Tanpa Tuhan di negeri beriman

Senin, 1 April 2013 08:27 Reporter : Faisal Assegaf
Jammah salat Idul Adha tahun lalu di Jakarta. (merdeka.com/dwi narwoko)

Merdeka.com - Indonesia dikenal sebagai negara berketuhanan dan mengakui enam agama resmi. Namun dari seperempat miliar penduduk di negeri ini, sebagian kecil memilih tidak bertuhan.

Seperti Nu, bukan nama sejatinya. Lima tahun belakangan, sejak mata melek hingga terpejam lagi, dia meyakini Tuhan tidak pernah turut campur dalam kehidupannya. Bahkan, dia menegaskan Sang Maha Kuasa itu juga buka pencipta dan pengatur alam semesta. "Tuhan tidak lagi relevan dengan kondisi sekarang," katanya saat ditemui merdeka.com di sebuah kafe di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa malam dua pekan lalu.

Tentu saja tidak mudah menjadi seorang ateis di negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar sejagat ini. Jangankan yang menolak Tuhan, umat seagama saja kerap bentrok berdarah hanya lantaran perkara bukan mendasar. Seperti penyerangan terhadap komunitas Syiah di Kecamatan Omben, Sampang, Madura (Jawa Timur), tahun lalu. Belum lagi perseteruan antara muslim dan non-muslim soal pendirian rumah ibadah.

Pemuda 24 tahun itu pun menyadari keyakinan merupakan isu sangat sensitif di Indonesia. Sebab itu, dia tidak mau mengaku secara terbuka soal pendiriannya itu. "Gue merasa tidak perlu umumin gue ateis," ujarnya seraya menambahkan pihak keluarga cuma tahu dia tidak lagi ke gereja sebagai penganut Katolik. Hanya teman-teman sekantor paham dia tidak lagi mengakui keberadaan Tuhan.

Masyarakat pernah digegerkan lantaran Alexander alias Aan awal tahun lalu mengumumkan lewat Facebook dirinya seorang ateis. Akibatnya dia ditangkap dan kemudian diadili. Pengadilan Muaro Sijunjung, Sumatera Barat, akhirnya memvonis dia 2,5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Nu juga tetap akan menjalani prosesi pernikahan menurut ajaran Katolik sebab tidak ingin mengundang kehebohan sekaligus masalah lantaran dia ateis. "Nggak jadi kriteria tertentu, yang penting dia punya pandangan terbuka," ujarnya saat ditanya apakah harus beristrikan perempuan ateis. Dia juga tidak bakal memaksakan anak-anaknya nanti mengikuti keyakinannya. "Gue akan menyesal kalau ada anak gue menjadi fundamentalis."

Val juga berprinsip serupa. Sadar soal sensitivitas agama, dia memilih menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang ateis. "Karena itu saya masih salat dan kadang menjadi imam ketika pulang ke rumah orang tuanya," ucap lelaki 28 tahun ini. Dia melakoni semua itu buat menyenangkan orang tua sudah sepuh.

Dia juga menjalani prosesi perkawinan secara Islam satu setengah tahun lalu. Dia berkomitmen tidak akan memaksakan anak-anaknya nanti menjadi ateis. "Terserah mereka mau memilih apa," tuturnya. [fas]

Topik berita Terkait:
  1. Ateis
  2. Jakarta
  3. Komunitas Ateis
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.