Brimob Persilakan Jurnalis Naik ke Baracuda Saat Liput Kerusuhan

Sabtu, 26 Oktober 2019 11:31 Reporter : Merdeka
Brimob Persilakan Jurnalis Naik ke Baracuda Saat Liput Kerusuhan Simulasi Brimob tangani demo berujung kerusuhan. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Korps Brimob Polri memberikan simulasi bagi para jurnalis agar tetap aman bertugas dalam meliput aksi unjuk rasa eskalasi besar yang mengarah kepada kerusuhan.

Kabag Ops Korps Brimob Polri Kombes Waris Agono menyampaikan, saat situasi hijau atau tertib dalam aksi unjuk rasa, memang biasanya para jurnalis masih berbaur di seluruh lapisan. Baik itu di kerumunan massa dan petugas kepolisian yang mengamankan.

"Situasi hijau, posisi biasanya jadi satu dengan massa. Tetapi kami sarankan tetap berada di samping dari sisi petugas," tutur Waris di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/10).

Waris menyebut, situasi di lapangan tentu tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Saat mulai memanas dan tidak tertib alias kuning, maka petugas dengan perlengkapan tameng fiber akan maju mengadang demonstran.

"Apabila situasi kuning, sebaiknya teman-teman (jurnalis) tidak di tengah-tengah massa. Ada di sisi kanan kiri petugas. Kami sarankan ada di samping. Jadi tidak di belakang atau depan petugas. Jadi apabila Dalmas Sabhara terpaksa melakukan tindakan, tidak terkena," jelas dia.

Kemudian, lanjutnya, lintas ganti dari satuan Sabhara ke PHH Brimob Polri baru dilakukan saat kondisi berubah menjadi kerusuhan alias merah. Tim Brimob yang turun biasanya mengenakan sejumlah peralatan, salah satunya senapan gas air mata.

"Saat situasi merah, kami harap teman-teman media bisa masuk ke tengah kami dan bahkan bisa naik ke atas baracuda, AWC, ambil gambar di situ itu lebih aman. Minta izin untuk naik dengan identitas. Ini biasanya sudah bukan pendemo lagi, tapi perusuh. Sudah berganti. Kalau orang demo tidak melakukan itu," Waris menandaskan.

1 dari 1 halaman

Prosedur dan Teknis Brimob Polri Tangani Demo Rusuh

Korps Brimob Polri mengadakan simulasi penanganan aksi unjuk rasa dengan eskalasi tinggi yang mengarah kepada kerusuhan. Sejumlah prosedur penanganan pun dipaparkan.

Kabag Ops Korps Brimob Polri Kombes Waris Agono menyampaikan, pada dasarnya Brimob Polri baru diturunkan jika situasi kuning berubah menjadi merah.

"Dilaksanakan dari situasi tidak tertib menjadi melanggar hukum atau dari kuning ke merah. Tidak tertib ini apabila massa sudah tidak mengindahkan imbauan petugas atau melakukan pelemparan, sehingga berpotensi melukai petugas. Negosiasi pun tidak berhasil," tutur Waris.

Dalam prosedur penanganan unjuk rasa dan kerusuhan, situasi paling dasar adalah hijau atau tertib. Kondisi ini hanya ditangani oleh petugas Sabhara Polri dengan tangan kosong.

"Kalau hijau hanya mengenakan pakaian prosedural dan bertopi saja. Kalau kuning mulai lintas ganti dengan petugas membawa tameng fiber. Jika merah, maka lintas ganti ke satuan PHH Brimob," jelas dia.

Lapisan petugas yang turun ke lapangan terus bergantian sesuai situasi di lapangan. Turunnya Brimob Polri pun memiliki prosedur ketat.

"Lintas ganti ini bukan maunya Brimob, tapi maunya massa dan Kasatwil. Massa ini tidak tertib, pengunjuk rasa mulai tidak mengindahkan imbauan Kasatwil dan membawa alat-alat berbahaya," kata Waris.

Dari sini, lanjutnya, Kasatwil yang biasanya dipegang oleh Kapolres atau Kapolda setempat akan berkoordinasi meminta bantuan personel pengamanan.

"Kapolres atau Kapolda kalau menilai ada peningkatan situasi, maka meminta bantuan ke Kapolda atau Kapolri. Kemudian setelah mendapat perintah disiapkan, maka disiapkan personel dan peralatannya," ujarnya.

Usai itu pun, masih ada sejumlah peringatan dan arahan dari Komandan Brimob yang bertugas di tempat. Termasuk gambaran massa, situasi, objek, larangan dan kewajiban, hambatan, rencana tindakan, hingga titik kumpul konsolidasi usai penanganan aksi.

"Larangannya dilarang terpancing emosi, melakukan kekerasan berlebihan, membawa peralatan berlebihan, misal PHH enggak boleh bawa senjata api dan senjata tajam. Maka ini sebelum operasi petugas Brimob diperiksa dulu. Tidak boleh keluar formasi, bersikap arogan, memaki, mengeluarkan kata-kata kotor, mengeluarkan tindakan di luar perintah pimpinan," beber Waris.

Adapun secara teknis, lanjutnya, setelah petugas bertindak maka akan kembali ada imbauan agar massa tidak anarkis dan mau membubarkan diri. Jika imbauan tersebut tidak dihiraukan, upaya pendorongan pun dilakukan.

"Jika mendorong pakai tameng tidak bubar, maka untuk memudahkan mendorong disemprotlah air water canon. Dulu ada penggunaan air yang menyebabkan rasa gatal. Tapi setelah ada protes, maka diganti air biasa dan ini air bersih. Tetapi kalau dengan water canon tidak bubar juga, kita lanjutkan dengan gas air mata. Water canon juga berfungsi memadamkan api," Waris menandaskan.

Reporter: Nanda Perdana Putra [cob]

Baca juga:
Ciptakan Kondisi Aman, Brimob Polda Papua Terus Patroli Malam
Demonstran Terus Serang Gedung BPK Tempat Brimob Bertahan
Pelajar Ajak Brimob Swafoto: Semangat Ya Pak, Jangan Keras-Keras
Anggota Brimob Luka Kena Lemparan Batu saat Bentrok dengan Mahasiswa di Belakang DPR
Kerusuhan Wamena, 6 Anggota Brimob Kritis
Polda Banten Kirim 300 Brimob Bantu Amankan Demonstrasi Mahasiswa di DPR

Topik berita Terkait:
  1. Brimob
  2. Wartawan
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini