Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Beraktivitas di CFD Tanpa Berebut Jalan dengan PKL

Beraktivitas di CFD Tanpa Berebut Jalan dengan PKL CFD. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Bebas beraktivitas tanpa berbagi jalan dengan pedagang kaki lima (PKL) di hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) atau car free day (CFD) sangat dinikmati warga. Semenjak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menertibkan PKL, warga menilai fungsi HBKB telah kembali.

Mila Ningsih, ibu dua anak asal Jakarta Utara itu mengaku nyaman beraktifitas saat HBKB tanpa adanya PKL. Terlebih, ia memiliki bayi berusia 4 bulan. Ia bercerita, saat PKL belum ditertibkan ia dan keluarga enggan berlama-lama di HBKB karena jalan penuh sesak.

"Enggak hanya PKL sebenarnya, kadang ada atraksi-atraksi atau kegiatan donasi yang bikin enggak nyaman. Jadi kayak di pasar," kata Ningsih saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (1/12).

Ningsih juga mengaku kualitas menikmati udara Jakarta pagi hari sembari olahraga bersama keluarga saat HBKB lebih baik ketimbang sebelumnya.

Ningsih yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu juga mengaku penertiban PKL saat HBKB menghemat kantongnya. Bukan tanpa alasan, menurutnya saat PKL berjejer ataupun pedagang jajanan berkeliaran sepanjang Sudirman-Thamrin anak pertama Ningsih berusia 7 tahun kerap meminta jajan.

Minta Disediakan Keran Air Minum

Itu baru sekadar jajanan ringan, Ningsih bercerita pernah menghabiskan Rp 50 ribu hanya untuk membeli air mineral, camilan, dan aksesoris untuk sang anak pertama.

"Belum nanti kalau selesai jalan kita makan berat," kata dia.

Sekarang, kata Ningsih, ia telah mempersiapkan kebutuhan selama beraktifitas di HBKB seperti menyiapkan camilan dan air dari rumah.

"Memang terasa banget bedanya. Lebih tertib aja enggak semrawut," ujarnya.

Meski begitu, Ningsih menyarankan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan keran air minum di beberapa titik dengan jarak tak cukup jauh. Sebab, membawa satu botol untuk bertiga diakuinya tidak cukup.

"Masa kalau mau beli minum harus jauh dulu cari tukang jual minum. Ya maunya begitu (tersedia air minum)," tandasnya.

Sama halnya dengan Ningsih, Yoga, 23 tahun merasa HBKB tanpa PKL sangat nyaman. Meski tidak seutuhnya para pedagang tersebut tidak berjualan saat HBKB. Sebab, Pemprov sejatinya membagi zona bagi PKL.

"Bagus sih, jadi kita free buat sepedaan apalagi sekarang juga ada lajur khususnya," kata Yoga.

Berangkat dari rumah di Jakarta Selatan bersama tiga temannya sejak pukul 6 pagi, Yoga telah menyiapkan segala keperluan, seperti camilan dan air. Beraktifitas menggunakan sepeda saat HBKB rutin dilakukan Yoga setiap minggunya.

Pria pekerja swasta itu sedikit berkelakar, sebelum adanya penataan PKL ia dan kawan kawan mudah merasa capek karena kondisi jalan Sudirman-Thamrin yang semrawut.

"Sekarang mau bolak-balik Sudirman-Thamrin berapa kali juga oke," kata dia.

DKI Tertibkan PKL di CFD

Diketahui Pemprov DKI melakukan penertiban dan penataan bagi PKL saat HBKB berlangsung. Pemprov kemudian membagi lokasi HBKB ke dalam tiga zona.

Pertama, zona merah yakni kawasan dilarang berjualan bagi PKL. Kawasan Sudirman-Thamrin hingga Sarinah menjadi zona merah.

Kedua, zona hijau, kawasan PKL diperbolehkan berjualan. Zona ini meliputi Jalan Maret Ps Baru Timur III, Jalan Galunggung, Jalan Teluk Betung, Jalan Blora, Jalan Sumenep, Jalan Kebon Kacang dan Jalan Sunda.

Terakhir, zona kuning, yaitu zona PKL diperbolehkan berjualan hanya di trotoar. Kawasan ini meliputi Wisma BNI hingga Patung Pemuda. Sementara itu HBKB berdurasi sejak pukul 06.00 hingga 11.00 WIB.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP