Berharap mobil tak rusak dan habis bensin di tengah hutan
Merdeka.com - Kondisi mobil menjadi syarat mutlak yang harus diperhatikan saat menjelajahi Pontianak menuju Badau. Beratnya medan dengan jalan rusak dan berlobang bak kubangan kerbau bisa membuat mobil 'rontok' di tengah jalan.
Belum lagi ancaman mobil mogok di tengah jalan karena kehabisan bensin. Maklum saja, Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) membatasi pembelian hanya Rp 100 ribu. Dan di sana, banyak SPBU yang tutup karena pasokannya kurang.
Untuk mensiasatinya, para sopir travel biasa disebut taksi biasanya membawa 2 jeriken masing-masing berukuran 35 liter. Kala itu, sopir travel yang membawa penulis baru mengisi di Kabupaten Sekadau, setelah berjalan kurang lebih 8 jam dari Pontianak.
"Kalau dari Pontianak bisa isi penuh. Tapi kalau balik dari Putussibau kan dibatasi. Pas di Sekadau, beli pakai jeriken Rp 175 ribu," kata Indra, salah seorang sopir travel Pontianak-Putussibau.
Sungguh tidak terbayangkan jika saja mobil tiba-tiba mogok. Kalau di Jakarta mudah, tinggal telepon petugas derek atau ke bengkel terdekat. Selesai. Di sana, siapa yang mau menolong dengan kanan dan kiri hutan.
Saat malam mobil yang melintas pun bisa dihitung dengan jari, hanya sesama travel dan bus. Lampu penerangan jalan pun sangat minim. Untuk menghubungi teman, bisa terkendala dengan sinyal handphone yang timbul tenggelam.
Indra menceritakan pengalamannya. Dia sudah hampir 6 tahun bekerja. Pernah suatu malam mobil yang dikemudikannya tiba-tiba saja mogok di daerah Hutan Lindung, Kapus Hulu pada malam hari. Kala itu dia seorang diri.
Dia lalu menghubungi teknisi, beruntung kala itu sinyal sedang bagus. Namun tidak seperti di kota-kota besar yang hanya hitungan menit bisa langsung sampai ke lokasi. Indra harus menunggu hingga matahari terbit.
"Rasa takut pasti ada, saya tidur saja di dalam mobil," kata pria yang sempat jadi sopir taksi di Jakarta itu.
Berangkat dari pengalaman itu, Indra rutin mengecek kondisi mobilnya. Dengan teliti, dia juga selalu memperhatikan kondisi empat ban yang akan menopang selama perjalanan. Service biasanya disesuaikan dengan pemakaian.
"Naik dan turun harus dicek kalau perjalanan seperti itu. Saringan bensin di tangki harus bersih, saringan udara, ban dan air aki pasti diperiksa setiap hari," tuturnya.
Untuk tindak kejahatan, bapak dua anak itu mengaku belum pernah mengalaminya. Menurutnya, meski sepi dan terkesan seram jalur yang dilaluinya sehari-hari cenderung aman.
"Dulu mungkin ada kaya bajing loncat, tapi Alhamdulillah saya belum pernah mengalami," kata Indra yang mengaku sering seorang diri dari Pontianak menuju Putussibau.
Dengan kondisi sekarang ini, Indra berharap agar pemerintah daerah maupun pusat bisa memberi perhatian lebih dengan memperbaiki infrastruktur jalan. Dengan begitu, jarak tempuh akan semakin cepat.
"Ini kan lama di jalan karena banyak jalan rusak, coba kalau bagus bisa lebih cepat," katanya. (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya