Cerita Jenderal TNI Datangi Lahan di Gunung Dikenal Mistis, Kini jadi Sumber Perekonomian Warga

Lahan tersebut merupakan pertanian dicetuskan Kasad Jenderal Maruli Simanjuntak dengan bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia dalam program Agroforestry.

Rahmat Baihaqi
Oleh Rahmat Baihaqi - Reporter
Cerita Jenderal TNI Datangi Lahan di Gunung Dikenal Mistis, Kini jadi Sumber Perekonomian Warga
TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta (merdeka.com)

Matahari mulai menyingsing dari timur, warga mulai berbondong-bondong mendatangi lapangan yang masih bertanahkan merah. Dengan topi camping dan cangkul di pundak, warga menapaki tanah masih becek karena air yang turun dari langit sejak malam hari.

Kehadiran para petani itu ikut diselingi dengan kedatangan sekelompok pria berbadan tegap sambil memakai baju loreng hijau dan memakai sepatu boots.

Nampak mereka nampak sibuk lalu lalang dengan menanam bibit buah-buahan dan sayur-sayuran digundukan tanah yang sudah dilapisi plastik tranparan.

TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta
TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta merdeka.com

Lahan tersebut merupakan lahan pertanian yang dicetuskan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Maruli Simanjuntak dengan bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia dalam program Agroforestry (pemberdayaan lahan jadi tanaman hutan) berlokasi Gunung Hejo Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Padahal Gunung Hejo terkenal akan kisah mistisnya, yaitu terdapat sebuah petilasan konon pernah disinggahi Prabu Siliwangi terletak di atas gunung. Petilasan tersebut berwujud sebuah makam dengan batu terbungkus kain putih.

Cerita mistis lainnya pada saat pembangunan Tol Cipularang yang ingin menembus Gunung Hejo. Pada akhirnya pembangunan tol tersebut terpaksa melingkari gunung karena tidak ada satupun alat berat yang bisa menebang pohon sekitar.

Namun Jenderal TNI bintang empat itu bisa menyulap lahan seluas 200 hektare menjadi lahan perkebunan.

TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta
TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta merdeka.com

Sepenelusuran merdeka.com, lokasi itu telah terpampang pelang besi putih bertuliskan 'Tanah ini telah dikerjasamakan antara TNI AD dengan PT PN (Perkebunan Nusantara) I. Dari pelang tanda peringatan itu, butuh berjalan kaki kurang lebih 200 meter menanjak.

Selama berjalan, di sisi kanan hanya terpampang pepohonan pisang sementara di sisi kiri merupakan lahan perkebunan kosong yang tanahnya masih digarap.

Sesampainya di puncak, terbentang luas lahan perkebunan ratusan hektare yang masih dalam proses penggarapan. Suasana kian sejuk dan tentram dengan pemandangan perbukitan yang tertutup awan jauh dari suara bising kendaraan.

TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta
TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta merdeka.com

Di lokasi, berdiri gubuk kecil bermodalkan kayu dan bambu berdiri sebagai tempat para petani beristirahat sambil menyeruput kopi hitam dan batang rokok di tangannya yang masih menyala. Suasana kian akrab saat anggota TNI ikut nimbrung sambil gelak tawa khas Sunda.

Ada juga beberapa orang lain yang masih bekerja sedang membangun pendopo dan ada pula yang sedang menanam bibit tumbuhan.

Jauh sebelum lahan puluhan hektare menjadi perkebunan, telah lebih dulu lahan perkebunan karet, tapi sudah tidak beroperasi lagi pada 2017 hingga akhirnya ditebang. Bak tanah yang tertidur, lahan itu akhirnya ditumbuhi ilalang yang menjulang tinggi.

Hingga akhirnya lahan itu baru disulap oleh Jenderal Maruli dalam rangka program ketahanan pangan TNI pada Desember 2024.

Di balik dicetuskannya lahan itu, Maruli mengumpulkan warga sekitar sambil menjelaskan dirinya yang ingin membuka lahan perkebunan dan nantinya bisa dikelola oleh masyarakat.

Awalnya warga setempat sempat ragu-ragu kedatangan pasukan loreng dengan satu dan lain hal. Padangan skeptis itu lantas berubah ketika Jenderal TNI itu sampai repot-repot membawa salah seorang anak buhanya bernama Mugiyanto berpangkat Serda yang sudah berpengalaman berkebun sambil memamerkan hasilnya.

"Waktu itu ada seorang dari Magelang namanya pak Mugiyanto. Beliau ternyata ada juga TNI yang jago menanam pohon lengkeng dan hasilnya luar biasa dan dia presentasi, sangat lebih mudah dan lebih mendapat serapan ilmu yang mudah dipahami," kata Ketua Pokja Tani di lahan tersebut, Asep Da'i (52) kepada wartawan.

TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta
TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta merdeka.com

Seketika pandangan warga terhadap pasukan loreng itu langsung berhasil disulap oleh Maruli sehingga bisa disambut antusias warga yang sudah bersusah payah bercocok tanam namun tidak memiliki hasil yang memuaskan.

Sebetulnya, Asep bersama warga sekitar lain juga memiliki latar belakang seorang petani. Namun hasil panen mereka tidak memiliki hasil yang memuaskan dengan metode bercocok tanam ala tahun 45 dari pendahulunya.

"Sehingga kami merasa asing dan mendapat ilmu yang sangat luar biasa, Alhamdulillah dengan suatu keadilan yang dibuktikan oleh beliau mereka sudah bekerja disini tanpa pamrih, pure buat masyarakat jadi kita enjoy," ucap pria paruh baya itu.

"Jadi arahan-arahan mereka sangat dimengerti oleh masyarakat dan itu yg didambakan selama bertahun-tahun, kami butuh pembimbing dalam hal bagaimana tanaman ini tertata rapih," tambah Asep dengan raut wajah yang antusias.

Ketertarikan berkebun sampai diminati kaum milenial sekitar seperti dari 'Santri milenial' dan pemuda 'Karang Taruna' karena metode bercocok tanam yang diajarkan mereka dengan terbilang modern dengan meggandeng tenaga ahli dari Elevarm. Kira-kira sudah ada 25 milenial ikut terjaring mengelola lahan yang dicetus oleh Kasad Maruli.

Hanya saja bukan perkara mudah menjaga agar tanaman itu bisa tetap tumbuh berkembang dengan baik. Saking detailnya tumbuhan tersebut harus dipanen berjarak delapan hingga 10 meter, lalu di antara jarak itu akan ditanam tanaman Tumpang Sari.

Belum lagi untuk menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan, pihak TNI pun telah mengantisipasi hal tersebut.

"Setiap tahap tersebut terdiri dari dua embung, jadi tiap tahap tersebut didikan embung untuk mengantisipasi pada saat musim kemarau. Setelah musim kemarau, nanti tanahnya akan kering, kemudian keras, nanti dialirkan oleh pipa irigasi yang dialirkan ke tiap pohon," kata Lettu Kav Unang Sunarya Danramil 1903 Darangdan.

TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta
TNI Tanam Ribuan Bibit Tanaman di Gunung Hejo Purwakarta merdeka.com

Direktur utama Elevarm, Bayu Syerli menyebut penanaman bibit di lahan tersebut berfokus pada pembudidayaan tanaman keras seperti pohon kelengkeng, alpukat, manggis, durian dan sawo. Sementara di holtikulutranya yaitu cabe, bawang, tomat, dan pete.

Elevarm juga berfokus pada bagaimana cara produktivitas yang tinggi untuk meningkatkan taraf kehidupan dan ekonomi warga sekitar.

Sementara dalam menjaga kualitas tanaman yang baik dia memastikan mulai dari semprotan hingga penggunaan pestisida bisa tercukupi dengan kualitas yang baik.

"Terus terang untuk hortikultura sama untuk buah-buahan itu membutuhkan kualitas pupuk yang maksimal juga. Sehingga kita harapkan ketika panen itu hasilnya juga maksimal," ucap Bayu.

Sekiranya, sudah ada 302 petani yang sudah terjaring mengelola beberapa petak kebun tersebut. Sementara untuk gaji mereka menganut sistem bagi hasil penjulan ke pasar modern hingga tradisional antara petani dengan pihak pengelola guna pembagunan infrastruktur kedepannya.

"Kita berbicara 200 hektare, kalau ini tertanam semua, katakanlah tanaman kerasnya, ya kita bisa bermain di angka puluhan miliar mungkin setahunnya. Itu belum ditambah dengan peternakan, belum ditambah dengan hortikultura," beber dia.

Tidak ingin sampai penjualan di kancah domestik saja. Ditargetkan hasil perkebunan ini bisa diekspor ke beberapa negara.

Namun bukan perkara mudah agar hasil perkebunan bisa tembus ke kancah internasional sebab memiliki standar tersendiri. Sebut saja mulai dari kualitas dari kulit, kadar pestisida yang secara detail harus betul-betul diperhatikan.

"Kita ingin memastikan bahwa yang kita produksi di sini itu sudah memenuhi standar untuk ekspor katakanlah ke Australia, ke China, Korea, Jepang, mereka sangat menyukai itu," pungkas Bayu.

Rekomendasi