Bau Menyengat Muncul di Sekitar Pabrik Kapas, Warga Sukoharjo Bunyikan Kentongan

Jumat, 11 Oktober 2019 02:00 Reporter : Arie Sunaryo
Bau Menyengat Muncul di Sekitar Pabrik Kapas, Warga Sukoharjo Bunyikan Kentongan PT RUM di Sukoharjo. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Bau menyengat kembali muncul di Desa Celep, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (9/10) malam. Bau tidak sedap tersebut diduga berasal dari instalasi pengolahan limbah pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) di desa tersebut.

Saat munculnya bau, warga sempat membunyikan kentongan, sebagai tanda adanya bahaya. Sebagian warga yang bermukim di belakang pabrik serat rayon itu bahkan membakar sampah dan menyalakan api unggun sebagai penerangan.

Sumar, warga setempat mengatakan, munculnya bau terjadi sekitar pukul 19.20 WIB. Ia melihat seorang warga yang keluar rumah dan menuju pagar belakang PT RUM sambil membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya atau biasa disebut kentong titir.

"Kemudian warga yang lain ikut keluar dan membakar sampah sebagai penerangan di belakang pabrik serat rayon tersebut," ujar Sumar, Kamis (10/10).

Sumar dan warga lainnya menduga bau tersebut berasal dari PT RUM. Warga yakin jika mesin pabrik milik PT Sritex tersebut sedang beroperasi. Sejumlah warga berteriak dan membunyikan kentongan. Mereka meminta agar pihak pabrik mematikan mesin yang diduga sebagai sumber bau tidak sedap. Apalagi bau tersebut mirip dengan bau-bau yang ditimbulkan sebelumnya.

Pada kesempatan sebelumnya, PT RUM mengklaim jika bau menyengat yang meresahkan warga selama ini sudah berhasil diatasi. Perusahaan telah memasang 3 alat pengurai limbah bau (wet srubber) dan mendatangkan mesin H2SO4 Recovery dari China untuk mengatasi limbah.

Juru bicara PT RUM, Bintoro Dibyosaputro pada konferensi pers 29 Maret 2019 silam mengatakan limbah bau selama ini berasal dari sulfur yang digunakan untuk produksi serat rayon. Kondisi limbah di pabrik tersebut, menurutnya, sudah memenuhi syarat ambang batas yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.

"Selama masa sanksi kami menangani pembuangan limbah dengan serius. Jadi tidak hanya berhenti pada slogan saja," katanya.

Menurut dia, limbah udara PT RUM sudah memenuhi syarat ambang batas dengan rata-rata emisi gas hanya 1 kg dari batas yang diperbolehkan sebesar 30 kg gas H2S setiap ton produksi. Untuk pengolahan limbah cair, lanjut dia, sudah menggunakan teknologi paling terkini. Dengan teknologi tersebut, limbah yang dihasilkan sudah memenuhi persyaratan baku dari Kementerian LHK.

"Selain limbah cair, PT RUM juga menghasilkan limbah padat dan udara. Ketiga jenis limbah itu sudah mulai dikelola menggunakan teknologi terkini," katanya lagi.

Sejak awal berdiri, pabrik kapas sintetis tersebut langsung mendapatkan protes dari warga akibat limbah bau yang sangat menyengat. Tak jarang pabrik tersebut digeruduk warga yang melakukan protes. Protes besar-besaran bahkan pernah dilakukan beberapa kali, hingga pemerintah kabupaten memberhentikan operasional pabrik untuk sementara. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Limbah
  2. Pencemaran Lingkungan
  3. Surakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini