Seni lukis kian terkikis
Merdeka.com - Suasana terasa hening. Berjejer rapi sekotak kanvas penuh polesan warna menghiasi dinding seantero ruangan. Sebuah lukisan berjudul Kawan-kawan Revolusi karya S.Sudjojono sepintas tampak asli. Siang pekan lalu itu, Dewan Kesenian Jakarta menggelar pameran jejak lukisan palsu Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Dirunut sejak 1985, lukisan-lukisan palsu sudah diproduksi membabi buta. lantaran melangitnya minat kolektor terhadap maha karya para pelukis di Indonesia. Hal itu menjadi celah sekelompok orang atau sindikat mengeruk fulus miliaran rupiah dari lukisan-lukisan bikini pelukis maestro tanah air.
Paling sering diimitasi adalah karya-karya Sudibio, Sindudarsono Sudjodjono, Rahmat Affandi, Hendra Gunawan, dan Basoeki Abdullah. Semua lukisan palsu itu mempunyai karakteristik warna dan teknik coretan khas pelukis aslinya.
Menurut Syakieb Sungkar, kolektor lukisan, kian terangnya soal jejak lukisan-lukisan palsu ini setelah tim bentukan Perkumpulan Pecinta Seni Rupa Indonesia (PPSI) menyelidiki persoalan itu. Tim investigasi ini berhasil menemui para pelukis pemalsu di beberapa daerah, termasuk Jakarta dan Yogyakarta.
Tim penyelidik ini dibentuk setelah peresmian museum ketiga kolektor kawakan Oei Hong Djien atau akrab disapa OHD dua tahun lalu di tanah kelahirannya Magelang. "Seingat saya diundang di museum itu terdapat lukisan berjudul Sabda Alam (1961) dipamerkan bukanlah karya asli Sudjojono," kata Syakieb kepada merdeka.com melalui surat elektronik. "Malam itu juga saya protes ke OHD kalau itu bukan karya asli."
Lukisan Sabda Alam itu menggambarkan seorang perempuan telanjang menghadap ke arah jendela. Wanita itu adalah istrinya Rose Sudjojono. Sedangkan lukisan serupa kepunyaan OHD berciri bokongnya terlihat rata dengan pinggang dan tidak bahenol.
"Itu bukanlah pantat Ibu Rose karena pinggul dan pantat Ibu Rose itu besar, mirip pantat skuter vespa," ujar Syakieb. Dia menambahkan Sudjojono selalu memakai istrinya sebagai model telanjang. "Ibu Rose melarang keras wanita lain."
OHD dikenal sebagai kolektor lukisan bernilai seni tinggi dan bertaraf internasional. Koleksinya beragam, dari periode Mooi Indie, seni modern, abstrak impresionis, dan seni kontemporer.
Syakieb menjelaskan selain kolektro, OHD juga pengamat seni Indonesia. Buku pertamanya terbit pada 2004 berjudul Exploring Modern Indonesia Art kebanjiran pujian. Tapi dengan munculnya buku kedua diberi judul Lima Maestro, kata Syakieb, mendapat kritikan karena 80 persen lukisan ada di buku kedua itu merupakan lukisan palsu. "Dia tak sehebat dulu," ucapnya.
Sekarang sudah ratusan lukisan palsu bererdar di Indonesia. Sejak dulu lukisan palsu menjadi incaran bisnis gelap para pelaku dan pencinta seni tak terbatas. Fenomena ini bisa mengikis kualitas perkembangan seni lukis di Indonesia. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya