Aksi Uha Menyelam Gorong-gorong dan Potret Permasalahan Sampah di Kota Bandung
Merdeka.com - Aksi Uha (42) yang menyelami gorong-gorong kotor untuk mengatasi sumbatan air menjadi oase di tengah permasalahan sampah dan banjir di Kota Bandung. Hal ini menjadi harus menjadi cambuk bagi Pemerintah Kota Bandung membenahi kebijakan yang selama ini belum berjalan maksimal.
Nama Uha melejit akhir-akhir ini setelah videonya menyelam gorong-gorong tersebar di media sosial beberapa hari lalu. Ia menyelam tanpa baju dan tak dilengkapi alat apapun ke gorong-gorong empat meter di Jalan H Syahroni, RW 01/RT 02, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat.
Ia menyelam karena di kawasan tersebut saat itu terjadi genangan air usai hujan turun. Uha mengetahui bahwa masalahnya adalah sumbatan sampah di dalam gorong-gorong.
Aktivitas menyelam itu sudah ia lakukan selama lima tahun terakhir, seringkali saat musim hujan. Biasanya, dia dibantu rekannya bernama Oho yang bertugas memegangi tangga menuju gorong-gorong. Tak lama setelah ia menyelam, air yang semula penuh mendadak surut.
"Saya turun ke bawah (menyelam) karena tahu ada sumbatan. Udah lima tahunan lah saya berenang ke dalam kalau lagi ada banjir. Di dalam sana saya menemukan banyak sampah, ada plastik, pembalut hingga pakaian dalam sama itu pasir (sedimen)," kata dia, Selasa (31/12).
Ia mengaku pertama kali menyelam gorong-gorong karena permintaan warga. Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas itu dilakukan atas inisiatif pribadi.
Semula, ia merasa khawatir karena kualitas air yang buruk, namun lama kelamaan perasaannya itu hilang. Setiap Uha keluar dari gorong-gorong, ia berkelakar rasa air yang kotor itu serupa stroberi.
"Saya enggak (merasa) jijik. Kalau ada air yang masuk ke mulut, saya anggap aja rasa strawberi. Saya juga enggak nyangka bisa kayak gini (viral di media sosial)," ujar pria yang berprofesi sebagai Linmas itu.
Perubahan Perilaku Masyarakat
Meski tak merasa keberatan untuk menyelam, namun Uha pun berharap ada perubahan perilaku dari masyarakat dalam menjaga lingkungan. Setidaknya membuang sampah tidak sembarangan.
Menurutnya, air yang menggenang di lokasi pemukiman setiap musim hujan menjadi indikator pola penanganan sampah belum berjalan dengan baik.
"Jangan nunggu (pemerintah). Kita juga harus mulai tidak buang sampah sembarangan. Itu saja dulu," ujar dia.
Untuk diketahui, produktivitas sampah di kota Bandung mencapai sekira 1.5001.600 ton per hari. Dari jumlah itu, sampah domestik mendominasi sebanyak 65 persen. Kemudian, hanya 1.200 ton sampah yang bisa diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Wali Kota Bandung, Oded M. Danial mengapresiasi ada salah satu warganya yang memiliki respon menanggapi permasalahan di lapangan. Namun, di sisi lain, ia menilai apa yang dilakukan Uha merupakan sindiran bagi aparatur sipil negara (ASN) dalam bekerja.
"Ini jadi cambukan dan pelajaran buat kami dan ASN Kota Bandung," kata dia.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya