Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Manusia baru memakai kapasitas otaknya 10%, bagaimana kalau 100%?

Manusia baru memakai kapasitas otaknya 10%, bagaimana kalau 100%? Otak Manusia. © Shutterstock

Merdeka.com - Pasti diantara kalian sudah ada yang pernah menonton film yang dibintangi oleh Morgan Freeman dan Scarlett Johansson berjudul LUCY. Dalam film tersebut, diceritakan Scarlett berubah menjadi super pintar, jago bela diri, memiliki kekuatan super seperti kemampuan telekinesis dan menghentikan waktu. Hal ini disebabkan karena fungsi otak Lucy, karakter utama yang dimainkan Scarlett, bisa mencapai 100 %. Benar nggak sih bisa begitu?

Keseluruhan plot film ini berdasarkan pada premis bahwa kita sebagai manusia baru memakai 10% dari total kapasitas otak kita. Premis yang mengatakan bahwa rata-rata manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya itu adalah salah satu miskonsepsi terbesar dalam biologi, khususnya tentang otak.

Premis ini salah besar, namun juga sangat populer. Saat belajar Biologi, kita juga belajar bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dan harus selalu terbuka untuk difalsifikasi (dipatahkan) jika ada bukti dan data-data terbaru yang ditemukan atau dengan pemahaman baru yang lebih komprehensif. Hal yang sama juga harusnya berlaku untuk setiap fenomena yang diklaim oleh ilmuwan, termasuk penelitian tentang otak 100 tahun yang lalu.

Peneliti otak jaman sekarang sudah memiliki peralatan yang lebih canggih sehingga bisa mengambil kesimpulan yang jauh lebih tepat tentang pemetaan fungsi otak terhadap aktivitas tubuh manusia. Untuk mengamati fungsi otak, kita sudah punya fMRI, CT Scan, dan PET Scan, EEG, dan lain sebagainya yang hasilnya bisa diolah secara kuantitatif maupun grafis dengan sangat presisi di komputer. Pastinya beda banget sama jaman 100 tahun yang lalu.

Dengan alat canggih yang kita punya sekarang, kita bisa mengobservasi aktivitas virtual otak, misalnya gelombang otak atau hormon-hormon yang bereaksi di otak. Keempat alat di atas bisa membantu para peneliti dan pekerja medis untuk mengetahui secara jauh lebih akurat bagian otak mana yang mengontrol kegiatan tertentu. Dengan alat-alat canggih ini juga ditemukan bahwa nggak ada bagian otak yang dorman. 90% silent cortex itu juga punya fungsi, yaitu pusat kontrol kognitif manusia, seperti kemampuan berpikir dan menggunakan bahasa.

Alat zaman eksperimen zaman dulu hanya bisa melihat hasil stimulasi yang bersifat motorik atau gerak. Pantas saja kalau 90% diberi sengatan listrik, nggak bikin satu pun otot di tubuh kita berkedut karena fungsinya bukan buat motorik (gerak). Tapi lebih ke fungsi yang tidak bisa diobservasi dengan kasat mata, seperti fungsi untuk bisa berpikir secara logis, untuk memahami bahasa verbal, atau untuk menangkap emosi orang lain.

Memang benar kalau bagian otak yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda pula dan tidak semuanya bekerja dalam waktu yang bersamaan. Namun hasil scan otak selama periode 24 jam menunjukkan bahwa seluruh bagian otak pasti terpakai dan terus aktif dalam satu hari.

Otak itu sangat konsumtif dalam penggunaan energi tubuh. Walaupun berat otak cuma 5% dibandingkan total berat tubuh, organ ini mengkonsumsi hingga 20% suplai oksigen dan glukosa dalam tubuh. Kalau benar manusia selama ini menggunakan 10% otaknya, berarti 90% dormannya sia-sia? Kenyataannya, kalau manusia hanya menggunakan 10% otaknya, kita akan sangat rentan dengan kelainan otak. 90% dari otak nggak aktif itu sudah sama seperti orang koma. Bahkan, kalau ada 1% saja bagian otak yang nggak berfungsi, mungkin kamu sudah lumpuh atau sekarat lho! (mdk/iwe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP