Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

130 Pengungsi Gunung Agung yang alami gangguan kejiwaan sudah dievakuasi

130 Pengungsi Gunung Agung yang alami gangguan kejiwaan sudah dievakuasi Panorama Gunung Agung. ©2017 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Dari puluhan ribu warga yang dievakuasi dari zona rawan gunung Agung tercatat ada 130 orang di antaranya yang alami gangguan kejiwaan. Bahkan dari jumlah tersebut lebih dari 11 orang alami kejiwaan akibat depresi bencana erupsi gunung Agung saat ini.

Bahkan diperkirakan masih ratusan orang yang memilih bertahan tinggal di rumah kendati desanya sudah sunyi tanpa penghuni. Pemerintah pun mengambil langkah jemput bola dengan mengutamakan penyelamatan kepada para Lansia, anak-anak termasuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Khusus kepada warga yang alami masalah kejiwaan, dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Karangasem, I Gusti Bagus Putra Pertama bahwa dari 130 orang yang sudah dievakuasi, 114 ODGJ di antaranya harus menjalani rawat inap di RSJ Bangli.

"Kemungkinan masih ada yang belum dievakuasi, mohon diinformasikan bila masih ada warga khususnya anak-anak dan lansia serta yang alami Kejiwaan masih berada di zona rawan agar dilaporkan," kata Gusti Bagus di Karangasem Bali, Rabu (27/12).

Laporan terakhir yang diterimanya pagi hari ini tim evakuasi gabungan dari TNI/Polri, Basarnas dan Dinas Pemadam Kebakaran Karangasem telah mengevakuasi seorang dengan gejala ODGJ dari zona merah.

ODGJ yang dievakuasi tersebut belakangan diketahui bernama Ni Made Swasti (40), warga Banjar Gula, Desa Buanagiri, Kecamatan Bebandem.

Swasti yang alami masalah kejiwaan akibat depresi didapati berada di rumahnya bersama suami dan anaknya yang masih belia. Lokasi rumah tempatnya tinggal hanya berjarak 8 km dari kawah gunung Agung.

Suaminya, I Wayan Kembar (42) mengaku sempat tinggal di pengungsian sebelumnya. Lantaran kondisi istrinya tersebut, tidak memungkinkan dirinya tinggal lama di posko pengungsian.

"Begitu sempat dikatakan status Gunung Agung turun, saat itu kami kembali lagi pulang ke rumah. Saat ini saya justru tidak tau jika sudah kembali lagi naik status. Saya tidak mungkin diam lama di pengungsian dengan kondisi istri saya seperti ini," tutur Kembar.

Namun dirinya kini sedikit lega lantaran istrinya langsung mendapat penanganan di RSJ Bangli. Sementara, ia dan anaknya mengungsi di posko yang tidak jauh dari tempat istrinya rawat inap.

"Untuk penanganan terhadap warga pengungsi yang alami kejiwaan akan ditanggung semua melalui BPJS Kesehatan. Premi dibayar melalui program Penerima Bantuan Iur (PBI) darah. Saat ini baru 80 orang yang dapat kartu dari program PBI itu, sisanya masih proses administrasi," kata Gusti Bagus, Kadis Kesehatan Pemkab Karangasem. (mdk/rzk)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP