Cerita Puji Lestari, Penyandang Disabilitas akibat Tabrak Lari

Sabtu, 24 Agustus 2019 21:04 Reporter : Abdul Aziz
Cerita Puji Lestari, Penyandang Disabilitas akibat Tabrak Lari Penyandang Disabilitas Akibat Tabrak Lari. ©2019 Merdeka.com/Abdul Aziz

Merdeka.com - Puji Lestari membuktikan kalau penyandang disabilitas atau difabel bisa mandiri dan melayani masyarakat. Duduk di kursi roda warna hitam, bervelg palang hitam, perempuan 32 tahun ini menyapa siapa saja yang datang ke ruang pendaftaran layanan Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara. Sikapnya ramah. Ia menempatkan diri menjadi teman berbincang pasien yang membutuhkan informasi layanan kesehatan.

Puji mengerti, seseorang yang tengah sakit atau cidera memerlukan perlakuan lembut. Masa silam Puji membuat ia memahami psikologi orang sakit. Lima belas tahun silam, ia menjadi korban tabrak lari. Tulang belakangnya patah berdampak mengganggu fungsi saraf.

Puji keluar masuk meja operasi demi kesembuhan. Ia dihadapkan pada kenyataan pahit, tak lagi dapat menjalani aktivitas selayaknya orang normal karena kakinya lumpuh. Tapi, Puji tak ingin timpas dan kalah oleh kemalangan nasib.

"Saat ini saya masih orientasi bekerja di bagian Humas Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara. Bulan depan menunggu kontrak kerja," katanya pada Merdeka.com, Jum’at (23/8).

Puji bercerita masih mengingat persis kejadian nahas yang menimpanya. Pada Minggu (8/8/2004), ia naik membonceng sepeda motor temannya hendak pulang ke kediamannya di Desa Winong Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Saat itu, ia dan temannya baru berpelesir dari Pantai Ayah, Kabupaten Kebumen. Di jalan area Pasar Ikan Purwonegoro, Kabupaten Banjarnegara, kecelakaan menimpa mereka.

Ketika hendak menyalip, motor yang Puji tumpangi diserempet mobil. Motor jatuh. Dari arah berlawanan melintas mobil. Benturan tak terhindarkan. Pengendara motor meninggal di lokasi. Puji yang membonceng mengalami luka di sekujur tubuh. Sedang, dua mobil tersebut kabur.

"Saya baru sadar ketika mendengar suara sirine mobil patroli polisi," ujar Puji.

Pascakecelakaan, Puji tujuh kali keluar masuk ruang operasi. Mulai dari operasi pasang dan lepas pen lengan kanan, pasang pen tulang belakang, sampai operasi kebocoran sendi dan endoskopi. Ia tak memungkiri, nasib nahas yang ia alami membuatnya didera sedih. Tapi sosok ayahnya yang mendampinginya membuat ia lebih tabah.

Puji berusaha kuat melupakan kejadian pahit itu. Aktivitas sehari hari mulai ia jalani dengan normal. Meski kedua kakinya mati rasa dan tak bisa berdiri sedikitpun.

"Sehari-hari ya belanja masak untuk bapak. Saya tidak mau terlalu merepotkan bapak terus," ujar Puji yang merupakan anak semata wayang ini.

Latar belakang Puji lantas bekerja di RSI Banjarnegara, ia mengaku ditawari langsung oleh Direktur RSI, dr Agus Ujianto Msi Med SpB. Awalnya ia dioperasi langsung oleh dr Agus. Sekitar lima kali, dr Agus pula yang mengontrol perkembangan kesehatan Puji. Keduanya pun sering berbincang. Berujung pada Februari 2019 lalu, dr Agus memberi tawaran ke Puji untuk bekerja di RSI Banjarnegara.

Puji mengiyakan penawaran itu. Namun ia meminta waktu tiga bulan untuk recovery kesehatannya.

"Saya mau berdayakan kamu, bekerja di RSI Banjarnegara. Bersedia apa enggak?" kata Puji mengenang pembicaraan dengan dr Agus.

Untuk berangkat kerja, selama 12 hari pertama Puji diantar dengan mobil sewa. Setelah itu, ia membeli motor bekas yang dimodifikasi dengan penambahan gerobak untuk mempermudah aktivitasnya. Saat ini, Puji terus belajar agar lebih piawai mengendarai kendaraan tersebut.

Direktur RSI Banjarnegara, dr Agus Ujianto mengatakan pihaknya memiliki komitmen untuk memberikan kesempatan bekerja bagi penyandang difabel. "Mereka perlu diberi kepercayaan mampu bekerja sesuai bakat. Gaji pun tidak dibedakan, sesuai spesifikasi jasa dan kompetensi dan masa kerja. Saat ini baru satu penyandang difabel menyesuaikan kebutuhan. Harapan kami bisa mengakomodir difabel lain untuk bekerja," katanya. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini