ATVSI: Masyarakat Masih Peduli Cek Informasi Medsos ke Media Mainstream

Jumat, 13 Desember 2019 21:48 Reporter : Merdeka
ATVSI: Masyarakat Masih Peduli Cek Informasi Medsos ke Media Mainstream diskusi atvsi. ©2019 Merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Kecepatan penyebaran informasi lewat media sosial kini semakin masif, sejalan dengan terus berkembangnya teknologi. Media mainstream seperti televisi, radio, dan koran yang dinilai konvensional pun disebut-sebut akan terjun bebas tertinggal.

Sekjen Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) Gilang Iskandar menyampaikan, fenomena yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Masyarakat nyatanya semakin peduli untuk memeriksa kebenaran informasi yang diperoleh di media sosial, lewat media mainstream.

"Bagian penelitian mengatakan kalau sekarang masyarakat menerima berita di media sosial, mereka akan mengkonfirmasi ke media mainstream, salah satunya televisi. Ini informasi yang membahagiakan. Masyarakat peduli," tutur Gilang di Kantor KAHMI, Jakarta Selatan, Jumat (13/12).

1 dari 3 halaman

Gilang merujuk pada penelitian yang dilakukan lembaga riset Nielsen tahun 2019 ini. Ditemukan bahwa, Generasi Z yang lahir di atas tahun 2000 masih sangat menikmati siaran televisi.

"Yang nonton TV masih 96 persen. Yang akses internet juga tinggi, 93 persen. Untuk Radio 32 persen, OOH 53 persen, dan cetak 4 persen," jelas dia.

Sementara Generasi Milenial yang lahir pada tahun 80 hingga 90-an ke atas, sebanyak 93 persen menyaksikan televisi dan penggunaan internet meningkat hingga 72 persen. Adapun generasi yang lahir pada 1980 ke bawah, 96 persen menyaksikan televisi dan 33 persen menggunakan internet.

"Kenapa TV masih diminati? Pertama, karena free to air, gratis dalam mengakses. Kalau internet harus bayar. Tapi kalau ditanya ke pengiklan kenapa masih ke TV karena TV masih memiliki daya penetrasi yang besar. Bisa masuk alam bawah sadar dan masuk ke pikiran orang. Mengubah pola pikir, sikap, pandangan, tindakan, dan perilaku," kata Gilang.

2 dari 3 halaman

Meski begitu, lanjutnya, di tahun 2019 ini presentasi kenaikan pengiklan melalui media modern alias yang menggunakan internet meningkat sangat signifikan.

"Kenaikan signifikan ada di media modern platform digital ini. Kenaikannya 18,2 persen. Sedangkan TV kenaikannya hanya 3,1 persen," ujarnya.

Koordinator Presidium Majelis Nasional KAHMI, Hamdan Zulfa menambahkan, media mainstream memiliki peran penting dalam mengatasi sulitnya kontrol penyebaran informasi di media modern berbasis internet.

"Media memiliki dua posisi, secara strategis bisa dimanfaatkan sebagai kekuatan pertahanan keamanan negara, bisa juga sekaligus menjadi ancaman," beber Hamdan.

3 dari 3 halaman

Di masa sekarang, media bisa menentukan pertahanan dan keamanan suatu bangsa. Tugas warga negara adalah membantu menjaga keutuhan negara, dengan menggunakan alat perang yang sama yaitu media.

"Dengan demikian, tanggung jawab media modern ini adalah tanggung jawab seluruh warga Indonesia. Tentu penanggung jawab utama adalah pemerintah, tapi kita perlu memberikan sokongan," Hamdan menandaskan.

Reporter: Nanda Perdana Putra
Sumber: Liputan6.com [rnd]

Baca juga:
Unggah Foto 2 Wanita Mandi di FB, Putu Eka akan Dibina Polisi
Kerusuhan Papua, Bukti Media Sosial Bak Pisau Bermata Dua
Pembatasan Akses Medsos & WhatsApp Dicabut, Menkominfo Imbau Hapus VPN
Ikuti Akun Twitter Orang Terkaya ini, Anda Bisa Dapat Rp1,4 juta
Akses WhatsApp, Instagram, Facebook Kembali Normal
BI dan OJK Angkat Bicara Soal Keamanan Menggunakan VPN

Topik berita Terkait:
  1. Sosial Media
  2. Hoaks
  3. Berita Hoax
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini