Bareskrim bisa buka rekaman Pollycarpus dan Muchdi PR untuk selidiki kasus Munir

Rabu, 5 September 2018 18:54 Reporter : Ahda Bayhaqi
Bareskrim bisa buka rekaman Pollycarpus dan Muchdi PR untuk selidiki kasus Munir Gedung Bareskrim Mabes Polri. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Penggiat HAM, Choirul Anam, menyarankan Kepala Bareskrim Polri Irjen Arief Sulistiyanto untuk menyidik kembali rekaman percakapan pilot pesawat Garuda Pollycarpus dengan Deputi V Badan Intelejen Negara Muchdi Purwoprandjono pada 2004. Hal itu menanggapi perintah Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk membuka kembali penyidikan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib.

Menurut Choirul, Bareskrim tidak bisa berkilah untuk tidak menindaklanjuti perintah tersebut. Rekaman Pollycarpus dan Muchdi PR dinilai bisa jadi pintu masuk penyidikan baru.

"Yang punya rekaman suara itu adalah tim ke polisian Bareskrim, diberikan kepada Kejaksaan. Pasti ada backupnya. Jadi dua institusi ini punya rekaman suara. Rekaman suara yang mengatakan 'iya sudah selesai dilaksanakan'. Cuma gitu aja. Bisa dari situ menindaklanjuti kasus ini," ujar mantan Sekretaris Eksekutif Komite Aksi Solidaritas untuk Munir, Choirul Anam di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/9).

Choirul menjelaskan rekaman tersebut didapat saat penyidikan dilakukan pada masa kepemimpinan Kabareskrim Bambang Hendarso Danuri. Ketika itu, Bareskrim menemukan 41 hubungan telepon antara Pollycarpus dengan Muchdi PR. Rekaman telepon itu mengungkap percakapan diduga Pollycarpus melaporkan pembunuhan Munir kepada Muchdi.

Sehingga, polisi dan kejaksaan tak perlu meributkan mengenai dokumen asli penyidikan Tim Pencari Fakta. Choirul mengatakan Bareskrim bisa melakukan penyidikan kembali tanpa dokumen tersebut. Seperti diketahui dokumen itu telah hilang menurut pemerintah.

Choirul menambahkan, selain dengan rekaman, fakta-fakta persidangan para terpidana kasus pembunuhan Munir pun bisa ditindaklanjuti.

"Kalau kita dasarkan pada putusan pengadilan dari Pollycarpus, Indra Setiawan, Rohaini Aini, bahkan Muchdi, itu ada satu fakta hukum yang menyebutkan pelaku, menyebutkan peristiwa yang bisa ditindaklanjuti," kata Komisioner Komnas HAM itu.

Selain itu, kata Choirul, fakta persidangan eks Dirut Utama Garuda Indra Setiawan juga bisa digunakan untuk menyeret aktor lain dalam kasus pembunuhan Munir. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini