Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Banyuwangi Ditunjuk Sebagai Daerah Penyangga Cabai Rawit Nasional

Banyuwangi Ditunjuk Sebagai Daerah Penyangga Cabai Rawit Nasional Bupati Ipuk Panen Cabai. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Kabupaten Banyuwangi ditunjuk sebagai daerah penyangga komoditas cabai rawit secara nasional oleh Kementerian Pertanian. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan harga cabai rawit di masa mendatang, khususnya saat musim penghujan.

Kabupaten Banyuwangi bersama dengan 2 Kabupaten lain, yakni Kabupaten Sumedang dan kabupaten Bandung ditunjuk sebagai salah satu daerah penyangga komoditas cabai rawit Nasional.

"Ada tiga daerah yang ditunjuk pemerintah pusat sebagai penyangga komoditas cabai nasional. Yakni Kabupaten Banyuwangi, Sumedang, dan Kabupaten Bandung," kata Kabid Holtikultura Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Ilham Juanda, Kamis (25/3/2021).

bupati iipuk panen cabaiBupati Ipuk Panen Cabai ©2021 Merdeka.com

Pemkab Banyuwangi menyiapkan lahan sekitar 40 hektar untuk program penanaman tersebut. Namun sampai saat ini, belum ditentukan dimana kegiatan program tersebut. Rencananya, kegiatan dimulai pada bulan Agustus dan September. Tujuannya, agar saat terjadi lonjakan harga di masa mendatang, pemerintah sudah memiliki stok cabai rawit untuk kegiatan operasi pasar murah.

"Untuk program penyangga ini, disiapkan sekitar 40 hektar. Ini untuk persiapan tanam bulan Agustus dan September, jadi bisa untuk musim panen bulan Desember dan Januari. Nantinya seluruh pembiayaan, mulai dari bibit, perawatan, dan sarana prasarana lainnya akan dibantu oleh Kementerian Pertanian," kata Ilham.

Menurut Ilham, selama ini Banyuwangi memang dikenal sebagai penyuplai kebutuhan cabai rawit untuk sejumlah daerah, khususnya di wilayah Jabodetabek. Hanya saja, pada awal tahun 2021 produksi cabai rawit mengalami penurunan signifikan lantaran intensitas hujan tinggi sejak akhir Tahun 2020.

bupati iipuk panen cabaiBupati Ipuk Panen Cabai ©2021 Merdeka.com

Hal ini dikarenakan tanaman cabai rawit banyak yang rusak lantaran terserang penyakit yang biasa datang saat musim penghujan. Akibatnya, harganya pun meroket tinggi di atas angka Rp 100 ribu per kilogram.

"Rata-rata ini kan tanaman pada bulan Agustus dan September 2020. Mulai belajar berbuah usia 3 sampai 4 bulan. Kalau kondisi normal bisa 20 kali petik. Bisa bertahan 8 sampai 10 bulan. Namun karena intensitas hujan tinggi, resiko serangan hama penyakit juga semakin tinggi. Seperti penyakit cacar dan sebagainya," ungkapnya.

"Akhirnya banyak tanaman yang rusak dan produktivitasnya juga menurun. Kalau sudah seperti ini maka hukum ekonomi berlaku. Ketika permintaan banyak, sementara ketersediaan barang terbatas, maka akan terjadi lonjakan harga. Seperti sekarang sudah di kisaran Rp 110 ribu lebih per kilogramnya," pungkasnya.

bupati iipuk panen cabaiBupati Ipuk Panen Cabai©2021 Merdeka.com

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas menyambut baik program dari Kementerian Pertanian ini. Banyuwangi yang dikenal sebagai sentra cabai. Sangat tepat jika memilih Banyuwangi menjadi penyangga komoditas cabai rawit.

"Tentu kami sangat mengapresiasi. Banyak lahan kami yang bisa ditanam cabai. Seperti Wongsorejo dan beberapa lokasi lainnya. Tentu nanti akan kita sebar dibeberapa lokasi," pungkasnya. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP