Gerimis mengantar keberangkatan puluhan mobil Honda Mobilio dari markas PT Honda Prospect Motor (HPM) di Sunter, Jakarta
Utara, akhir pekan lalu (3/2). Bendera start tepat dikibarkan jam 08.30 WIB, tanda event 'Honda Mobilio Battle of Efficiency' dimulai.
Aturan main lomba adu irit mobil keluarga andalan Honda ini simpel, kondisi mobil standar dan peserta harus menempuh perjalanan sekitar 61 kilometer dengan waktu yang dibatasi maksimal 90 menit. Selain kalangan wartawan, peserta lomba irit ini juga dari komunitas mobil Mobilio dan calon konsumen Mobilio. Ini adalah seri ketiga lomba adu irit Honda Mobilio, yang diadakan HPM untuk memamerkan value efisiensi bahan bakar Mobilio, di tengah pesaing baru yang semakin banyak bermain di segmen mobil kelurga atau low MPV.
Adrenalin Merdeka.com dan tim mulai naik, begitu berada di dalam Honda Mobilio tipe RS warna putih. Duduk di jok pengemudi rekan Denny, wartawan dari satu media otomotif online. Jejak puluhan roda Honda Mobilio langsung dihapus gerimis yang menjadikan jalan cukup basah di pagi itu.
Strategi pun disiapkan dari dalam kabin. Begitu memasuki jalan tol, Mobilio bertransmisi otomatis yang kami tumpangi melaju tak lebih dari 40 kilometer per jam. Sistem AC dimatikan (terpaksa), sedangkan kaca depan dibuka sebagian. Tujuannya menekan konsumsi bahan bakarnya sehingga lebih hemat.
Honda Mobilio tipe RS putih kami melaju secara perlahan membelah Jakarta menuju Kabupaten Bogor. Layar Multi Information Display (MID) di panel dashboard mulai bergerak naik seiring laju mobil. Dari posisi 17,1 kilometer per liter (kpl), bergerak pasti ke angka digital 20 kpl. Dari balik kemudi, pandangan Denny sangat awas terhadap MID, memastikan konsumsi bahan bakar tetap stabil dan tak bergerak turun. 'Pil sabar' menjadi kunci perjalanan kami.
"Kaki udah gatal nih, injak pedal gas dalam-dalam," celetuk Denny sambil tertawa lebar.
Ya, selama perjalanan, kaki Denny hanya sedikit menyentuh pedal gas. Sesekali mobil dibiarkan menggelinding sendiri, memanfaatkan momentum, mengikuti aspal jalan, tanpa menginjak pedal gas. Laju Mobilio putih kami bergerak pelan, sesaat hendak memasuki ruas tol Jagorawi.
Tantangan mulai terasa intens. Kemacetan menghadang, jelang memasuki wilayah Kabupaten Bogor. Kami terpaksa lebih sering menginjak pedal rem dan menekan gas. Otomatis, konsumsi bahan bakar mobil kami bergerak turun. Layar MID menunjukkan posisi 19 kpl, lalu turun lagi menjadi 18 kpl. "Wah, kacau ini. Hancur ini," gerutu Denny.
Usai melewati kemacetan, Mobilio kami bisa melaju kencang. Tanda ECO berwarna hijau menyala terang. Tanda cara mengemudi kami sudah efisien bensi dan ramah lingkungan. Alhasil, layar MID pun menunjukkan konsumsi bahan bakar kami bergerak naik, kini berada di angka 22 kpl,
dari 18 kpl. Lumayan.
Pembatasan waktu tempuh membuat waktu yang tersisa semakin sempit. Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, ketika kami memasuki kawasan Sentul City. Kami terus memantau layar MID, ketika mobil bergerak mengikuti kontur jalan Sentul City menanjak lalu menurun. Kami berusaha keras menjaga konsumsi bahan bakar meski sulit saat melibas jalan mendaki.
Kami pun tiba di gerbang Jungle Lan sebagai titik akhir lomba. Panitia dengan cekatan mencatat kosnusm bahan bakar yang tertera di MID dari setiap sperta yang tiba di garis finish. Layar MID di mobil kami menunjuk angka 21,7 kpl. Lumayan irit untuk mobil keluarga dengan kapasitas mesin 1.500 cc.
Siapa yang paling irit?
Pemenang seri ketiga ini adalah Lukman Effendi, dengan konsumsi bahan bakar mencapai 24,4 kpl. Sedangkan juara kedua diraih Agus Taufik Rahman dengan 24,2 kpl dan Dadang Ridwan dengan 24,1 km/liter. Semua juara seri 3 datang dari komunitas Mobilio Community (Mobility) chapter Bogor-Cianjur-Sukabumi (Bocimi).
Strategi dan trik yang digunakan Lukman tidak jauh berbeda dengan kebanyakan peserta. Pertama, pengemudi harus tenang terlebih dahulu. Kecepatan kendaraan juga jadi kunci agar konsumsi bahan bakar irit.
RPM di angka sekitar 1.000. Kunci lainnya, selama perjalanan Lukman rela mandi keringat. Ya, selama 90 menit, AC mobilnya tidak dinyalakan.
"AC enggak pakai, kaca jendela buka sedikit lah," ungkap Lukman.
Jonfis Fandy, Marketing and After Sales Service Director HPM, mengatakan, rekor paling irit even ini masih dipegang oleh peserta seri kedua, yakni 25,4 kpl. "Ini membuktikan semakin banyak pengemudi menguasai cara berkendara yang hemat bahan bakar, sekaligus membuktikan efisiensi mesin Mobilio," pungkas dia.
Dengan catatan ini, dia meyakini semakin banyak pengemudi yang menguasai cara berkendara hemat konsumsi bahan bakar. Ini juga membuktikan efisiensi mesin Honda Mobilio.