General Motors (GM) berencana menutup pabrik Opel, salah satu divisi otomotif-nya, di Bochum, Jerman, pada akhir tahun 2016 mendatang. Hal itu dilakukan menyusul krisis keuangan yang melanda Eropa, yang dikhawatirkan bakal mengganggu pasar otomotif global.
Direktur General Motors, Dan Akerson, di Chicago, Kamis (28/6), mengatakan bahwa melemahnya pembelian diprediksi mulai berpengaruh pada semester kedua tahun ini, khususnya bagi merek-merek yang mengandalkan Eropa untuk berkembang.
"Anda bisa melihat ada pelemahan di Eropa. Kalau ujungnya pelemahan nilai tukar Euro, meskipun saya tidak berharap, akan besar pengaruhnya, pastinya untuk Amerika Serikat dan China," beber Akerson, seperti yang dilansir Autonews.
Untuk memperbaiki kondisi di Eropa, GM berupaya untuk menjalin kerja sama dengan PSA Peugeot Citroen untuk pengembangan kendaraan bersama dan penjualan. Selain itu, GM juga mencoba melobi pihak serikat pekerja di Jerman, terkait rencana penutupan pabrik itu, termasuk penundaan kenaikan gaji.
Tahun lalu, dengan keuntungan perusahaan US$ 9,19 miliar, GM berhasil meraih lagi gelar tahta produsen mobil terbesar di dunia yang sebelumnya diambil oleh Toyota. Tahun ini, prioritasnya adalah memperbaiki keadaan, khususnya di Eropa yang sudah kehilangan pemasukan hingga US$16,4 miliar sejak 1999.
Meski berat, namun Akerson mengatakan bahwa kondisi akan lebih membaik sesuai dengan rencana pengembangan bisnis perusahaan setelah 2016. Rencana ini bahkan sudah mendapat persetujuan dari direksi Opel di Ruesselsheim, Jerman.
"Jika Anda melihat lima tahun dari sekarang, saya akan kecewa kalau kita tidak bisa akhirnya dapat menguntungkan," tutup Akerson. (kpl/bun)