Berapa gaji sopir truk tinja?
Merdeka.com - Munir (42), mengaku tidak punya pilihan lain saat memutuskan menjadi sopir truk tinja. Di tengah kehidupan serba sulit dan kebutuhan pokok melonjak naik, dia pun dengan berat hati bekerja sebagai penyedot dan pengantar tinja di wilayah Jakarta.
"Karena enggak ada pilihan lain, itu saja yang bisa dikerjakan," kata Munir ketika berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (11/6).
Pekerjaan yang telah dijalani sembilan tahun itu, ternyata mampu mempertahankan hidupnya di Jakarta. Konsumennya tidak main-main, mereka berasal dari perusahaan-perusahaan sekitaran ibu kota.
Berbekal mobil tinja, dia siap membersihkan kotoran manusia itu dengan alat sedot khusus. Konsumen biasanya menghubunginya melalui media telepon dan tak lupa dia menyediakan kartu nama untuk memperkenalkan dan memperluas usahanya kepada pelanggan.
Untuk pendapat yang diperoleh tidak menentu tergantung para pelanggan menghubungi ketika mereka butuh. Dalam sekali angkut dengan jarak normal 50 meter, dia memberlakukan harga Rp 500.000.
"Itu berdasarkan selang normal. Kalau sepanjang 100 meter bisa dihargai Rp 700 ribu. Sedangkan panjang selang 200 meter, konsumen diharuskan bayar sekitar 1 jutaan," jelas lelaki yang sering mangkal di Tebet, Jakarta Selatan.
Dalam sehari, mobil yang dapat menampung tinja sebanyak 3.000 liter itu, dapat menarik konsumen paling banyak lima kali dari lokasi pelanggan ke tempat pembuangan Pulogebang, Cakung Jakarta Timur. Ia pun sanggup melayani pelanggan mesti harus bolak-balik wilayah Jakarta.
Menurut Munir, dalam sehari mobil pengangkut dapat mengangkut tinja sebanyak lima kali. Dalam pembagian kerjanya, dia berperan sebagai sopir sedangkan teman lainnya sebaik kenek.
Munir dan rekannya tak dapat menggunakan uang diperoleh mengantar tinja secara langsung. Ada beberapa pengeluaran yang harus dibayarkannya kepada pihak lain. Kendaraan yang digunakan adalah mobil sewaan. Sekitar 10 hari, ia mesti membayar uang sewaan sebesar Rp 3 juta kepada pemilik kendaraan.
"Saya bayar Rp 3 juta untuk sewa mobil, kalau pendapat kurang, ya kendaraannya harus diambil," keluh Munir.
Belum sampai situ, ada pengeluaran lain seperti makan dan biaya pengisian bahan bakar solar. Dalam satu hari, Munir menghabiskan uang Rp 100 ribu sampai 200 ribu untuk membayar BBM. Setelah itu semua dihitung, pendapatan bersih dibagi rata dengan rekan keneknya.
Meskipun usaha kecil, Munir menganggap pengantar tinja miliknya lebih dapat diandalkan ketimbang punya pemerintah daerah DKI Jakarta.
"Yang pasti datang lebih cepat dan kita siap antar 24 jam. Kalau dari Pemda datang bisa 3 hari bahkan seminggu," katanya.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya