Di balik suksesnya industri jamu terbesar di Indonesia, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) menyimpan semangat sosial yang tidak pernah padam. Sido Muncul melalui brand Tolak Angin Anak bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Semarang kembali membuktikan kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak melalui program penanganan stunting di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Bertempat di kawasan Agrowisata Pabrik Sido Muncul, Klepu, Bergas, Rabu (8/10), Direktur Sido Muncul Dr. (H.C.) Irwan Hidayat menyerahkan secara simbolis bantuan senilai Rp360 juta kepada 120 anak balita wasting (gizi kurang) di tiga kecamatan: Ambarawa, Jambu, dan Banyubiru. Setiap anak menerima bantuan tunai sebesar Rp500 ribu per bulan selama enam bulan, yang dikirim langsung ke rekening orang tua penerima manfaat.
“Hari ini kami membantu anak-anak suspect stunting di Kabupaten Semarang. Bantuan diberikan langsung ke orang tua, dan setiap bulan mereka wajib melapor tentang perkembangan berat badan dan kesehatan anak,” jelas Irwan Hidayat.
Program ini merupakan bagian dari komitmen Sido Muncul dalam menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di bidang kesehatan masyarakat. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2023, program serupa telah menjangkau lebih dari 864 anak di berbagai daerah Indonesia, mulai dari Cipete Selatan, Gianyar, Cempaka Putih, Cimahi, Bandung, hingga Jonggol.
Advertisement
Dari Luka Masa Kecil, Tumbuh Empati Tak Terbatas
Bagi Irwan Hidayat, kepedulian terhadap anak-anak yang mengalami gizi buruk bukanlah hal yang lahir dari strategi korporasi semata. Ia merasakan sendiri getirnya tumbuh tanpa cukup gizi.
“Saya ini bisa dibilang mantan stunting,” katanya lirih sambil tersenyum.
Lahir pada tahun 1947, di tengah masa perang dan kekurangan pangan, Irwan kecil tumbuh lemah dan kurus. Ibunya tidak bisa menyusui karena kembali hamil hanya tiga bulan setelah melahirkan, sementara susu formula sulit didapat. Ia hanya diberi minuman kacang hijau, makanan yang kala itu dianggap mewah bagi bayi.
“Saya tumbuh kecil, pendek, kurus. Berat badan saya waktu SMA cuma 46 kilo. Tapi justru dari situ saya belajar arti perjuangan,” tuturnya.
Pengalaman masa kecil dan sakit panjang di usia muda mengajarkannya bahwa kesehatan adalah hak asasi setiap manusia. Sejak sembuh, ia bertekad mengelola Sido Muncul bukan hanya sebagai perusahaan obat tradisional, tetapi juga sebagai perusahaan penyembuh kehidupan.
“Kalau dulu saya tidak sakit, mungkin saya tidak akan sampai di titik ini. Empati itu datang karena pernah merasakan penderitaan,” ucapnya.
Sido Muncul juga menyiapkan tambahan bantuan berupa uang transport sebesar Rp500 ribu yang dibagikan langsung kepada 22 orang tua bersama anak penerima manfaat yang hadir, dengan total bantuan mencapai Rp11 juta.
Advertisement
Sinergi Bersama Pemerintah: Turunkan Angka Stunting Hingga 50 Persen
Kepedulian Sido Muncul tidak berdiri sendiri. Pemerintah Kabupaten Semarang yang hadir di acara ini menyambut baik kolaborasi ini, yang dinilai mampu mempercepat penurunan angka stunting di wilayah mereka.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Irwan Hidayat dan Sido Muncul. Bantuan ini sangat membantu pemerintah dalam menurunkan angka stunting,” ujar Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha, SH., MH.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, angka prevalensi stunting hingga September 2024 telah turun menjadi 3,1 persen, menempatkan Kabupaten Semarang kini menjadi wilayah dengan angka stunting terendah kedua di Jawa Tengah.
Bupati Ngesti mengatakan jumlah anak stunting kini ada sekitar 1.835 anak, dari sebelumnya 3.600 anak, atau turun hampir 50 persen.
“Kami akan terus bersinergi dengan sektor swasta, termasuk Sido Muncul, agar ke depan Kabupaten Semarang bisa mencapai zero stunting,” tegas Ngesti.
Pemerintah daerah juga meluncurkan program makan bergizi gratis serta edukasi gizi untuk calon pengantin dan ibu hamil sebuah langkah strategis agar penurunan angka stunting berlangsung berkelanjutan.
Bupati juga menyoroti aspek pemberdayaan ekonomi yang dibawa Sido Muncul ke wilayahnya.
“Selain memberikan bantuan gizi, Sido Muncul juga membuka banyak lapangan kerja dan berkontribusi bagi ekonomi masyarakat sekitar. Jadi dampaknya bukan hanya pada kesehatan, tapi juga kesejahteraan,” ujarnya.
Advertisement
Harapan dari Lapangan: Bantuan yang Mengubah Kehidupan
Di tengah acara, beberapa penerima bantuan tampak haru.
Ali Mustafa, seorang petani dari Desa Gondoriyo, Jambu, mengatakan bahwa bantuan dari Sido Muncul sangat berarti untuk keluarganya. Anak keduanya, Kinanti Wulandari (2 tahun 8 bulan), masih mengalami gizi kurang.
“Anak saya susah makan, beratnya baru 18 kilo padahal usianya hampir tiga tahun. Sekarang bisa beli susu dan lauk bergizi dari bantuan ini. Terima kasih untuk Pak Irwan dan Sido Muncul,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Hal serupa disampaikan Novita, ibu rumah tangga penerima bantuan dari Desa Banyubiru.
“Saya akan pakai uangnya untuk beli daging, telur, sayur, susu, dan buah. Sangat membantu untuk memenuhi gizi anak saya yang sedang pemulihan,” katanya.
Tak hanya itu ia juga kembali menyampaikan terima kasih karena tidak menduga akan mendapatkan bantuan tambahan berupa ongkos transportasi dan produk-produk Sido Muncul.
Seluruh bantuan ini memberi semangat baru bagi Novita dan keluarganya untuk menambah asupan gizi anak agar memiliki tumbuh kembang yang lebih baik.
Kisah-kisah sederhana itu menggambarkan dampak nyata dari program CSR Sido Muncul.
Bagi mereka, bantuan ini bukan sekadar angka di rekening, tetapi titik balik untuk masa depan anak-anak mereka.
Advertisement
Menyehatkan Tubuh, Menguatkan Bangsa
Program penanganan stunting di Kabupaten Semarang hanyalah salah satu contoh bagaimana Sido Muncul menjalankan visinya untuk menyehatkan masyarakat Indonesia dari akar rumput.
Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, cita-cita Indonesia bebas stunting bukan lagi sebuah impian.