Aliansi Mahasiswa Papua desak pemerintah tutup PT Freeport

Jumat, 3 Maret 2017 13:41 Reporter : Darmadi Sasongko
Aliansi Mahasiswa Papua desak pemerintah tutup PT Freeport Aksi Massa Aliansi Mahasiswa Papua dan santri pondok pesantren di Malang. ©2017 Merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - Massa Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan santri pondok pesantren saling berhadapan di Balai Kota Malang. Keduanya menggelar aksi dengan pengawalan ketat pihak keamanan.

Massa AMP dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua) berjumlah puluhan orang. Mereka membentangkan spanduk dan menyampaikan sejumlah tuntutan di antaranya penutupan Freeport.

Mereka membawa spanduk bertuliskan Aksi Bersama Mendukung Masalah Papua ke Dewan HAM PBB, Usir dan Tutup Freeport. Mereka secara bergantian menyampaikan orasinya.

Juri bicara AMP dan FRI-West Papua, Wilson mengatakan, aksinya mewakili masyarakat Papua atas keresahannya selama ini. Menurut dia, selama ini begitu banyak pelanggaran PT Freeport membuat tanah Papua semakin sengsara.

"Sumber daya alam milik masyarakat Papua, tapi sampai saat ini tidak dapat dinikmati masyarakat Papua," kata Wilson di lokasi aksi, Jumat (3/3).

Aksi juga menuntut penentuan nasib sendiri atas Bangsa West Papua dan hak penentuan nasib sendiri. Pihaknya juga menuntut penuntasan kasus pelanggaran HAM di Papua dan penarikan militer dari tanah West Papua.

Sementara itu, sebanyak enam orang yang menamakan diri santri Pondok Pesantren Yayasan Darul Hikmah Kebonsari Kota Malang. Mereka mengaku mengadang aksi yang dinilai mengancam disintegrasi bangsa itu.

"Aksi kami bermaksud mengadang mereka," kata Widoku Rahman, salah satu santri yang ikut aksi.

Para santri mengaku terus memantau jalannya aksi AMP yang dinilai merorong dan separatis karena tuntutan untuk merdeka. Mereka mengawasi jalannya aksi dari awal hingga akhir.

"Silakan kalau lebih jauh menghubungi pimpinan Pondok kami," tegas Hadi Widiyanto, santri yang lain.

Selama aksi, kelima santri mengibarkan merah putih, selain juga membeberkan bendera panjang di dada. Mereka mengenakan baju koko, sarung putih dan kopyah putih serta bersendal.

Salah satu dari mereka membawa megaphone. Namun hingga aksi selesai tidak digunakan untuk berorasi. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini