Berdayakan eks TKI, Gus Ipul salut dengan UMKM Batik Lesoeng Ponorogo
Merdeka.com - Mampir ke Ponorogo, calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) berkunjung ke sentra batik Lesoeng Ponorogo, Sabtu (21/4). Gus Ipul juga melihat langsung bagaimana proses produksi batik yang terkenal di Bumi Reog ini.
Pemilik batik Lesoeng, M Ali Muchlison (46 tahun) menceritakan, usahanya dirintis sejak 2007. Setelah mundur (resign) sebagai buruh pabrik di Jakarta, Ali kembali ke tempat asal keluarganya di Ponorogo.
"Lalu kita mencari peluang usaha. Nah produksi batik di Ponorogo belum ada," katanya. Akhirnya, ia belajar bagaimana cara membatik di sejumlah daerah, Yogyakarta dan juga Solo. Setelah cukup, ia kembali dan mendirikan usaha rumahan (home industry) batik Lesoeng.
Untuk produksnya, ada tiga jenis batik yang dibuat. Dimulai dari batik printing, cap dan juga batik tulis. Batik ini kemudian dijual di sejumlah daerah dan kota-kota besar, dimulai dari Solo hingga Jakarta dan Surabaya. "Untuk batik tulis sendiri, setidaknya kami mampu memproduksi hingga 10 hingga 14 kodi tiap bulannya," jelas Ali.
Sementara Gus Ipul melihat-lihat berbagai motif batik yang ditampilkan di butiknya. Banyak dari batik Lesoeng ini membawa ciri khas dari Ponorogo, yang menampilkan pola-pola seperti merak juga Reog.
Penasaran dengan tahap produksinya, Gus Ipul juga melihat langsung tahapan pembatikan dimulai dari menggambar, mencanting hingga pewarnaan. Sambil menyapa para pegawai yang sekitar 50-an orang dengan jumlah pembatiknya sendiri 26 orang.
Diketahui Gus Ipul, ternyata sebagian dari pekerjanya merupakan mentan TKI dan TKW di luar negeri. Ada yang pernah bekerja di Taiwan, Hongkong, Arab Saudi, Qatar dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
"Berapa hari untuk produksi batik tulis ini?" tanya Gus Ipul. "Kalau batik tulis agak lama, kurang lebih hingga tiga hari," jawab Ali.
Karena memakan waktu yang cukup lama, harga batik tulis relatif lebih mahal. Untuk batik printing, Ali menyebutkan sekitar Rp 80-100 ribu, batik cap Rp 150-175 ribu. Sementara batik tulis dimulai Rp 125 ribu dan bisa lebih tinggi lagi harganya, tergantung proses dan tingkat kerumitannya.
Gus Ipul mengaku kagum dengan UMKM batik Lesoeng ini. Tidak hanya mengangkat potensi lokal, batik Lesoeng memberdayakan para TKI purna. Bersama Puti Guntur Soejarno, ia akan berkomitmen untuk terus mendukung kehadiran UMKM seperti ini.
"Maka kami berkomitmen untuk memperluas pasarnya dan meningkatkan SDM-nya, dan mendorong adanya berbagai inovasi di sektor ini. Terlebih batik merupakan warisan dunia," tambah Gus Ipul.
Wagub Jatim dua periode ini melihat tantangan yang dihadapi saat ini, ialah bagaimana memenuhi kebutuhan selera pasar. Oleh karena itu bila terpilih, ia akan memperkuat riset pasar. "Sehingga akhirnya, para pengusaha lokal dapat berkompetisi, baik di tingkat nasional maupun di pasar mancanegara," pungkas keponakan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini. (mdk/paw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya