BNPT resmikan pusat dakwah moderat di kampung Amrozi
Merdeka.com - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus meningkatkan penanganan terorisme khususnya dalam bidang pencegahan dan deradikalisasi. Sejumlah mantan teroris dirangkul untuk menyadarkan mereka yang masih berpikir radikal.
Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius meresmikan masjid dan TPA Baitul Muttaqien di kampung halaman terpidana mati kasus terorisme bom Bali I, Amrozi, Jumat (21/7). Masjid terletak di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Suhardi mengatakan peresmian masjid dan TPA ini adalah bukti pemerintah untuk hadir di tengah-tengah masyarakat dalam rangka memberikan rasa aman dan nyaman, khususnya dari ancaman bahaya terorisme.
"Negara hadir di tengah masyarakat untuk membantu ke arah yang benar. Semata-mata dalam rangka menjunjung tinggi nilai-nilai humanis dalam menghadapi aksi terorisme," ujar Suhardi, Jumat (21/7).
Secara khusus, mantan Kabareskrim Polri ini menjelaskan bahwa masjid dan TPA yang di-setting sebagai pusat dakwah Islam moderat dan toleran nantinya akan berfungsi sebagai tempat pelurusan paham-paham radikal. Ke depan, dia berharap, tidak ada lagi pemahaman yang salah terkait ajaran-ajaran agama, seperti jihad.
"Tempat Pendidikan alquran dan renovasi masjid dimaksudkan sebagai pelurusan konsep jihad yang salah, karena konsep jihad adalah mengurus keluarga, menuntut ilmu yang baik," katanya.
Pria yang juga pernah menjadi Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas RI ini juga berharap agar masjid yang ia resmikan ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya. "Masjid digunakan umat Islam untuk berbagai keperluan, misalnya kegiatan di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, pemerintahan dan lain-lain."
"Pada masa awal perkembangan Islam, yaitu pada zaman Nabi Muhammad, masjid merupakan pusat pemerintahan, kegiatan pendidikan, kegiatan sosial dan ekonomi," tambah mantan Kapolda Jawa Barat ini.
Mantan Kadiv Humas Polri ini mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pembangunan hingga peresmian pusat dakwah Islam moderat ini. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya mendapatkan bantuan dana dari para donator, sehingga pembangunan masjid dan TPA ini tidak menggunakan dana APBN.
Ia juga menyebut kontribusi besar yang diberikan oleh Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) yang diketuai oleh mantan teroris Ali Fauzi. Baginya, keberadaan yayasan yang didirikan oleh puluhan mantan teroris ini dapat menjadi contoh upaya deradikalisasi yang tengah digalakkan oleh BNPT.
Direktur yayasan Lingkar Perdamaian, Ali Fauzi, mengaku sangat senang diajak BNPT mencegah perkembangan radikalisme dan terorisme. Khususnya di kawasan Lamongan, Jawa Timur, yang dulu sempat dijuluki sebagai tempat kelahiran teroris.
"Sinergi ini penting dilakukan, terutama kepada para mantan teroris dan keluarganya, sebab semua orang mempunyai kesempatan menjadi lebih baik. Tidak ada orang baik yang tidak mempunyai masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak punya masa depan, masing-masing itu punya kesempatan untuk berubah menjadi yang lebih baik," tuturnya.
Ia lantas memberi contoh tentang seorang sahabat Rasul yang dulu pernah berencana akan membunuh, namun akhrinya justru berdiri di sisi Rasul untuk membela agama Allah.
"Kita tahu, orang yang dulu pernah memerangi agama Allah, memerangi Rasulullah, di kemudian hari justru menjadi singa Allah. Maka sekali lagi, berilah kesempatan kepada seseorang untuk mengubah dirinya menjadi orang yang lebih baik," pintanya.
Ali Fauzi pernah terlibat dalam kelompok dan gerakan terorisme. Ia bahkan diakui luas sebagai ahli bom terbaik di kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) yang belum tergantikan hingga saat ini. Namun kini ia telah meninggalkan masa lalu itu dan berbalik melawan paham kekerasan yang dulu pernah ia perjuangkan.
"Harapannya agar nantinya ada lebih banyak Ali Fauzi yang lain, yang bersedia meninggalkan paham dan kelompok terorisme," tandasnya.
Peresmian Masjid Baitul Muttaqien ini dihadiri Menlu, Retno LP Marsudi, anggota Wantimpres, Mayjen (Purn) Sidarto Danu Subroto, Imam besar Masjid Istiqlal, Nassarudin Umar, Tokoh Nasional, Syafii Ma'arif, Ketua Pansus Revisi UU Terorisme, Muhammad Syafii, serta Bupati Lamongan, Fadeli. Para mantan teroris juga melakukan pembacaan Ikrar bersama untuk setia kepada NKRI. (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya