.

"Dana itu adalah untuk mereka bertahan, di samping itu kita mendengar untuk ketersediaan logistik tidak jauh dari tempat mereka hanya sekitar 200 meter cukup dengan berjalan kaki," terang Alhudri.

Kata Alhudri, Pemerintah Aceh terus memantau kebutuhan logistik mereka di sana. Apabila diperlukan penambahan dana, pemerintah akan mengirim kembali kepada mahasiswa yang masih berada di Wuhan maupun di kota lain.

"Nanti kita liat lagi, kalau patut kita kirim ya kita kirim lagi," sebutnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Dinsos Aceh, sebut Alhudri, mahasiswa asal Aceh di China ada 62 orang tersebar di beberapa kota. Sedangkan di Wuhan dilaporkan ada 12 orang yang masih terisolir.

"Kami pemerintah Aceh memberi apresiasi kepada adik-adik kita yang sudah berinisiatif untuk kembali, mereka cepat mengambil langkah sebelum terjadi di wilayahnya," sebutnya.

Menyangkut pemulangan seluruhnya, kata Alhudri, harus terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri. Pemerintah Aceh akan terus memohon kepada pemerintah pusat agar dapat segera dievakuasi keluar China.

"Kepada keluarga kita terus berdoa dan bersemangat," tutupnya. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini