Ancaman Penyakit Rabies di Balik Kuliner Daging Anjing

Kamis, 25 April 2019 13:08 Reporter : Arie Sunaryo
Ancaman Penyakit Rabies di Balik Kuliner Daging Anjing Animal Friends Jogja gelar aksi di Solo. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Konsumsi daging anjing di Kota Solo memprihatinkan. Puluhan warung yang menjual olahan daging anjing semakin menjamur di Kota Bengawan. Warga dengan bebas membuka warung, melayani pembeli tanpa batasan waktu.

Angelina Pane, salah satu perwakilan Animal Friends Jogja menyebut, konsumsi daging anjing di Kota Solo meningkat drastis. Demikian juga jumlah warung yang menjual daging olahan hewan yang biasa dipiara tersebut.

"Kita sudah beberapa kali melakukan investigasi, terakhir pada bulan Januari 2019. Ada peningkatan yang cukup tajam dari sebelumnya. Ada 82 warung yang secara terang-terangan menjual daging anjing di Solo. Dan itu tidak terhitung beberapa puluh lainnya di sekitar Kota Solo yang tidak terang-terangan menyebutkan bahwa ini menjual daging anjing," ujar Angelina di sela aksi menolak daging anjing, depan Balai Kota Solo, Kamis (25/4).

Dari 82 warung tersebut, ia memperkirakan 13.700 anjing lebih yang dikonsumsi di Kota Solo setiap bulannya. Belasan ribu anjing tersebut didatangkan dari beberapa kota di Jawa. Arus masuk anjing dari Tasikmalaya, Garut dan Surabaya ke Kota Solo diperkirakan mencapai 500 ekor.

"Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dari Kota Jogja. Ini sangat mengerikan sekali karena Jawa Barat belum bebas rabies. Ada beberapa kasus rabies yang terdeteksi dari gigi dan anjing positif rabies," katanya.

Jika kondisi ini dibiarkan, ia khawatir Kota Solo yang sudah memiliki status bebas rabies, bukan tidak mungkin akan terjangkit. Agustina mengatakan, anjing-anjing yang dikonsumsi di Solo berasal dari hampir semua ras.

"Menurut saya sangat memprihatinkan, Solo yang katanya berseri, malah seperti jadi kota daging anjing. Karena makin tingginya permintaan dan banyak promosi tentang itu, dan bukan tentang kebudayaannya," terangnya.

Selain dipasok dari luar kota, masyarakat sendiri juga ada yang beternak di halaman rumah. Sesuai investigasi yang ia lakukan, Solo disebutnya sebagai pusat perdagangan anjing di pulau Jawa.

"Setelah kita lakukan investigasi bulan Januari lalu, Solo ini adalah pusat perdagangan di Pulau Jawa. Pulau Jawa ini padat sekali, 50 penduduk Indonesia tinggal di sini. Ini sangat mengerikan sekali, bukan tidak mungkin Solo dan Jawa Tengah akan kehilangan status bebas rabiesnya, kalau perdagangan anjing tidak dihentikan," tandasnya.

Angelina menyampaikan, pihaknya ingin bekerja sama dengan pemerintah kota, provinsi maupun pemerintah pusat untuk dapat menghentikan perdagangan anjing di seluruh Indonesia. Meskipun Indonesia sudah mencanangkan bebas rabies tahun 2020, namun hal tersebut tidak akan terjadi jika perdagangan daging anjing tidak dihentikan.

"Kami sangat ingin bekerja sama dengan pemerintah, untuk mewujudkan Indonesia bebas daging anjing," pungkas Angelina.

Sementara dalam aksi tersebut, Belasan aktivis membentangkan spanduk, poster dan bendera. Spanduk bertuliskan 'Solo Menolak Daging Anjing', 'Indonesia Bebas Rabies 2020', 'Stop Makan Anjing' dan lainnya. Peserta aksi juga membagikan stiker yang berisi ajakan menolak daging anjing. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Daging Anjing
  3. Surakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini