Asa siswa berkebutuhan khusus di ujung pensil
Merdeka.com - Empat siswa berkebutuhan khusus terlihat serius memandang kertas yang ada di mejanya. Sembari membacakan soal ujian yang disediakan, langsung mengisi setiap soal yang disodorkannya.
Kening mereka sesekali berkerut, memperhatikan dengan seksama setiap soal ujian yang sedang dikerjakan. Dari sudut belakang kanan ruangan, seorang siswa harus dipandu oleh seorang pengawas, karena dia berkebutuhan khusus Tuna Daksa.
Sesekali air liur meleleh dari mulutnya. Cepat-cepat siswa berkebutuhan khusus itu membersihkannya, agar tidak membasahi kertas jawaban ujian.
Mereka adalah siswa-siswa Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) Labui, Banda Aceh sedang mengikuti Ujian Nasional (UN) sebagai syarat kelulusan naik ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).
Suasana hening, tiga pengawas mondar-mandir mengawasi empat siswa-siswa berkebutuhan khusus ini. Kipas angin yang terletak di depan tak berhenti berputar, sehingga ruangan sedikit lebih adem.
Tiga siswa Tuna Rungu sejak pukul 10.30 WIB sudah mulai mengerjakan soal. Namun satu siswa berkebutuhan khusus Tuna Daksa masih saja duduk didampingi pengawas. Ternyata dia belum kebagian soal ujian, karena tidak cukup didistribusikan oleh Dinas Pendidikan Aceh.
Meskipun demikian, tak berapa lama satu siswa Tuna Daksa ini bisa mengerjakan soal-soal ujian, lagi-lagi tetap harus didampingi. Tentunya didampingi bukan memberikan jawaban ujian, tetapi membantu segala suatu teknis yang dikerjakan oleh siswa tersebut.
Siswa Tuna Daksa yang terlambat mendapatkan lembar soal ujian, tetap diberikan waktu lebih, sesuai dengan aturan yang berlaku. Waktu untuk siswa tersebut dihitung saat lembar soal berada di depannya.
Kepala SMPLB Yayasan Penyantunan Penyandang Cacat (YPPC), Labui, Sauman mengaku, secara umum pelaksanaan UN di sekolah yang ia pimpin berjalan lancar. Meskipun ada kendala tidak cukup soal ujian bisa ditanganinya dengan baik.
"Tadi untuk soal Tuna Daksa, soal B tak cukup, tetapi sekarang sudah kita tangani dan sudah bisa mengikuti ujian," kata Sauman, Senin (23/4).
Saimun yang juga Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Pendidikan Khusus (MKKSP) Aceh mengaku, sejak pagi telepon genggamnya tak berhenti berdering, beberapa sekolah siswa berkebutuhan khusus di Aceh melaporkan ada kekurangan kertas ujian.
Di Banda Aceh, sekolah yang ia pimpin tak kebagian lembar ujian jenis B untuk Tuna Daksa. Setelah berkoordinasi, ternyata ada sekolah siswa berkebutuhan khusus lainnya yang kertas ujian berlebih.
Sekolah tersebut hanya butuh 1 lembar ujian, ternyata dikirim oleh pihak panitia 5 lembar keras ujian. Kelebihan kertas ujian itulah kemudian diambil satu lembar untuk sekolah yang ia pimpin.
Ternyata kekurangan lembar soal bukan hanya saja dialami sekolah yang ia pimpim. Di Kabupaten Pidie Jaya juga mengalami kekurangan soal ujian satu lembar, lalu ia kembali mendapat laporan di Langsa.
"Yang di Pidie Jaya itu tadi pagi langsung kita kirim," jelasnya.
Sedangkan yang di Langsa, sebutnya, mengalami kekurangan soal ujian sebanyak 5 lembar. Tentunya tak bisa penuhi, karena soal ujian tidak mencukupi, sehingga diambil alternatif untuk memperbanyak soal ujian yang sudah ada dengan membuat surat pernyataan.
"Secara umum semua berjalan lancar pelaksanaan ujian untuk siswa-siswi berkebutuhan khusus di Aceh, untuk di Langsa sudah kita kirim lembar yang tak cukup," jelasnya.
Untuk seluruh Aceh, Sauman memperkirakan ada 50 siswa-siswi berkebutuhan khusus yang mengikuti Ujian Nasional. Saat ini semua bisa dipastikan berjalan dengan lancar.
Adanya kekurangan soal ujian, Sauman memperkirakan ada keselahan teknis saat pengiriman dari Jakarta. Sedangkan teknis distribusi dari Dinas Pendidikan Aceh kecil kemungkinan terjadi kelasahan, karena setiap amplop lembar ujian sudah tertera kode dan nama sekolah.
"Saya perkirakan itu dari Jakarta ada kesalahan teknis waktu kirim," jelasnya.
Meskipun mengalami sedikit kendala teknis. Tak menghalangi siswa-siswi yang berkebutuhan khusus ini untuk mengapai asa. Mereka tetap fokus dan telaten menyelesaikan setiap soal yang disuguhkan, untuk membuktikan mereka mampu setelah belajar selama 3 tahun di tingkat SMPLB.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya