Ciptakan lunpia 6 rasa baru, Cik Mey Mey dapat penghargaan
Merdeka.com - Meliani Sugiarto atau yang lebih akrab disapa Cik Mey Mey, mendapatkan penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Lemprid). Dia menciptakan makanan lunpia dengan 6 rasa baru dan berhasil mendapatkan sertifikasi halal dari MUI Semarang.
Cik Mey Mey merupakan generasi kelima pencipta kuliner berbahan dasar rebung itu. Selama dua tahun terakhir, cicit dari pasangan engkong buyutnya Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi pembuat pertama lunpia pada abad XIX tepatnya di tahun 1870 menciptakan varian baru dari lunpia Semarang. Enam rasa yang dibuat adalah plain, LD Crab (lunpia delight rasa kepiting), LD Kajamu (Kambing Jantan Muda), original, LD Fish Kakap dan LD Raja Nusantara (Rasa Jamur Nusantara).
"Yang paling sulit adalah untuk menembus standar MUI untuk mendapatkan sertifikasi halal. Mulai dari pemilihan bahan. Kemudian menentukan bahan dasar daging kambing harus betul-betul dijamin kualitas kambingnya menurut MUI. Misalnya, tempat pembelian kambingpun harus sesuai petunjuk dari MUI. Jadi selama dua tahun itu proses yang paling lama dan sulit," ungkap Cik Mey Mey usai menerima penghargaan dari Lemprid yang diberikan langsung oleh Paulus Pangka di Toko lunpia Delight Jalan Gadjahmada, Kota Semarang, Jawa Tengah Senin (29/2).
Upaya keras Cik Mey Mey untuk mempertahankan dan mengembangkan lunpia tersebut dengan mengembangkan lunpia menjadi enam varian itu ternyata mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Lemprid).
Lemprid pada Sabtu (27/2) malam lalu memberikan penghargaan kepada Cik Mey Mey maupun kepada sang ayahnya Tan Yok Tjai yang membuat terobosan supaya lunpia bisa menjadi kuliner warisan kuliner dunia.
"Selama ini lunpia cuman satu rasa. Tapi di tangan Cik Mey Mey bisa membuat terobosan lunpia Delight supaya bisa mendunia. Oleh karena itu Lemprid memberikan penghargaan kepada Cik Mey Mey sebagai pencipta varian menu lunpia Semarang terbanyak. Saya tahunya enam jenis atau varian ini malah bukan di Kota Semarang. Saya malah tahunya di Kutai Barat, Kalimantan," ungkap Paulus Pangka usai memberikan penghargaan ke Cik Mey Mey.
Lemprid menurut Paulus Pangka juga memberikan penghargaan ke Tan Yok Tjai, ayah Cik Mey Mey menjadi pakar kuliner lunpia di Kota Semarang. Berkat ramuan, olahan yang dilakukan oleh tangan terampil Tan Yok Tjai, Cik Mey Mey bisa menciptakan hidangan enam varian dengan sempurna.
"Salah satu Dinas Pariwisata di Indonesia ngomong ke saya, orang luar Semarang tahu ada enam varian. Tapi orang Semarang sendiri malah banyak yang tidak tahu. Tidak percaya, maka saya buktikan dihadapan kita ada enam varian. Kami juga beri Tan Yok Tjai beri penghargaan sebagai pakar kuliner lunpia smg. Resto lunpia miliki varian menu terbanyak," ungkapnya.
Budayawan Kota Semarang, Prie GS mengungkapkan makanan khas Kota Semarang lunpia merupakan produk akulturasi atau perpaduan budaya di Kota Semarang antara budaya Cina dan Islam. Sebelum muncul lunpia, banyak hasil makanan yang menjadi produk akulturasi kebudayaan yang ada di Indonesia.
Selain lunpia, ada beberapa hasil akulturasi budaya yang muncul karena terjadinya akulturasi budaya di Indonesia sehingga menghasilkan produk kuliner yang menakjubkan. Produk kuliner itu di antaranya makanan berupa kerupuk.
"Barang pertama menakjubkan saya kerupuk. Ditemukan abad XVI. Kerupuk sangat ajaib. Wong Indonesia ra mangan krupuk cangkeme seneb (Orang Indonesia tidak makan kerupuk lidahnya hambar). Kerupuk rendah gizi, tapi reamene rak karuan (kerupuk rendah gizi tapi berisik kalau dimakan). Kerupuk ditemukan oleh budaya kemiskinan. Orang miskin Indonesia kontribusinya luar biasa. Tradisi pertama yang meakjubkan saya kerupuk," terangnya.
Penemuan hasil akulturasi budaya yang kedua adalah terasi. Negara luar negeri tidak berhasil menemukan hasil produk makanan berupa terasi ini. "Orang Indonesia begitu ketemu terasi lidahnya terkutuk. Terasi ini ditemukan dan kita berutang ke Cirebon. Ini lebih tua abad XIV, Cheng Ho datang sebanyak tujuh kali pelayaran, enam kali mampir ke Kota Semarang," ungkapnya.
Kemudian, kedatangan Cheng Ho beserta bala kurawanya dan bergaul dengan masyarakat Semarang, memunculkan produk kuliner hasil budaya yang sampai kini masih bertahan bahkan akan diklaim oleh Malaysia adalah makanan lunpia.
"Abad XVIII kita ketemu akulturasi budaya. Budaya Islam Indonesia, Chengho teko generasi pertama sing nggawe lunpia. Engkong Buyut. Mbok Wasi dan Tjoa Thay Joe. 1870. Generasi pertama pembuat lunpia. Lima generasi sudah hasilkan varian baru secantik ini. Tradisi, akulturasi dan emosi. Bisnis yg sukses rata-rata punya kecerdasan emosi," terangnya.
Walikota Semarang Hendrar Prihadi yang akrab disapa Hendi, menyambut baik terobosan dan inovasi yang dilakukan oleh Cik Mey Mey di bidang kuliner. Pasalnya, tidak semua orang bisa mendapatkan penghargaan dari Lemprid apalagi menyangkut makanan khas Kota Semarang lunpia.
"Tidak semua orang bisa mengapresiasi hasil karya org lain seperti Lemprid. Termasuk yang dilakukan oleh Cik Mey Mey ini. Baru buka disini tapi inovasinya terus ada. Kegiatan CSR yang dia lakukan juga melibatkan banyak wong cilik, dengan tukang becak dan warga sekitar," ungkapnya.
Hendi menilai bisnis kuliner yang dilakukan oleh Cik Mey Mey tidak hanya sekedar murni binis semata. Namun membangun bisnis yang memikirkan budaya warisan Kota Semarang serta dibarengi dengan kepedulian warganya. Sehingga langkah Cik Mey Mey selain perlu didukung juga bisa menjadi contoh para pebisnis-pebisnis lain di Kota Semarang ini.
"Ini tidak hanya bicara bisnis saja tapi bisnis yang bisa membangun warisan budaya kuliner kota Semarang. Kalau bicara lunpia, orang Semarang tahu, lunpia, Wingko Babat dan Bandeng Presto. Kalau kita lihat pergerakan lunpia Delight pergerakan sangat masiv dan berkembang pesat. Atas nama pemerintah kota smg ucapkan terimakasih. Yang baik dipertahankan, yang belum kita perjaungkan," pungkasnya. (mdk/bal)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya