Antusias Publik pada Vaksinasi Covid-19 Diyakini Mampu Tekan Kurva Pandemi
Merdeka.com - Ahli epidemiologi Iche Andriyani Liberty menilai, adanya minat publik menerima vaksinasi Covid-19 mampu mengurangi penambahan kasus harian. Apalagi hasil pendataan angka kurva epidemi tiga bulan terakhir di Sumsel terungkap bahwa kasus harian mencapai di atas seribu kasus.
Meski data harian Covid-19 tinggi, namun angka kesembuhan mencapai 82,32 persen dan persentasenya tinggi jauh di atas rata-rata nasional yang hanya sekitar 60 persen. Namun pandemi tidak akan berhenti jika tidak ada rantai antisipasi dengan kunci utama siap vaksin.
"Dibantu tren mobilitas yang menurun, vaksinasi Covid-19 bisa berjalan baik. Berdasarkan pendataan kurva epidemi, penyebaran terjadi karena mobilitas tinggi," ungkap Iche dalam siaran pers AJI Palembang yang diterima merdeka.com.
AJI Palembang menggelar Outlook Series ke-10 Jurnalis 2021 dengan tema 'Kondisi Sosial Masyarakat Sumsel Pasca Vaksinasi', Jumat (22/1). Seri kali ini mengundang narasumber Plt Kepala Dinas Kesehatan Palembang Fauzia, ahli mikrobiologi Prof Yuwono, Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang Prof Abdullah Idi, dan ahli epidemiologi Dr Iche Andriyani Liberty.
Dengan adanya persentase yang menurun terhadap aktivitas masyarakat, pelaksanaan vaksinasi diharapkan mampu berefek dengan mobilitas publik. Pendataan terakhir, mobilisasi warga Sumsel di luar rumah turun, seperti aktivitas di kafe berkurang 30 persen.
"Artinya imbauan pemerintah pun mendorong publik mengurangi aktivitas," katanya.
Sementara menyoal bagaimana kehadiran vaksin dinilai memunculkan paradigma bisnis dan politik di tengah masyarakat, menurut pengamat sosial Prof Abdullah Idi, sebaiknya pemerintah dan pemangku kepentingan memberikan transparansi.
"Seperti memberikan riwayat pengadaan, anggaran dan bagaimana target sasaran vaksin harus terinformasi jelas," kata dia.
Menanggapi keraguan vaksin di tengah masyarakat, dia menilai hal ini bukan kali pertama yang terjadi. Sebab sebelum ada vaksin Covid-19, sudah banyak rasa tidak percaya dari masyarakat terhadap kehadiran vaksin-vaksin lain.
"Saya mengutip artikel kesehatan, bahkan perbandingan sebelumnya (vaksin lain) di banyak negara tingkat kepercayaannya hanya 50-60 persen yang bersedia divaksin. Ini tantangan pemerintah tentu untuk menumbuhkan kepercayaan," ujarnya.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Palembang Fauzia mengatakan, sebenarnya vaksinasi Covid-19 tidak membuat pandemi hilang begitu saja. Namun kehadiran vaksin membantu memperkuat antibodi dan meningkatkan kekebalan imunitas tubuh.
"Vaksinasi tidak bisa menghalangi masuk kuman, tetapi vaksinasi dalam satu waktu membuat 2/3 kelompok masyarakat dari 270 jiwa melindungi dari terpapar virus," tuturnya.
Sementara itu, ahli mikrobiologi Prof Yuwono menjelaskan, penilaian Covid-19 secara logika harus diketahui bahwa kasus ini tidak lebih besar dari HIV, influenza dan TBC. Namun penderita memiliki angka kematian 0,4 persen kasus aktif bagi pasien dengan kasus berat.
"Angka mutlak secara global, Covid-19 per hari kasus aktif mencapai 112.255 orang," jelasnya.
Sedangkan untuk kasus krisis Covid-19 dilihat berdasarkan tingkat penularan dan bagaimana riwayat perjalanan penyakit. Sebab jika pasien positif namun tanpa gejala penyakit, dikhawatirkan menularkan kepada yang komorbit atau memiliki penyakit penyerta.
"Karena kalau sudah kena ke yang berat, dampaknya akan berat dan sulit masuk fase membaik," tutupnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya