Cerita Dokter Spesialis Paru Kewalahan Hadapi PDP Covid-19 Tolak Gunakan Masker

Sabtu, 21 Maret 2020 16:02 Reporter : Erwin Yohanes
Cerita Dokter Spesialis Paru Kewalahan Hadapi PDP Covid-19 Tolak Gunakan Masker Ruang isolasi pasien corona di RSUP Persahabatan. ©2020 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Menjadi garda terdepan dalam merawat pasien yang terinfeksi penyakit virus corona atau covid-19 tentu bukan perkara yang mudah. Apalagi, pekerjaan ini selalu dibayangi dengan kecemasan akan penularan penyakit yang belum ada obatnya. Tentu saja, selain nasib pasien, nasib diri sendiri dan keluarga kini menjadi taruhannya.

Garda terdepan dalam melawan penyakit corona ini salah satunya dijalani oleh dokter spesialis paru konsultan infeksi, dr Soedarsono. Pria berumur 65 tahun ini kini menjadi orang paling penting dalam penanganan teknis pasien positif corona di Jawa Timur.

Bukan hanya karena dirinya menjadi dokter yang merawat langsung sejumlah pasien positif di Rumah Sakit Umum dr Soetomo. Namun, nasib seluruh pasien yang baru bergejala corona dengan status PDP (Pasien Dalam Pengawasan) juga bergantung padanya.

Sebab, sebagai Ketua Tim Pinere (Penyakit Infeksi Emerging dan Remerging) dibawah koordinasi langsung Gubernur Jatim, keputusannya yang akan menjadi rujukan, apakah pasien berstatus PDP ini dapat dinyatakan sembuh atau justru meningkat menjadi positif.

Meski memiliki jabatan penting dalam penanganan wabah corona di Jatim, dr Soedarsono tetap tak melupakan tugasnya menjadi dokter yang harus merawat pasien.

Sebab, di rumah sakit tempatnya berada saat ini, ada beberapa pasien yang sudah berstatus positif corona dan PDP. Bahkan, satu diantaranya pasien positif corona yang ditanganinya kini, ada yang dalam kondisi berat.

"Ada satu pasien sudah memakai alat bantu pernapasan. Ini tergolong sudah berat ya, karena ada penyakit penyertanya. Tapi kondisinya stabil," tukasnya membuka percakapan dengan merdeka.com.

Meski sudah cukup berpengalaman dengan penyakit infeksi, bukan berarti dirinya tidak cemas dalam setiap penanganan pasien corona. Sebab, penyakit yang belum ada obatnya ini, memerlukan perlakuan khusus dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya.

"Disebut cemas sih enggak. Cuma kita memang harus tetap mematuhi aturan atau protokol kesehatan yang cukup ketat. Jadi kewaspadaan memang tetap dijaga setiap saat kita bertugas menangani pasien," katanya.

1 dari 1 halaman

Tangani Pasien PDP Lebih Berat daripada Positif Covid-19

Ia menyebut dalam penanganan pasien yang sudah dinyatakan positif corona, dirinya justru tidak terlalu kuatir jika dibandingkan dengan pasien yang masih berstatus PDP. Dalam penanganan pasien positif corona, biasanya mereka sudah di tempatkan di ruang isolasi khusus dengan protokoler penangan yang sangat ketat.

"Saat melakukan penanganan pasien yang sudah positif, prosedurnya sangat ketat. Itu justru yang menjadikan kita lebih aman. Tapi beda saat kita menangani pasien berstatus PDP," ujarnya.

Ia bercerita, saat melakukan penanganan pada pasien berstatus PDP, kebanyakan pasien masih menganggap remeh penyakit yang dideritanya. Karena sikap itu lah, kerap kali pasien yang dihadapinya, tidak patuh terhadap prosedur perawatan yang telah ditetapkan.

Ia mencontohkan, meski sudah berada di ruangan isolasi, pasien PDP biasanya tidak mau memakai masker dengan benar. Padahal, secara prosedur ia wajib mengenakan masker.

"Ya tahu sendiri-lah mental orang kadang bagaimana. Mereka sudah diberitahu agar pakai masker saat di ruangan, malah tidak dipakai. Masih ada pasien-pasien yang semacam itu. Menghadapi orang-orang semacam ini, baik saya maupun tenaga medis lainnya menjadi was-was. Apalagi umur saya kan sudah tidak muda lagi, sangat rentan tertular," pungkasnya.

Pengalaman merawat pasien 'ndablek' soal kedisiplinan itu lah yang semakin memotivasi dirinya untuk terus menjaga kesehatan. Di masa tuanya ini, ia menyebut menjaga kesehatan adalah yang utama. Bahkan, ia menerapkan protokoler kesehatan yang ketat untuk dirinya sendiri.

"Kalau saya asupan makan diperhatikan, yang penting waktunya makan ya makan, waktunya tidur saya ya harus tidur. Waktu istirahat yang cukup itu juga kunci dari kesehatan. Saya juga memenuhi standar gizi, sayur, buah dan susu serta suplemen vitamin. Olah raga saya lakukan meski hanya 15 menit," jelasnya.

Lalu, bagaimana tanggapan keluarga terkait dengan 'medan perang' yang dihadapinya sebagai dokter saat ini? Ia menyebut, kecemasan dari keluarga itu selalu ada. Namun, sang istri lah yang justru menjadi 'peluit', yang akan selalu menyempritnya jika ada protokoler yang dilanggarnya.

Misalnya, setiap jam makan, ia akan di ingatkan untuk segera makan oleh sang istri. Demikian juga banyaknya perhatian yang datang dari ketiga putrinya. Mereka kerap mengingatkan sang ayah agar selalu menjaga kesehatan.

"Setiap hari saya selalu diingatkan. Biasanya kalau sudah waktunya makan saya akan diingatkan. Mereka ya sempat cemas saat saya menangani kasus corona ini. Namun pada akhirnya mereka dapat memahami bahwa tugas ini merupakan salah satu bentuk pengabdian saya pada masyarakat dan bangsa," ujarnya menutup pembicaraan. [rhm]

Baca juga:
Restoran AS Sumbang 1.000 Boks Makanan untuk Tenaga Medis yang Tangani Pasien Corona
Timor Leste Umumkan Kasus Pertama Positif Covid-19
Pemerintah Sebut Chloroquine Untuk Penyembuhan, Bukan Pencegahan
Pasien Positif Covid-19 di Indonesia Bertambah 81 Orang, Total jadi 450 Kasus
Sekolah Jaringan Islam Terpadu akan Disemprot Disinfektan & Dibagikan Antiseptik

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini