Ketua Dewan Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy blak-blakan soal sosok calon Wakil Presiden Ganjar Pranowo yang dicari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. PPP dan PDIP telah menyepakati kerja sama politik untuk mendukung Ganjar sebagai Cawapres.
Romy, begitu dia disapa, mengungkapkan Megawati terbiasa mengambil keputusan politik penting melalui pola yang bertahan sekian lama. Termasuk memilih cawapres untuk Ganjar. Megawati bakal menggunakan pola yang sama dengan menjodohkan Ganjar dengan sosok religius dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), tokoh tua dan berasal dari luar Jawa.
Beberapa nama masuk radar Megawati sesuai kriteria tersebut. Romy mengatakan dirinya telah berdiskusi dengan Bendahara Umum PDIP Olly Dondokambey untuk menjaring nama-nama tokoh NU. Beberapa yang dipertimbangkan adalah Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar dan Rois Aam Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah Habib Luthfi.
Selain tokoh NU, Romy bercerita PPP bakal mengusulkan nama Menparekraf Sandiaga Uno menjadi cawapres Ganjar. 'Proposal' Sandiaga cawapres Ganjar sudah disiapkan. Rencananya bakal diserahkan kepada Megawati pada bulan Juli mendatang.
Dalam wawancara dengan merdeka.com, eks Ketum PPP ini juga membocorkan, teman koalisi PDIP-PPP yang baru adalah Partai Amanat Nasional. Ketum PAN Zulkifli Hasan dan elite PAN telah sowan Megawati pada 2 Juni lalu. PAN menawarkan Erick Thohir sebagai Cawapres Ganjar dalam pertemuan tersebut.
Romy juga mengungkapkan bagaimana strategi koalisi PDIP-PPP memenangkan Ganjar di Pilpres 2024 hingga siapa saja tokoh yang terlibat di tim pemenangan.
Berikut wawancara ekslusif kami bersama Romy di kediamannya, Kramat Jati, Jakarta Timur:
Advertisement
PPP telah resmi mendukung Ganjar Pranowo sebagai Calon Presiden. Berikutnya tim pemenangan bersama PDIP-PPP, siapa saja yang terlibat? Siapa Ketua Tim Pemenangan Ganjar?
PPP sudah menyampaikan dukungan kepada Mas Ganjar ini pada tanggal 30 April. Itu langsung diterima oleh Bu Mega di Kantor DPP PDI Perjuangan. Dalam waktu pertemuan tertutup kami, dari PPP disampaikan oleh kami dalam hal ini saya sendiri, 'Bu setelah memberi dukungan, saya kira langkah yang perlu dipercepat adalah pembentukan tim'. Di mana tim ini nantinya bertanggungjawab atas penyusunan konten, apakah itu alas untuk pembangunan jangka menengah, apabila Ganjar menang nanti atau penyusunan konten isu strategis. Yang kedua adalah dilakukan pemetaan di mana Ganjar ini lemah. Di mana Ganjar ini kuat. Ketiga tentunya adalah pembuatan tim kampanye, saya mengistilahkannya sebagai tim bersama. Karena saya berharap masih ada yang partai yang bergabung dalam kerja sama politik kita.
Tiga hal ini direspons oleh DPP PDI Perjuangan, Mbak Puan hari Senin lalu, pada 29 Mei dan meminta agar ditindaklanjuti pada tiga hal ini, kemudian kita seriuskan penyusunan nama-nama dan pembagian peran, kemudian sekarang masih berjalan. Mungkin dalam pekan ini kami akan finalisasi nama dari PPP yang disampaikan ke PDI Perjuangan. Tentu sebagai sebuah tim tidak akan bergerak PDI Perjuangan saja.
Alhamdulillah Jumat lalu, PAN sudah bertemu dengan Bu Mega. Harapan kita bahwa itu akan menjadi sinyal PAN bergabung dengan koalisi. Artinya ada yang bergerak sehingga saya optimisme bahwa PAN akan mengusung Ganjar juga. Apalagi Pak Zul dalam rakernas d depan Mas Ganjar waktu itu di Semarang menyampaikan di depan Pak Jokowi bagaimana kalau Ganjar dan Erick Tohir bersatu? Minimal sepakat Ganjar sudah sama. Itulah jika berbicara tentang tim atas perkembangan terakhir. Kita sedang menyusun kemungkinan dalam minggu ini nama-nama akan selesai.
Nama-nama kader PDIP dan PPP yang masuk tim pemenangan Ganjar?
Dengan sendiri ya karena memang partai asal Mas Ganjar dan partai terbesar. Tapi kita juga membuka kemungkinan nama-nama di luar partai untuk menjadi tim. Seperti dulu ketika memutuskan Erick Thohir sebagai Ketua TKN (tim kemenangan nasional) Ini juga dibahas. Misalnya Pak Andika atau nama yang lain. Itu untuk masuk jadi ketua Timdis secara resmi. Karena kalau sekarang ini dibuat tim, Mba Puan kan secara resmi sudah ditunjuk sebagai ketua tim pemenangan Ganjar di internal PDI Perjuangan. Nah apakah nanti Ketua TKN yang didaftarkan secara resmi adalah Mbak Puan atau tidak nanti kita lihat nanti seperti apa.
Pemetaan daerah yang menjadi kelemahan Ganjar Pranowo? Dan bagaimana strategi PPP untuk menutupi Kekurangan Ganjar?
Pemilihan di Indonesia itu terbagi secara rijit 62% di Jawa, 17% di Sumatera. Berarti angkanya itu 79% Jawa dan sumatera, 21% the rest of Indonesia. Jadi pada dasarnya Jawa adalah kunci. Nah, Mas Ganjar ini dari semua survei yang dipublikasikan sudah insyaAllah unggul di Jawa timur dan Jawa Tengah. Kemudian seimbang di DKI Jakarta, tetapi masih PR untuk Banten dan Jabar. Jadi memang di titik ini kita fokus dan PPP memiliki keunggulan di Jabar, sehingga peran kita sangat penting di situ. Di samping itu do beberapa wilayah Jatim, seperti tapal kuda masih lemah.
PPP sekali lagi kuat di situ karena itu tugas kita untuk mensosialisasikan Mas Ganjar. Minimal pada tahap ini adalah sosialisasi ke pimpinan partai pada daerah itu. Mengapa kita mendukung dan alasan-alasan di balik itu dan perjanjian kita apa supaya rekan-rekan di bawah bukan hanya menerima instruksi, tetapi juga menerimanya dengan alasan yang cukup.
Yang kedua, tentu juga berbicara daerah-daerah selain di Indonesia Timur. Karena praktis Mas Ganjar ini kan mewarisi dukungan suara Pak Jokowi sesama kader PDI Perjuangan dan sesama orang Jawa Tengah dan sesama mantan kepala daerah. Memang praktis profilnya ini mirip-mirip. Pak jokowi ini kan unggul di Indonesia Timur. Jadi kita menyakini, bahwa untuk Indonesia Timur relatif terkondisi.
Ada berapa kantong yang memang seperti Sulawesi Selatan misalnya. Yang Pak Jusuf Kalla sendiri memiliki tokoh lain untuk diusung, yaitu Mas Anies Baswedan. Dan Pak JK juga tokoh daerah Sulsel. Ini PR sendiri di mana kita harus gerilya dari pinggiran-pinggiran. Tetapi PR secara nasionalnya adalah meningkatkan popularitas Mas Ganjar karena Mas Ganjar itu popularitasnya belum mentok. Saya belum cek angka dari publikasi terakhir, tetapi dari cek beberapa waktu lalu angkanya belum menyentuh 90%. Artinya peluang Mas Ganjar untuk naik elektabilitasnya itu masih besar karena popularitas belom mentok.
Karena kan kalau kita mau elektabel, harus populer dulu. Nah popularitasnya belum mentok, sementara Pak Prabowo hari ini dengan angka yang dimiliki popularitasnya sudah mentok. Ibaratnya sudah tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak tahu nama Pak Prabowo. Tapi untuk Ganjar masih banyak orang Indonesia yang belum tahu namanya, itu yang jadi PR. Tentu PR ini cara mengatasi secara singkat dengan muncul sebanyak mungkin di semua media, baik konvesional maupun media sosial.
Sosok Calon Wakil Presiden pasti dari unsur religius untuk melengkapi Ganjar?
Pertama basisnya bukan kekurangan tapi basisnya adalah kenyataan bahwa partai-partai nasional sudah memiliki calon presiden. Kita sudah tahu persis kedua parlemen sudah memiliki kekuatan, namanya Airlangga Hartanto. Soal laku atau tidak itu kan market yang akan menjawab. Kemudian yang kedua, Pak Prabowo Subianto sudah dideklarasi sebagai capres pada partainya. Jadi praktis tiga kekuatan partai nasional yang merupakan urutan 1, 2, 3 di parlemen sudah memiliki capres sendiri-sendiri. Jadi wajar jika kita menyasar yang belum punya capres, apalagi yang belum punya cawapres.
Jadi apa yang disampaikan Mas Hasto itu basisnya adalah basis elektoral, bukan basis ideologi. Baru alasan yang kedua adalah kebutuhan Mas Ganjar bahwa apapun judulnya mas ganjar adalah sosok nasionalis, meskipun kawan PDIP nasionalis dan elektabilitas tidak bisa dipisahkan, saya setuju itu, tapi kan karakter orang keliatan jika kita merujuk pada teori gerds yang menyampaikan ada santri, priyayi dan abangan. Realitas itu hidup di masyarakat Indonesia. Bung Karno di dalam tulisan pertamanya yang dimuat di buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid 1 juga menuliskan itu.
Beliau menuliskan Islamisme, Marxisme atau Komunisme dan Nasionalisme. Itulah 3 pilar indonesia pada saat itu. Sehingga, yang hari ini juga masih ada, hanya marxisme dan komunisme di larang di Indonesia ya tinggal Islamisme dan Nasionalisme. Apapun judulnya Mas Ganjar hari ini adalah figur nasionalis yang membutuhkan sosok religius. Religius ini tentu ada dua hal, religius dari institusi pengusung dan religius dari karakter cawapres.
Sandiaga Uno dan Erick Thohir masuk kandidat Cawapres Ganjar, mana yang cocok?
Sosok dua yang disebut itu lebih muncul karena elektoral, karena kan seperti yang sudah saya sebut kan dalam berbagai kesempatan kriteria cawapres Mas Ganjar di mata PPP itu 4 sehat 5 sempurna. Jadi saya katakan pertama 4 sehat itu adalah sosok Islam moderat dan ini terwakili dalam karakter 2 orang tadi baik Pak Erick maupun Mas Sandi. Artinya kalau disampaikan tidak mewakili sosok religius, ya memang tidak religius amat, tetapi minimal secara formil bisa membawa itu.
Pak Erick adalah anggota Banser dan ketua panitia Seabad NU. Beliau juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah. Jadi memang wajar religiusitasnya itu paling tidak formilnya ada. Kedua Pak Sandi misalnya, beliau dari sesi segmentasi pemilihnya terpotret ada, bahkan cukup kental terutama bekas-bekas Pilkada DKI Jakarta. Di mana sebagaian dari pengusung Anies-Sandi kalangan aktivis 212 itu masih ada yang melekat kepada Pak Sandi. Meskipun hari ini tentu mayoritas ada di Pak Anies. Pak Sandi juga memegang kartu tanda anggota NU yang diberikan langsung oleh Ketua Umum Pak Said Aqil Sirajd sekaligus juga pengurus Majelis Ekonomi kreatif Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jadi dia Muhamadinu, jadi dua gitu ya. Jadi dari sisi itu kriteria religiusnya masuk.
Hanya tentu sebagai partai politik kita ada fatsun, Bu Mega dan PDIP adalah partai yang memiliki golden tiket tanpa partai manapun sebenarnya cukup. Kedua Bu Mega tentu memiliki privilage untuk juga bukan hanya untuk sekedar mengusung capres tapi juga memberikan persetujuan siapa cawapres Ganjar.
Saya pribadi mengamati Bu Mega memiliki konsistensi pada pola. Itulah kenapa nama tidak berhenti untuk cawapres ini hanya di Erick dan Sandi yang memang sudah sejak lama didorong oleh Pak Jokowi menjadi Cawapres Mas Ganjar. Bahkan, belakangan berkembang ya Ganjar atau Prabowo, jadi dua-dua.
Apa pola yang saya sampaikan itu coba kalian amati dari tahun 2001 Bu Mega itu polanya konsisten. Waktu mengambil Pak Hamzah 2001 sebagai Cawapres itu ada pilihan politisi yang sama seniornya. Bahkan dari partai yang lebih besar waktu itu adalah Golkar Pak Akbar Tanjung. Juga ada figur lain yang itu adalah Pak SBY. Tapi beliau memilih Pak Hamzah Haz, waktu itu kan PDIP 33 persen di parlemen. Jadi geraknya PDIP itulah yang akan hampir menentukan sikap mayoritas DPR. Waktu itu beliau memerintahkan PDIP dukung Pak Hamzah, apa karakter Pak Hamzah? NU, tua, luar Jawa.
Pada 2004, beliau memilih Pak Hasyim Muzadi. Nu, tua, luar Jawanya enggak, tapi NU, tua. 2014 beliau memilih Pak Jusuf Kalla untuk mendampingi Pak Jokowi, NU, tua, luar Jawa. Keempat Ma'ruf, NU, tua, luar Jawa karena kiai Ma'ruf orang Banten, bukan orang Jawa. Jadi ada konsistensi pola di situ, yang saya baca bahwa Bu Mega hari ini bukan berbeda dengan Bu Mega 20 tahun lalu.
Bu Mega itu orang yang setia kepada pola, kepada paten. Ada beberapa politisi dan kebanyakan politisi yang setia kepada market sepeti Pak Jokowi. Orang yang suka akan mengatakan beliau memiliki pragmatisme dan kecerdasan berpolitik, orang yang enggak akan suka atau yang enggak suka akan mengatakan itu politusi oportunis. Tergantung, anda pecinta atau pembenci. Tinggal perspektif itu saja.
Melihat dari pola tadi, Cawapres Ganjar yang direstui Megawati mengarah pada sosok Imam Masjid Besar Istiqlal Nasaruddin Umar?
Iya, saya mengambil pelajaran tahun 2019 ya ketika saya menyampaikan atau bersepakat dengan Pak Mahfud yang nama itu ditolak di detik-detik terakhir oleh ketum yang lain. Makanya saya meskipun tidak bertemu dengan sosok Nasar dan saya memang tidak berniat menemui Pak Nasar dalam waktu dekat ini atau kemarin-kemarin tapi saya menyebut nama beliau. Karena itu adalah alternatif yang mungkin, apakah akan termanfetasi beneran atau tidak? Nanti waktu yang akan menjawab. Hari ini tidak ada yang bisa menebak hati Bu Mega seperti apa, jangankan orang lain innercirclenya saja kalau ditanya belum ada yang berani menjawab.
Yang paling mungkin karena kalau mengacu pada konsitensi pola itu, NU, tua, luar Jawa, Pak Nasar salah satu figur eminen di pengurus besar NU. Kalau memang Jawa itu seperti halnya Pak Kiai Hasyim Muzadi akan menjadi pola, maka ada nama lain misalnya Habib Luthfi. Beliau ketua ahli jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah karena tujuan kami ini menggandeng tokoh NU itu kan berharap dukungan gerbong NU. Yang memang tidak pernah solid, jangan berharap 100 persen orang NU mendukung calon siapapun dari NU.
Buktinya 2004 di pemilu saat itu, Pilpres NU terpecah menjadi 4. Minus Pak Amien Rais, jadi praktis bagi kita kita tentu berharap mayoritas dari gerbong NU. Kenapa? Karena ketika figur NU dicalonkan, akan ada kesadaran dari seluruh warga NU yang tentunya hanya bisa diharapkan muncul masif ketika pemimpin-pemimpin NU juga ikut turun menyampaikan. NU ini menurut statisktik lebih dari separuh penduduk RI sehingga memang butuh sosok simbol di puncak kekuasaan. Karna akan banyak bisa dilakukan di sana untuk mengaspirasikan suara warga NU. Jadi karena ada tokoh NU di sini itu kan harapan kita.
Bahwa secara forum resmi NU tidak boleh berpolitik atas keputusannya sendiri itu hak institusi NU, tapi kan pribadi-pribadi ketua umum PBNU punya pilihan insan politik. Kalau pun dia menyampaikan dukungannya secara terbuka tidak menyalahi khitoh.
Saya tau persis makna khitoh karena yang menyusun dokumen khitoh tahun 1984 almarhum Ayahanda saya. Jadi warga NU sangat boleh berpolitik. Malah menurut saya hukumnya fardu kifayah. Dan fardu kifayah itu yang melaksanakan pemimpin-pemimpin yang bukan anak-anak buahnya begitu.
Muncul nama Habib Luthfi, dengan pertimbangan Megawati Cawapres Ganjar adalah NU, tua dan luar Jawa, apakah Habib Luthfi sekarang dipertimbangkan?
Saya baru berbicara inventarasasi tokoh-tokoh NU. Tentu ketika kita bicara mempertimbangkan bahasa ketika saya bertemu dengan Pak Olly (Dondokambey) Bendahara Umum PDIP, salah satu orang yang cukup sering diajak berbicara terbatas oleh Bu Mega itu adalah Olly. Coba disisir lagi nama-nama yang muncul, nah gitu. Ada perintah kepada Pak olly seperti itu.
Cerita Pak Olly kepada saya, perintah Bu Mega kepada Pak Olly. Sehingga Pak Olly menyampaikan coba deh cawapres PPP akan mengajukan, 'coba deh diinventarisir karena PPP kan lebih akrab dengan NU dari pada kita-kita. Oke kalau memang begitu, maka muncullah nama Nasaruddin Umar. Kalau dicek setelah merdeka turun kan enggak ada sumbernya kan saya yang ngomong secara resmi pada saat itu.
Jadi ya Habib Luthfi salah satu tokoh di NU yang memiliki. Jadi gini seseorang itu dipilih kalau saya sebut 4 sehat 5 sempurna itu pertama sosok Islam moderat, kedua yang memiliki modal politik. Modal politik itu bisa berarti membawa partai politik sebanyak-sebanyaknya. Sehingga menjadi bisa terbaca kalau Sandi mencoba menggaet PKS bukan hanya PPP gitu. Tapi modal politik bisa berarti dia hadir partai politik tidak ada yang menolak seperti kiai Ma'ruf itu juga termasuk modal politik. Tidak harus dibawa tapi dia tidak resisten. Ketiga saya sebut modal elektoral ini penting untuk memastikan dia menambahi keterpilihan mas ganjar karena Mas Ganjar hari ini belum seperti Pak Jokowi 2014 yang sudah sangat tinggi. Jadi memang butuh suntikan elektoral.
Yang keempat, modal jaringan. Saya sebut karena ini yang kita tidak melulu kita berbicara tentang berapa sih surveinya Nasaruddin Umar ya enggak ada. Berapa sih elektoralnya kiai Maruf sebelum dicalonkan ya enggak ada. Yang motret dan nyebut siapa sih, ya Rommahurmuziy enggak ada yang lain begitukan. Kenapa ya karena saya menghitung segala kemungkinan politik.
Saya menyampaikan kiai Ma'ruf itu sudah November 2017 ke pak Jokowi. Pak Jokowi saja ketawa pada saat itu. Jangankan rakyat Indonesia, jangankan partai politik, pak Jokowi waktu itu ketawa tidak percaya hal itu akan terwujud, nyatanya bukan karena saya sakti kan, karena saya melihat analisisnya cocok.
Hari ini pun sama menginventarisir tokoh-tokoh NU karena saya lahir dan besar di lingkungan NU. Jadi tahu persis siapa sih tokoh yang sebenarnya di NU jeroannya NU saya tahu persis. Inventarisasi nama yang saya sampaikan di partai ya tidak akan bergeser dari nama-nama itu.
Kalau bicara NU tua, luar Jawa ya hari ini ini prof Nasar, kalau luar jawanya diambil NU, tua dapatnya adalah Habib Lutfi. Ada Gus Yahya tapi Gus Yahya konon sudah menyampaikan keinginannya untuk berkhidmat mengurus NU gitu.
Ada NU muda tapi Jawa, Gus Yaqut misalnya. Dan elektoralnya bagaimana, nol. Cuman kita lihat modal jaringannya kalau Gus yaqut kita dorong beliau punya tiga jaringan sekaligus. Dia ketua Ansornya sampai tingkat ranting, ia ketua NU-nya karena kakak kandungnya sampai tingkat ranting, ya Kementerian Agamanya karena dia Menteri Agama.
Lah kan ASN tidak boleh berpolitik, yang tidak boleh berpolitik itu institusinya, orang-orangnya sah begitu ya berpolitik itu sah. Hanya tidak boleh forumnya di partai ini menarik.
Memilih Kiai Maruf kan inkumben, ini bukan inkumben?
Betul makanya tadi saya katakan modal paling dilihat secara matematika politik ya elektoral pasti dan elektoral itu ada di tiga nama, hari ini adalah Pak Sandi, Pak Ridwan Kamil dan Pak Erick. Meskipun kita harus check and recheck dengan survei yang tidak dipublikasikan ya karena survei yang dipublikasikan itu pasti dibayar orang yang mengorder dengan diuntungkannya nama tersebut diumumkan. Jadi kita hati-hati membaca survei-survei itu.
Sekali lagi elektoral menjadi faktor yang paling utama karena elektoral ini mendatangkan lima sempurna tadi, logistik. Tapi jangan lupa elektoral juga bisa diciptakan dengan kedahsyatan jaringan tadi. sepanjang seseorang itu memiliki ibaratnya garis komando, oke semua ke A, semua ke Gus siapa begitu itu sampai bawah semua kan. Jadi perintah yang lebih mudah dilaksanakan daripada tokoh-tokoh yang tidak punya jaringan.
Advertisement
PAN kemarin menyodorkan nama Erick Thohir menjadi Cawapres Ganjar, kalau PPP siapa?
Belum sampai sekarang karena kita sepakat dengan Bu Mega bulan Juli nanti baru kita bahas. Jadi sementara kita juga menghimpun dari suara-suara di cabang dan wilayah. Tetapi memang yang paling intensif yang melakukan pendekatan kepada kita ya pak Sandiaga Uno. Pak Sandi ini paling lama sudah 11 bulan melakukan pendekatan kepada PPP bersama pak Erick tapi bedanya Pak Sandi lebih intensif. Dan pak Sandi lebih detail nanti kalau saya masuk kan diminta untuk masuk dulu gitu, nanti ditawari ini mau enggak di posisi apa begitu. Terus akan melakukan apa, jadi sangat detail. Calon-calon yang lain masih masuk radar monitoring kita saja tapi belum bicara detail, termasuk Pak Erick belum bicara detail.
Belakangan Pak Erick malah justru mengirimkan sinyal ke arah Pak Prabowo dan itu disampaikan secara informal kepada salah satu pimpinan kita Pak Arsul Sani dalam makan entah siang atau malam beberapa pekan lalu. Bahwa beliau disampaikan kepada Pak Mardiono kalau saat ini sedang tidak menyapa PPP setelah lebaran ini lebih karena beliau mencoba pendekatan kepada Pak Prabowo. Dan ini bagian dari dalam tanda petik arahan Pak Jokowi untuk tadi membuat sosok-sosok tadi all the presiden men tadi. Itu dari awal saya katakan, ini akan terjadi dan paling mungkin Ganjar-Sandi vs Prabowo-Erick.
Hanya kerika kemarin PAN itu ke Ganjar, menyenangkan sekaligus agak mengejutkan karena kami dengar memang PAN itu sudah diskusi panjang, sebagaimana diskusi kita dengan Sandi tapi kepada Erick. Itu satu persoalan tersendiri, persoalan dalam hal ini adalah karena Pak Erick mengatakan kepada Pak Prabowo tapi ini PAN Jumat lalu kemari, kami tidak tahu bagaimana ujung berunding antara Pak Erick dengan PAN ini nanti kita lihat.
Kalau kita lihat reaksi Bu Mega dengan Pak Sandi bagaimana?
Karena Bu Mega enggak bisa ditebak, tapi prinsip bahwa Bu Mega sudah mengajak rundingan Juli nanti pasti ada hitung-hitungan sebagaimana tiba-tiba kemarin di ujung Ramadan mengumumkan Ganjar. Jadi kita tunggu saja, tapi so far sih Pak Sandi komunikasi dengan beberapa petinggi PDIP baik-baik saja. Pak Erick lebih-lebih lagi, lebih bagus lagi dengan Bu Puan, saya dengar sering komunikasi juga.
Sandi dekati PPP by order, seperti Erick juga oleh Jokowi atau bagaimana?
Katanya by order. Artinya meminta PPP nanti untuk dibawa ke PDIP menjadi Cawapres Ganjar. Bukan, meminta atau diminta untuk masuk PPP untuk membantu PPP itu saja.
Koalisi PDIP PPP siapa yang akan anggota baru?
Ya Jumat lalu PAN sudah merapat.
Jadi PAN merapat?
ya paling tidak ketika seseorang atau sebuah tokoh politik itu mendemonstrasikan pertemuannya ada secercah keinginan untuk bergabung di sana. Apakah itu akan terwujud atau tidak tergantung balasan proposalnya, kan kemarin mengajukan proposal. Tergantung jawaban proposalnya. Ibarat email itu replynya sesuai harapan atau tidak.
Isinya apa proposalnya?
Tanya ke PAN tentu bukan ke sayam tapi kan pasti power sharing. Power sharing paling tinggi cawapres, power sharing berikutnya para menteri kabinet, power sharing berikutnya lagi posisi-posisi selain di kabinet kan banyak sekali, komisaris di BUMN.
PPP akan menyodorkan proposal?
Itu rundingan kita dengan Sandinya. Tetapi kalau bicara ke PPP, beliau menyampaikan kalau mendapat perintah begitu. Sebagai insan politik, itu bebas boleh dilaksanakan, boleh tidak. Tapi ingat bahwa Pak Sandi adalah pembantu presiden. Dan presiden adalah aktor politik yang memegang menurut dari berbagai survei 15 persen suara. Jadi suara presiden ini setara dengan gerindra lah, jadi mau enggak mau harus dihitung. Suka tidak suka, protes tidak protes presiden itu faktor Pak Jokowi itu faktor. Karena memang memainkan diri sebagai faktor. Beda dengan Pak SBY tahun 2014, beliau tidak memainkan diri menjadi faktor dan ini pilihan politik.
PPP bahas power sharing itu?
Nah khusus PPP kita lillahi taala. Jadi kita memberi dukungan tanpa syarat kecuali satu, kita minta cawapresnya dari PPP. Siapapun yang nanti dari dalam saat ini PPP misalnya Pak Mardiono, atau dari luar yang kemudian berbaju PPP mengambil KTA PPP itu yang menjadi proposal secara resmi yang kita sampaikan dan itu hasil keputusan Rapimnas.
Kalau syaratnya tidak dipenuhi PDIP?
saya tidak mau menyampaikan jawaban kalau, sebelum janur melengkung kita harus berusaha, fight.
Hubungan Pak Jokowi dengan Bu Mega renggang, karena konfirgurasi capres cawapres?
Suami istri saja bisa renggang. Jadi kalau Pak Jokowi dikesankan renggang ya biasa saja. Jangan kan begitu marahnya besar pun saya melihat di depan mata kepala saya sendiri Bu Mega kepada Pak Jokowi beberapa tahun silam, di tahun 2014 di Solo. Jadi kalau hari ini renggang ah biasa enggak apa-apa itu. Jadi tentu dalam komunikasi dan hubungan politik antar tokoh-tokoh politik ada up and down.
Pak Jokowi saran dan keinginannya untuk mendapatkan penerus yang sudah dimaui sudah diiyakan Bu Mega, yaitu Pak Ganjar tapi Pak Jokowi ingin menyempurnakan diterimanya saran itu untuk Capres dengan kemenangan. Caranya adalah ya menang ikuti market. Makanya saya katakan, Pak Jokowi itu politisi yang setia kepada market, keinginan publik. Bu Mega politisi yang setia kepada pola, idelogi, nilai, patern untuk menjaga NKRI karena beliau selalu mengatakan dwitunggal harus nasionalis-religius. Jadi ini dua kutub political action yang berbeda sama sekali.
Kalau hari ini Pak Jokowi menyodorkan cawapres dan belun dijawab sama ibu kemudian membuat Pak Jokowi, ah nanti dulu deh menjaga jarak atau dikesankan mengelus Pak Prabowo misalnya, buat saya itu bagian dari rehat politik karena tujuan Jokowi untuk all presiden men di sisi Ganjar sudah tercapai ibarat kata tinggal permainan di tingkat leher ke atas lah ngomongnya kapan.
Sekarang untuk menciptakan all president men kedua memunculkan Pak Prabowo belum selesai, Pak Prabowo belum dideklarasikan sebagai capres kan gitu. Masalahnya Pak Prabowo dari awal itu maju sama karena saya diminta untuk maju. Jadi Pak Prabowo maju dalam rangka Pak Jokowi menyempurnakan all president men untuk pasangan yang kedua.
Kerjanya ke sini dulu, rehat dulu kan sudah selesai bacth 1-nya sudah selesai. Sekarang bacht 1-nya ke sini (Prabowo). Nanti kalau sini selesai, balik lagi ke sana batch 2 gitu. Nanti 2A selesai, baru 2B, kan itu saja sebenarnya. Jadi kita enggak usah terlalu baper bahwa Pak Jokowi waduh sudah enggak sama Bu Mega. Memang Pak Jokowi sedang dalam posisi tidak perlu sama Bu Mega hari ini untuk menyelesaikan bacth ke-2, kan itu kan departemen yang berbeda. Yang pada titik itu, Pak Jokowi berbeda cara politiknya dengan Bu Mega. Jadi juga tidak dicampuri juga.
Karena Pak Jokowi sosok unik dalam politik nasional. Saya selalu katakan baru nemu politisi seperti Pak Jokowi dalam sejarah saya berpolitik dalam sejarah bacaan saya berpolitik, ya baru kali ini Pak Jokowi. Main politik yang memainkan semua kartu yang ada di atas meja bahkan di luar meja, dia bawa.
Kalau lihat konfigurasi nasional religius, politik identitas tidak bisa dihindari?
Politik itu di mana-mana basisnya identitas. Makanya saya heran ada orang yang anti politik identitas. saya selalu mengutip yang disampaikan oleh ekonom Amartya Sen, dia pemenang hadiah Nobel, politic and violence diterjemahkan pada waktu itu kekerasan dan politik identitas.
Hari ini semua orang memiliki identitas dan atas nama identitas itu, hari ini bekerja dan berjuang mendapatkan simpati atau dukungan hanya yang menjadi soal adalah atas nama identitas itu kemudian dimainkan untuk mendeskreditkan lawan itu yang menjadi persoalan. Kalau untuk jualan, boleh. PPP tetap apapun akan tetap menyampaikan kami ini partai berbasis Islam yang memang memperjuangkan tegaknya hukum syariah dalam bingkai NKRI melalui perwujudan dalam aturan perundang-undangan. Lah kalau itu bukan identitas apa namanya, kalau kita membawa identitas Islam.
Ketika kita memaknakan atau mengkotakkan Mas Ganjar dalam sosok nasionalis butuh sosok religius itu kan identitas. Misalnya Anies butuh tokoh NU karena dia bukan tokoh NU kan itu identitas. Pak Prabowo butuh orang NU karena dia bukan orang NU dulu ayahnya dedengkot partai sosialis misalnya, itu kan identitas. NU itu identitas.
Yang menjadi persoalan ya tadi saya katakan membingkai calon-calon presiden kita dengan identitas yang berbau SARA dan mendeskreditkan mereka. Seperti yang kemarin viral kemudian seperti biasa penyampaian-penyampaian saya di media sering dipendekin terus kemudian dihancurin sama buzzer itu untuk kepentingan mereka. Ya saya teirma kasih karena membantu menterkenalkan saya. Saya malah kepengen lebih banyak lagi dibegitukan.
Makanya saya selalu ulangi, karena capres kita besok muslim semua apalagi kalau nanti Mas Ganjar pak Prabowo, dan Mas Anies, haji semua. Dan saya ulangi karena tidak ada yang salah dengan pernyataan saya. Jangan kemudian kesalehan mereka dijadikan patokan untuk memilih kalau memang kesalehan disepakati untuk memilih, mari kita adakan tes baca quran sebagai syarat untuk dia boleh duduk sebagai Presiden Indonesia atau tidak.
Oke bagi temen-teman tidak setuju dengan narasi bahwa tidak boleh menggunakan kesalehan untuk mengukur elegibility capres atau tidak mari kita secara resmi partai-partai menandatangani kesepahaman gunakan tes baca Alquran untuk menentukan boleh enggak yang bersangkutan untuk duduk sebagai calon presiden. Ayo PPP menantang itu, saya khawatir gugur semua nanti.
Jadi jangan ngukur dari situ. Kalau dia muslim saya selalu katakan kan, saya bahkan ada yang nulis di DM saya mention di media sosial saya suhul adab ya kamu Romy, mengambil Imam Al Mawardi penulis kitab bahwa dalam tujuh kriteria dalam kitab tidak ada syarat kesalehan gitu. Lah memang enggak ada malah syaratnya yang ada orang Quraish, kalau orang Quraish ini enggak ada yang masuk ini atau jangan-jangan yang paling boleh Mas Anies, yang ada bau-bau Arabnya Mas Anies. Jadi kalau syarat orang quraish harus mas Anies gitu loh. Prabowo sama Ganjar jelas engga wong akhirnya O semua.
Ini makanya saya katakan itu yang jadi persoalan menolak Mas Anies hanya karena keturunan Arab itu saya katakan poilitik identitas yang tidak boleh. Dia WNI, ayahnya WNI, kakeknya WNI, masa hanya ditolak karena keturunan Arab. Kita kan tidak boleh memilih oleh Allah oleh Tuhan untuk menjadi anaknya siapa. Kemudian sama menolak calon tertentu karena tidak pernah salat, ini gimana begitu. Kalau itu jadi ukuran ayo, PPP dengan senang hati. Kami yang menjadi panitia paling sahih untuk mengadakan tes baca Alquran dari seluruh partai politik yang ada begitu.