Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita unik di balik celetukan-celetukan gaul

Cerita unik di balik celetukan-celetukan gaul Segede Gaban. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebagian dari Anda mungkin pernah mendengar kalimat atau celetukan seperti 'segede Gaban' atau 'dari Hongkong'. Kalimat seperti yang disebut di atas pastinya tidak muncul begitu saja, pasti terdapat latar belakangnya. Lalu, dari mana dan sejak kapan istilah tersebut berawal mulai digunakan.

Celetukan 'segede Gaban' diperkirakan pertama kali digunakan pada awal 1980'an. Gaban sendiri merupakan serial action yang populer di Jepang yang kemudian merambat ke Indonesia. Saat itu, saking populernya serial yang pertama kali ditayangkan pertama kali pada 1982, membuat Dunia Fantasi (Dufan) menghadirkan patung polisi galaksi itu di taman hiburan terbesar di Indonesia.

Penggunaan celetukan 'segede Gaban' sendiri konon merujuk pada patung Gaban yang memiliki tinggi sekitar lebih dari lima meter yang ada di Dufan. Namun kini patung Gaban sudah tidak ada lagi.

Sementara itu, celetukan 'dari Hongkong' sendiri memiliki beberapa versi. Salah satunya kisah tentang seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang membohongi teman-temannya saat ia menunjukkan sebuah foto kuburan Cina, yang diklaimnya diambil saat dirinya di Hongkong. Namun belakangan diketahui jika foto tersebut diambil di Medan.

Celetukan 'dari Hongkong' kemudian digunakan untuk membantah atau menyanggah pernyataan, data, atau kalimat yang dianggap bohong. Kisah tersebut konon terjadi pada tahun 1970 awal.

Masih banyak celetukan-celetukan yang awalnya hanya berasal dari satu daerah, kemudian populer di daerah lain. Salah satunya kata 'Garing'. Garing sendiri merujuk pada lawakan yang dianggap tidak lucu. Kata 'garing' konon pertama digunakan di Jawa Barat. Karena Jawa Barat memiliki banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, kata 'garing' kemudian menjadi populer.

Selain 'garing' ada kata 'jayus' yang juga berarti sama. Kata ini konon mengacu pada seorang anak di daerah Kemang, Jakarta Selatan bernama Herman. Herman ini merupakan anak dari seorang pelukis di Blok M bernama Jayus Kelana. Karena Herman kerap melontarkan lelucon yang dianggap tidak lucu, maka dirinya kemudian dicap 'jayus'.

(mdk/amn)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP