4 Cerita sederhananya rumah pejabat Indonesia zaman dulu

Senin, 14 Mei 2018 06:31 Reporter : Syifa Hanifah
4 Cerita sederhananya rumah pejabat Indonesia zaman dulu Haji Agus Salim. ©buku seratus tahun haji agus salim/sinar harapan

Merdeka.com - Pejabat kerap kali hidup mewah dengan berbagai fasilitas yang diberikan negara. Namun, ada juga mereka memilih hidup dengan kesederhanaan. Tak jarang mereka selalu menolak kemewahan saat menjabat posisi penting.

Pejabat-pejabat ini diketahui tidak memiliki rumah mewah. Kebanyakan tempat tinggal mereka sederhana. Mereka pun menolak korupsi untuk memperkaya diri sendiri.

Berikut beberapa kisah keteladanan dan kesederhanaan pejabat Indonesia yang patut ditiru, seperti dirangkum merdeka.com:

1 dari 4 halaman

Baharuddin Lopa rumahnya hanya diisi mobil Toyota Kijang

Baharuddin lopa. blogspot.com

Banyak cerita kesederhanaan mantan jaksa agung dan menkum HAM itu. Salah satunya tentang rumahnya yang sangat sederhana di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Tidak ada barang mewah di dalamnya. Semua interiornya sangatlah sederhana.

Begitu pula mobil pribadinya. Dia memiliki mobil Toyota Kijang yang sangat sederhana untuk ukuran seorang pejabat setingkat menteri. Selain sosok yang sederhana Baharuddin Lopa juga dikenal sebagai penegak hukum yang jujur dan tegas.

2 dari 4 halaman

Hoegeng Iman Santosa menyewa sebuah rumah di daerah Menteng

Hoegeng. buku hoegeng/sinar harapan

Hoegeng Iman Santosa adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia yang kisahnya sangat inspiratif. Sebelum menjadi kapolri, Hoegeng pernah menjabat sebagai Menteri Iuran Negara (1965), dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966.

Siapa pun yang membaca kisah Hoegeng pasti menangkap sikap kesederhanaan yang sangat luar biasa. Sampai akhir hayatnya Hoegeng tak punya rumah pribadi. Dia menyewa sebuah rumah di daerah Menteng. Dia menolak tinggal di rumah dinas Kapolri. Juga sebelumnya menolak tinggal di rumah dinas Menteri.

Namun saat Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI, rumah sewa itu dibeli Pemda DKI dan dihadiahkan Ali kepada Hoegeng. Rumah itu kemudian dijual Hoegeng dan dibelikan sebuah rumah di Pesona Khayangan, Depok dan sisa uangnya dibagi rata untuk tiga anaknya.

3 dari 4 halaman

Rumah H Agus Salim di gang sempit

Haji Agus Salim. ©2014 Merdeka.com/repro buku Seratus Tahun Haji Agus Salim

H. Agus Salim gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sempat ditangkap dan diasingkan Belanda. Gigih berbicara di forum internasional demi Indonesia. Cerdik, pintar dan menguasai sedikitnya sembilan bahasa. Dia juga tidak silau oleh harta.

Sikapnya teguh dan bersahaja. Agus Salim bersama Cokroaminoto mengembangkan Sarikat Islam. Dia pernah duduk di Volksraad atau Dewan Rakyat mewakili Sarikat Islam tahun 1921-1924. Di sini Agus Salim dikenal jago berdebat dan berpidato dalam bahasa Belanda. Agus Salim mundur karena mengetahui Belanda tak pernah sungguh-sungguh memperjuangkan nasib pribumi.

Dari awal perkenalan, M Roem sudah terkesan dengan kesederhanaan Agus Salim. Keduanya bertemu tahun 1925. Sebagai tokoh Sarikat Islam dan mantan anggota dewan, seharusnya Agus Salim hidup layak. Tapi tidak, dia tinggal di sebuah gang di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Rumahnya sangat sederhana.

Kemudian Agus Salim pindah ke Gang Toapekong. Lagi-lagi kondisi rumahnya pun tidak layak. Ada meja dan kursi di ruang depan. Sisanya kosong melompong. M Roem merasa terenyuh dengan kondisi keluarga Agus Salim. Setelah itu mereka pindah menumpang di Jatinegara. Tinggal berjejal dalam sebuah kamar. Lalu pindah ke Bogor. Agus Salim juga sempat tinggal di Gang Lontar I.

4 dari 4 halaman

Mohammad Natsir harus menumpang hidup

Mohammad Natsir. ©2012 Merdeka.com

Sebagai seorang yang pernah menjabat menteri penerangan tahun 1946 dan perdana menteri Indonesia tahun 1950-1951, Mohammad Natsir sangat lah sederhana. Bahkan dia kesulitan membeli rumah.

Saat menjadi menteri bertahun-tahun harus menumpang hidup di paviliun sahabat Natsir, Prawoto Mangkusaswito, di kampung Bali, Tanah Abang. Ketika pemerintah RI pindah ke Yogyakarta, Nasir menumpang di paviliun milik keluarga Agus Salim.

Baru tahun 1946 akhir, pemerintah kemudian memberikan rumah dinas untuk Natsir. Inilah untuk pertama kalinya keluarga Natsir tidak perlu menumpang lagi. Rumah itu berada di Jalan Jawa, Jakarta Pusat. [did]

Baca juga:
Daftar para orang terkaya dunia yang sempat menjadi buruh kasar
Keliling panti asuhan dan sekolah demi mendongeng
Inilah sosok paling dikagumi di Indonesia, siapa peringkat pertama?
Ini sosok asli Wak Doyok yang eksis di internet itu, ternyata nyentrik & super tajir!

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini