Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita Nurdin Halid tiga kali tolak jabatan Ketum Golkar

Cerita Nurdin Halid tiga kali tolak jabatan Ketum Golkar Nurdin Halid. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Politisi nasional Partai Golkar Nurdin Halid bakal ditetapkan sebagai calon gubernur Sulawesi Selatan pada 12 Februari mendatang. Berbekal usungan lima partai politik, dia maju berpasangan dengan Aziz Qahhar Mudzakkar.

Jauh sebelum pencalonan, Nurdin Halid mengaku sejak lama berjanji mengabdikan diri untuk Sulsel lewat jabatan gubernur. Komitmen itu terus dipegang, meski beberapa kali diuji.

Salah satu ujian, Nurdin menceritakan, adalah tawaran posisi strategis di lingkaran pusat partai beringin. Dia mengaku bahkan pernah tiga kali ditawari jabatan Ketua Umum Golkar. Seperti yang umum diketahui, Partai Golkar kini dikomandoi Airlangga Hartarto yang juga Menteri Perindustrian.

Tiga kali pula Nurdin menolak tawaran berkuasa di pusat. Baginya, lebih penting menjawab panggilan mengabdi di kampung, membangun kampung halaman. Meski, dia harus rela disebut ‘turun kasta’ dari level nasional.

Nurdin menyebut, pilihan pulang kampung untuk mewujudkan ‘Sulsel Baru’ adalah janji yang diikrarkan kepada rakyat dan Allah SWT. Pantang bagi mantan Ketua Umum PSSI itu melanggar janji, apapun taruhannya.

"Sulsel Baru itu janji saya kepada masyarakat Sulsel untuk membangun kampung dan menata kota. Terlebih, di masa saya terpuruk dulu, saya juga pernah berjanji kepada Allah SWT untuk membuat Sulsel, kampung halaman saya menjadi lebih baik," kata Nurdin, Rabu (7/2).

Dalam berbagai kesempatan, NH -sapaan Nurdin- berulangkali menegaskan Sulsel Baru bukanlah ambisi mengejar kekuasaan dan kekayaan. Sulsel Baru, kata dia panggilan pengabdian. Bersama Aziz, dia bertekad menciptakan Sulsel yang lebih sejahtera dan berkeadilan. Tidak lagi ada ketimpangan ekonomi maupun pembangunan antara desa dan kota.

"Kalau jabatan yang saya kejar, saya tidak akan tanggalkan jabatan ketua harian. Bahkan, jabatan ketua umum di depan mata pun saya tidak terima. Kalau saya terima ya tidak ada munaslub," Nurdin bercerita.

"Tiga kali saya ditawarkan, tapi saya tetap pada kesepakatan awal yakni maju sebagai calon gubernur, meski saya tahu kalau jadi ketua umum, maka punya tiket jadi menteri bahkan wakil presiden," dia menambahkan. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP