Kesuksesan seseorang hampir selalu bermula dari kegetiran dan pelajaran hidup. Pengalaman ini yang pernah dialami presenter sekaligus jurnalis kondang Andy F Noya.Andy tidak menikmati kesuksesan secara instan. Sejak kecil dia sudah menghadapi kesulitan hidup, termasuk saat dia bersekolah."Saya kuliah enggak mampu beli buku saya ke perpus saya nyalin, kata petugasnya itu ada mesin fotokopi, saya bilang iya bu cuma sedikit kok," cerita Andy di hadapan mahasiswa Paramadina, Jakarta, Rabu (18/3)."Padahal saya berjam-jam di sana karena enggak mampu untuk fotokopi. Betapa berharganya buku zaman itu," kenang Andy lagi.Dia pun tak mau banyak menyulitkan ibunya yang hanya seorang penjahit, apalagi dengan merengek minta dibelikan buku.Suatu kali ibu Andy membelikannya sebuah buku prakarya tipis. Betapa senang hati Andy.
"Gara-gara satu buku itu saya jadi jago buat prakarya," bangga dia.Selain buku, tiap hari ibunya menyisihkan uang untuk membelikan Andy koran."Ibu saya beli koran hanya untuk saya baca padahal susah hidupnya. Menurut dia, ilmu tidak hanya didapat di sekolah tapi di luar sekolah," sambung Andy.Koran dari hasil keringat ibunya ini pun menjadi awal mimpi Andy sebagai jurnalis.
"Sampai di puncak saya menjadi pemred Metro TV merasa nyaman karena mempunyai power," ungkap lelaki berkepala pelontos ini.Namun buku tentang kurcaci mengajarkan satu hal. Bahwa dia harus keluar dari labirin kenyamanan dan mencari tantangan untuk dapat lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain."Saya keluar jadi pemred Metro. Saya kerja sebagai host Kick Andy dan ternyata lebih membuat bahagia dan bermanfaat untuk bangsa dan negara," tegas dia.Andy tak pernah menyesali pilihannya. Kali ini dia bertanya kepada generasi muda
"Maka kita harus bertanya apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia? Kita harus segera mencari lentera jiwa kita," tutupnya.