Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

400 Ribu Hektare Rawa akan Disulap Jadi Lahan Pertanian Produktif

400 Ribu Hektare Rawa akan Disulap Jadi Lahan Pertanian Produktif Petani Karawang Gunakan Air Limbah Untuk Mengairi Sawah. ©2018 Merdeka.com/Bram Salam

Merdeka.com - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) akan membuka 400 ribu hektare rawa menjadi lahan pertanian produktif. Hal tersebut dilakukan melalui gerakan Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani (Serasi).

Menteri Pertanian, Amran Sulaeman menuturkan, sebagai upaya awal, 400 ribu hektare rawa di enam provinsi yaitu Sumsel, Kalsel, Lampung, Jambi, Sulsel, Kalteng, bakal dimanfaatkan sebagai lahan pertanian produktif.

"Hal ini dilakukan untuk mendorong kesejahteraan petani berbasis koperasi yang dikoorporasikan melalui Serasi," ujar Amran, Minggu (16/12).

Menurut Amran, pemanfaatan lahan rawa menjadi pertanian akan terintegrasi dengan peternakan, perkebunan dan persawahan. Amran mengatakan, Serasi akan dikerjakan bersinergi dengan lembaga pemerintahan lainnya.

Guna mendukung capaian yang baik pemanfaatan rawa untuk pertanian, maka juga didukung dengan pengembangan mekanisasi serta teknologi.

Sekretaris Jenderal Kementan Syukur Iwantoro mengungkapkan, seluas 200 hektare lahan rawa lebak bakal dikembangkan di bawah pengawasan 50 tenaga harian lepas yang melakukan fungsi teknis.

"Pengelolaan semuanya dilakukan dengan teknologi mutakhir. Kendala kondisi tanah seperti masam, PH kurang, kini bukan lagi masalah," ujar Syukur.

Menurut Syukur, seluas 7,9 juta hektare lahan rawa yang ditumbuhi semak belukar berpotensi menjadi kawasan pertanian. Selain itu, ucap Syukur, masih ada 2 juta hektare lahan rawa bokor siap direvitaliasi jadi area pertanian.

Kinerja Kementan

Sementara itu, sepanjang 2018, Kementan mengaku telah sukses melakukan berbagai hal. Kementan membeberkan beberapa hasil kerja yang telah dilakukan secara optimal.

Untuk investasi, Penanaman Modal Asing (PMA) di triwulan II sebesar USD 54,3 ribu dan Penyertaan Modal Dalam Negeri (PMDN) hanya Rp 405,1 juta.

Investasi PMDN di subsektor unggas tercatat masih tinggi yakni 85,1 persen dan di peternakan sapi 14,9 persen. Sementara, investasi PMA di unggas adalah 46,9 persen dan peternakan sapi 50,1 persen.

"Komoditas serta jasa peternakan lain 3,0 persen," ucap Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri.

Kemudian menyoal nilai tukar petani (NTP) dan nilai tukar usaha peternakan (NTUP) sebagai indikator kesejahteraan, Kuntoro menjelaskan, mengalami trend peningkatan, bahkan selama empat tahun terakhir.

Tahun 2014, NTP berada di angka 106,65 dan terus menanjak hingga Oktober 2018 menjadi 107,35. Sedangkan capaian NTUP pada 2014 adalah 111,00 juga ikut meningkat sampai Oktober 2018 menjadi 117,25.

Untuk penyerapan tenaga kerja, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita menyampaikan, terjadi pertumbuhan signifikan di subsektor peternakan.

"Pada Juli 2018, jumlah tenaga kerja subsektor peternakan mencapai 4.831.210 orang atau terjadi peningkatan 27,3 persen dibandingkan tahun 2017," ujar Ketut.

Begitu juga dengan ekspor subsektor peternakan, diperkirakan pada tahun 2018 meningkat sebesar 41,32 persen atau USD 426,650 juta. Tahun lalu, kata Ketut, ekspor subsektor peternakan adalah USD 443,430 juta atau 625,14 persen.

Sedangkan untuk program pemanfaatan lahan rawa dan gelar teknologi (geltek) tanpa merusak lingkungan untuk budidaya padi, palawija serta pemeliharaan ikan, memperoleh apresiasi dari FAO dan para Duta Besar negara sahabat.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP