4 Cerita orang miskin 'dilarang' sakit

Sabtu, 25 Januari 2014 07:07 Reporter : Agib Tanjung
4 Cerita orang miskin 'dilarang' sakit Ilustrasi dirawat di rumah sakit. ©Shutterstock.com/Thawan Supasorn

Merdeka.com - Ungkapan 'Orang miskin dilarang sakit di Indonesia' sudah sejak dulu akrab di telinga kita. Hal itu ternyata ada benarnya.

Mahalnya biaya rumah sakit dan obat membuat rakyat miskin di negara ini tak mampu berobat ke rumah sakit. Kesehatan kini sudah menjadi ladang bagi para kapitalis untuk mencari keuntungan tanpa memikirkan rakyat tak mampu.

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sudjito mengatakan hingga 2014 masih banyak orang miskin yang tak pernah mendapat perawatan kesehatan di rumah sakit. Padahal, negara berkewajiban untuk menjamin keselamatan rakyatnya.

"Masih banyak orang miskin tidak tertampung ketika terjadi komersialisasi kesehatan seperti saat ini. Ini ironis, ini jadi tamparan buat kita dan negara. Negara punya tanggung jawab melindungi, apalagi ada skema kesehatan yang sedang gencar-gencarnya untuk memberikan jaminan kesehatan pada masyarakat. Kalau ini terjadi ini kan namanya bentuk keingkaran," kata Arie kepada merdeka.com, Jumat (24/1).

Berikut empat kisah orang miskin meninggal dunia karena ekonomi sulit seperti dirangkum merdeka.com.

1 dari 4 halaman

Kakek Edi dibuang ambulans dan meninggal dunia di RS

Ilustrasi mayat. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/forestpath

Miris benar nasib kakek renta satu ini. Kakek yang bernama Edi ini ditemukan di sebuah gardu di Sukadanaham, Tanjungkarang Barat, Lampung, dalam kondisi sakit, Selasa (21/1) sore. Pada tangan Kakek Edi ditemukan bekas jarum infus.

Berdasar penuturan warga, Almarhum diturunkan dari ambulans di gardu hingga menemui ajal. Menurut salah seorang tetangga korban, Yeti (48), warga Jagabaya II, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung itu, sehari-harinya kerap dimintai tolong warga untuk membersihkan pekarangan rumah dan membuang sampah. Dari pekerjaan itu, Almarhum mendapat upah yang digunakannya untuk makan sehari-hari.

"Bisa dibilang Almarhum ringan tangan. Dia jadi pesuruh warga, tapi diupah. Nah, Almarhum tidak pernah menolak jika orang mau minta tolong," ujarnya, Jumat (24/1).

Dia mengatakan, selama mendiami garasi rumahnya, Almarhum tidak pernah mengeluh soal kesehatannya. "Almarhum tidak pernah sakit atau pernah ngomong ada keluhan. Entah karena tak mau merepotkan atau gimana," kata dia.

Ketika ditemukan si kakek jompo itu sudah sekarat dan tidak bisa berbicara. Dia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah A Dadi Tjokorodipo oleh Camat Tanjung Karang Barat Nurzuraidawati dan stafnya.

Namun nahas, Rabu (22/1), kakek Edi mengembuskan napas terakhirnya. Selain terdapat bekas jarum infus, pada kakinya juga masih melingkar kain perban.

2 dari 4 halaman

Kisah nestapa bayi Dera

bayi Dera. ©2013 Merdeka.com

Setelah sepekan berjuang melawan penyakitnya, seorang bayi bernama Dera Nur Anggraini akhirnya mengembuskan napas terakhirnya, Sabtu (16/2). Dera meninggal pada pukul 18.00 WIB di Rumah Sakit Zahira, Jakarta Selatan.

Dera yang lahir secara prematur meninggal akibat mengalami masalah dengan pernapasan karena ada kelainan pada kerongkongannya. Karena di rumah sakit tersebut tidak mempunyai alat memadai, dokter di Rumah Sakit Zahira menyarankan agar dirujuk ke rumah sakit lain.

Sebelum Dera meninggal, sang bapak Elias Setya Nugroho sebenarnya sudah berusaha mencari rumah sakit rujukan lain. Ke RSCM, Fatmawati dan Rumah Sakit Harapan Kita, tapi tak ada satu pun rumah sakit itu menerima Dera.

Pasangan Eliyas Setyonugroho (20) dan Lisa Darawati (20) melahirkan anak pertama mereka. Namun sayang, anak pertama mereka lahir dalam kondisi prematur. Dengan kondisi yang lahir prematur, Dera dan Dara seharusnya ditempatkan di incubator. Dera dan Dara dilahirkan 11 Februari lalu di RS Zahira, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Ironisnya, Eliyas ini harus berkorban menginap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) lantaran pada saat itu tak mempunyai Kartu Jakarta Sehat (KJS). Waktu itu Elias hanya membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Elias hanya diminta kembali ke RSCM keesokan harinya. Karena sudah larut malam waktu itu, Elias akhirnya memutuskan tetap menunggu di rumah sakit dan memilih tidur di parkiran rumah sakit.

Eliyas juga sempat bolak-balik pergi menuju RS Harapan Kita, RS Pasar Rebo, RS Harapan Bunda Pasar Rebo. Dari Pasar Rebo, Herman dan Elias kemudian mencari rumah sakit lagi, rumah sakit berikutnya yaitu RS Asri, RS Tria Dipa, RS Budi Asih, RS JMC dan terakhir RS Pusat Pertamina. Namun lagi-lagi, rumah sakit tersebut juga menolak.

3 dari 4 halaman

Kisah pemulung bawa mayat anaknya pakai gerobak

Ilustrasi kemiskinan. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Cerita seorang pria bernama Supriono ini begitu menyedihkan. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai pemulung ini kehilangan seorang anaknya karena penyakit muntaber. Kisah ini terjadi kira-kira pada tahun 2011 silam.

Singkat cerita, Supriono ingin memakamkan perempuan kecilnya Khaerunnisa di Kampung Kramat, Bogor. Namun hasilnya sia-sia lantaran dirinya tak mempunyai uang yang cukup untuk membawa jenazah anaknya naik KRL.

Di Stasiun Tebet, Supriono juga dipaksa turun dari kereta dan dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Sesampainya di kantor polisi terdekat, Suprioni juga harus dipaksa polisi untuk membawa anaknya terlebih dahulu ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk keperluan autopsi.

Supriono pun menjelaskan kepada pihak RSCM bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang penyakit Muntaber. Dia pun sudah pernah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi.

"Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke Puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke Puskesmas. Meski biaya hanya Rp 4000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp.10.000,- per hari," kata bapak dua anak yang sehari-hari tinggal di kolong perlintasan rel KA (Kereta Api) di Cikini itu.

Selama Khaerunnisa terserang sakit, Supriono selalu ditemani anak laki-lakinya yang bernama Muriski Saleh. Mereka selalu memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya bisa sesekali beristirahat di gerobak.

Hingga pada akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu 5 Juni 2011 sekitar pukul 07.00 WIB. Supriono harus ditolak oleh pihak RSCM karena tak mempunyai biaya menyewa ambulans untuk pergi ke Bogor.

4 dari 4 halaman

Kisah bayi Naila meninggal saat tunggu antrean nomor 115 di RS

Ilustrasi Mayat. ©2013 Merdeka.com

Malang benar bayi Naila. Dia mengembuskan napas terakhir karena tak segera mendapatkan pertolongan dari Rumah Sakit Umum (RSU) Lasinrang, Pinrang. Padahal sakit sesak napas yang dideritanya sudah cukup memprihatinkan.

Cerita pilu itu bermula ketika Naila yang baru berusia dua bulan sepuluh hari mendadak sesak napas, sejak Senin 28 Oktober lalu. Melihat kondisi buah hatinya tak kunjung membaik, Mustari dan Nursia lantas berpikir membawa Naila berobat.

Karena keterbatasan biaya, mulanya Naila hanya diperiksa seorang bidan di dekat tempat tinggal mereka di Dusun Patommo, Desa Kaliang, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Karena melihat kondisi Naila, si bidan meminta Mustari dan Nursia membawa ke Puskesmas Lampa, yang ada di perkampungan mereka.

Naila dibawa ke puskesmas, pada Rabu pagi. "Sampai di sana, diperiksa sama dokternya tapi tidak dikasih pertolongan apapun malah dikeluarkan surat rujukan ke Rumah Sakit Umum Lasinrang, Pinrang," cerita Mustari kepada merdeka.com, Jumat (1/11).

Akhirnya, mereka menuruti rujukan itu. Dalam keadaan sekarat tanpa bantuan tabung oksigen, bayi itu dibawa menggunakan mobil pribadi milik tetangga Mustari.

"Jarak dari puskesmas ke rumah sakit sekitar 30 menit," ungkapnya.

Sesampainya di rumah sakit, Mustari malah disuruh ikut mengambil nomor antrean. Padahal kondisi Naila semakin menurun.

"Saya sudah mohon-mohon anak saya duluan, saya bilang kondisi anak saya sudah parah, saya bilang kasihani kami, tapi petugas loket bilang nggak bisa begitu harus tetap mengantre. Akhirnya saya ambil antrean, nomor 115. Sementara yang diperiksa baru antrean 95," keluh pria yang berprofesi sebagai petani ini.

Melihat kondisi Naila semakin memburuk, Mustari kembali mendatangi loket dan meminta diberikan prioritas. Tapi malah ditanya segala macam surat menyurat yang menerangkan Mustari berasal dari keluarga miskin.

"Ditanya kartu keluarga, tapi saya bilang di Lampa. Saya bilang tolong dulu anak saya, kalau sudah nanti pasti saya ambil surat-surat itu. Tapi mereka menolak," tambahnya.

Tak kunjung mendapat pertolongan karena berbagai persyaratan administrasi harus dipenuhi, akhirnya Naila yang terbaring lemah di pangkuan ibunya mengembuskan napas terakhir.

"Sekitar dua jam habis waktu ngurus surat-surat, sekitar pukul 10 lewat, Naila meninggal. Saat itu baru ada suster menolong, ya mau apa lagi," pungkasnya.

Oleh rumah sakit, Mustari hanya diberi jatah ambulans untuk membawa jenazah putri kecilnya pulang ke rumah untuk dimakamkan.

"Naila sudah dimakamkan Zuhur kemarin," tandasnya. [dan]

Baca juga:
Kakek tewas karena dibuang ambulans, negara harus tanggung jawab
Kakek yang dibuang dari ambulans dikenal rajin menolong warga
Kakek yang dibuang dari ambulans bernama Edi warga Palembang

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini