Begini awal mula Nabi Dzulkifli dipanggil Dzulkifli

Senin, 20 Juni 2016 09:18 Reporter : Adriana Megawati
Fenomena Halo Matahari di Venezuela. ©AFP PHOTO/JUAN BARRETO

Merdeka.com - Nabi Dzulkifli merupakan putra Nabi Ayyub, nama asli Nabi Dzulkifli adalah Basyar. Beliau tinggal di negeri Syam yang dipimpin oleh seorang raja yang sudah tua dan tidak memiliki keturunan. Awal mula dia di panggil Dzulkifli ketika suatu hari sang raja sedang mencari penggantinya, dia berjanji akan menyerahkan kekuasaan kepada siapa saja yang mau bertanggung jawab menjalankan amanah umat dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT.

Di hadapan rakyatnya, raja itu berkata, "Siapa di antara kamu sekalian yang sanggup berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam harinya, juga tidak akan marah-marah, kepadanya akan saya serahkan kerajaan ini. Karena saya sudah sangat tua," ucap sang raja kepada rakyatnya.

Lalu berdirilah seorang pemuda bernama Basyar sambil mengangkat tangan kanannya dan berkata, "Hamba sanggup!" tegas Nabi Dzulkifli. Berulang-ulang sang raja bertanya kepada rakyatnya, namun tidak ada yang menjawab selain sang pemuda tadi.

Terpilihlah Basyar menggantikan sang raja, dan namanya pun berubah menjadi Dzulkifli yang berarti, "orang yang sanggup memegang janji".

"Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesunggguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh". (QS Al-Anbya ayat 85-86).

Nabi Dzulkifli memimpin negeri Syam dengan baik, beliau sangat mementingkan urusan rakyatnya daripada urusan dirinya dan keluarganya. Dia memegang teguh janjinya untuk berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari, serta tidak pernah marah-marah.

Dikutip buku Kisah Luar Biasa 25 Nabi & Rasul, karangan Henni Nur'aeni, pada suatu hari, ketika Nabi Dzulkifli hendak tidur datanglah iblis yang menjelma sebagai manusia untuk melaporkan sesuatu hal. Karena sudah larut malam, dan bertepatan dengan waktu istirahat, para pengawal melarang iblis tersebut untuk menemui Nabi Dzulkifli.

Terjadilah keributan antara pengawal dan iblis yang menjelma menjadi manusia, dan mengakibatkan Nabi Dzulkifli keluar dan mempersilahkan tamunya untuk masuk dan menceritakan keluh kesahnya.

Tamu tersebut mencaci maki Nabi Dzulkifli dan berharap dia akan marah. Namun yang diharapkan tamu tersebut hanya sia-sia. Nabi Dzulkifli dengan sabar menghadapi tamunya, beliau sama sekali tidak marah akan makian iblis tersebut. Iblis pun bosan dan pulang karena godaan yang dia tunjukkan kepada Nabi Dzulkifli tidak berhasil sama sekali. Sebelumnya, Nabi Dzulkifli telah mengetahui bahwa tamunya itu adalah iblis yang menjelma sebagai manusia dan berusaha menggodanya.

Suatu ketika terjadi peperangan di negeri Syam antara pengikutnya dengan orang-orang yang durhaka kepada Allah SWT. Nabi Dzulkifli memerintahkan pengikutnya untuk berperang, namun pengikutnya merasa takut terbunuh dan tidak mau berperang karena masih ingin hidup di dunia.

"Jika raja mau memohon kepada Allah untuk menjamin kami dapat tetap hidup, kami bersedia berperang," ucap salah satu pengikut Nabi Dzulkifli. Menghadapi keluh kesah para pengikutnya yang seperti itu, Nabi Dzulkifli tidak marah sama sekali, dan tetap bersabar. Beliau kemudian berdoa kepada Allah seperti yang diharapkan pengikutnya. Dan Allah pun mengabulkan doanya. Kesabaran serta keteguhan hati Nabi Dzulkifli dalam memegang janji, membuat para pengikutnya menghormatinya. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Ramadan 2016
  2. Kisah Nabi
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini