Belajar dari Gejolak di Papua, Jangan Sembarangan Sebar Video di Medsos

Rabu, 21 Agustus 2019 17:18 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Belajar dari Gejolak di Papua, Jangan Sembarangan Sebar Video di Medsos demo di Fakfak Papua. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur Eksekutif The Jakarta Institute (TJI) Reza Fahlevi mendesak aparat penegak hukum segera mengusut dalang utama penyebar berita hoaks yang memicu aparat dan ormas bentrok dengan sejumlah mahasiswa asal Papua di Jawa Timur dan sejumlah daerah lainnya.

Levi juga mengapresiasi, respon cepat pemerintah pusat dan daerah serta aparat dalam hal ini TNI-Polri dalam meredam gejolak masyarakat Papua. Ia juga menghimbau kepada seluruh pihak untuk menjaga kondusifitas di Papua.

"Hal itu bisa dilakukan dengan hal yang paling sederhana dimulai dari diri kita sendiri yaitu tidak ikut menyebar berita hoaks yang turut menjadi penyebab kemarahan masyarakat di Papua," ungkap Levi kepada wartawan, Rabu (21/8).

"Gara-gara postingan video penggerebekan di asrama mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya yang sudah diedit dan dibumbui sentimen rasis dan pelecehan terhadap simbol negara, di Papua meledak amarah dari saudara-saudara kita di Bumi Cendrawasih tersebut," sambung Levi.

Dan di sosial media, sambung dia, semakin mengeras pembelahan yang ada karena sudah disusupi kepentingan politik dari pihak-pihak yang hendak merongrong keutuhan NKRI.

"Awalnya kerusuhan yang pecah di Manokwari Papua Barat kemarin kan disebabkan sikap reaksioner massa terkait adanya insiden yang berkenaan dengan mahasiswa Papua di dua daerah di Jatim saat perayaan HUT RI akhir pekan lalu," urai Levi.

Ditambahkan Levi, timbulnya gejolak di Papua Barat, karena adanya konstruksi sosial yang dilakukan oleh oknum tertentu. Dan ada pihak-pihak yang mengembangkan informasi-informasi seperti itu untuk kepentingan mereka sendiri.

"Kami mengapresiasi respon cepat Pemerintah melalui Kepolisian dan TNI yang telah mengkondisikan gejolak di sejumlah daerah di Papua terutama di Manokwari," tambah Levi.

Dia menjelaskan, respon Presiden Jokowi untuk menghimbau kepada masyarakat Papua untuk memaafkan tindakan serta ucapan rasis yang dilakukan sejumlah oknum ormas dan aparat di Jawa Timur patut diapresiasi setinggi-tingginya.

Dan Levi tak lupa memberikan penghargaan yang tinggi atas sikap negarawan dan teladan kepala daerah seperti Gubernur Jatim Ibu Khofifah, Walikota Surabaya Ibu Risma serta Walikota Malang Bapak Sutiaji yang langsung meminta maaf atas kejadian penggrebekan di asrama mahasiswa Papua di Jawa Timur.

"Kata Presiden Jokowi emosi boleh, memaafkan lebih baik. Artinya Presiden memaklumi kemarahan rakyat Papua yang kerap mengalami intimidasi dan sentimen rasis. Tapi di sisi lain Presiden berharap kemarahan tidak diluapkan dengan merusak fasilitas negara dan mengganggu ketertiban umum," jelas Levi.

Selain itu, masih kata Levi, ke depan untuk mengantisipasi kejadian yang sama terulang kembali, ia mengajak untuk seluruh rakyat Indonesia untuk tetap berpegang teguh terhadap prinsip Bhinneka Tunggal Ika. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini