Industri dagang online atau e-commerce di Indonesia sangat marak sejak dua tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan e-commerce makin populer dan menjadi pilihan alternatif yang menyenangkan. Tak heran bila layanan macam Bukalapak.com, Tokopedia, Blibli, Elevenia, Mataharimall, dan masih banyak lagi semakin banyak digunakan oleh masyarakat.Laris manisnya layanan belanja online ini tentu didukung oleh ekosistemnya yang semakin baik, seperti layanan jasa pengiriman atau kurir barangnya. Salah satu pemain besar di jasa kurir ini adalah PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau dikenal JNE. Dengan memiliki 5.000 konter di seluruh Indonesia, hampir semua pelaku e-commerce di republik ini menggunakan jasa JNE untuk pengiriman barangnya. Nah, beberapa waktu lalu, M Syakur Usman dari KapanLagi Network (KLN) menemui Mohammad Feriadi, Presiden Direktur JNE di kantornya di kawasan Tomang, Jakarta Barat, untuk mengetahui perkembangan bisnisnya, sejak bisnis e-commerce berkembang di Indonesia. Berikut petikannya: Bagaimana perkembangan bisnis JNE, sejak pelaku e-commerce marak di Indonesia?Kami bersyukur, perusahaan e-commerce membutuhkan jasa kurir. Ada model market place, yang mana penjualnya langsung mengirimkan barang melalui konter-konter JNE atau dijemput. Karena kami memiliki jaringan luas, merchant di market place e-commerce menjadi lebih mudah bertransaksi di konter-konter JNE. Sehingga dalam kecepatan delivery, orang menjadi lebih yakin. Kami juga memiliki fasilitas monitoring posisi kiriman atau barang, karena semua dikerjakan sendiri, dari hulu ke hilir. Jadi tidak ada yang berpindah tangan. Pada 2015, jumlah kiriman meningkat pesat , sejak bisnis e-commerce berkembang. Dalam satu hari jumlah kirim naik menjadi 400 ribu barang per hari atau 12 juta kiriman per tahun. Untuk tahun ini, kami optimistis pertumbuhan bisnis kami semakin laju. Dalam hal pendapatan, kami perkirakan tumbuh 30%-40%. Buat kami, target ini sudah kelihatan, karena produk atau layanan baru yang kami luncurkan awal tahun ini, seperti aplikasi mobile MyJNE versi Android di Play Store. Ini kami lakukan karena akses internet semakin mudah dan pengguna smartphone juga semakin tinggi, sehingga transaksi jasa kurir menjadi lebih mudah.Perlu diketahui, Indonesia jadi sasaran empuk dari produsen barang-barang yang bermain e-commerce karena pasarnya besar. Kemudian secara geografi, Indonesia negara kepulauan sehingga sangat dibutuhkan jasa kurir. Jika secara pendapatan tumbuh hingga 40%, bagaimana dengan jumlah kiriman?Saya kira jumlah kiriman juga tumbuh sama seperti pertumbuhan pendapatan. Siapa saja pemain e-commerce yang bekerja sama dengan JNE?Untuk pelaku e-commerce, kami ada dua kategori, yakni korporasi dan individual yang bertransaksi dengan JNE melalui konter-konter JNE yang mencapai 5.000 konter di seluruh Indonesia. Sementara pelanggan korporasi, seluruh pelaku e-commerce di Indonesia, bisa dikatakan, menggunakan layanan kami. Itulah customers kami. Siapa e-commerce yang memiliki billing terbesar di JNE?Saya tidak terlalu hapal angkanya, tapi memang ada urut-urutannya. Siapa angkanya terbesar dan terkecil. Akhirnya kami melihat siapa pemain besarnya, sedang-sedang saja, dan pemain biasa-biasa saja.Seperti apa kontribusi bisnis e-commerce terhadap bisnis JNE?Kontribusinya lumayan signifikan. Mungkin 70% revenue JNE datang dari e-commerce, meski industri ini baru di Indonesia dalam 2 tahun terakhir. Sebenarnya layanan apa yang diberikan kepada pelaku e-commerce ?Untuk pelaku e-commerce yang kami masukkan dalam kategori konsumen korporasi, kami memberikan fasilitas lebih, seperti jasa pengambilan barang/pick up, pembayaran bersifat tidak langsung tunai tapi model invoicing/tagihan, kemudian mereka langsung terkoneksi dengan sistem JNE. Ini kemudahan yang kami tawarkan kepada pelanggan korporasi JNE. Bagaimana dengan standar service layanan yang dijanjikan kepada mereka?Kami memberikan beberapa pilihan. Contohnya soal waktu pengiriman. Banyak pelaku e-commerce menuntut seperti soal pengiriman barang, apakah bisa diterima pada hari sama atau yang tarifnya murah. Jadi kami memberikan layanan jasa kurir dari yang paling ekonomis sampai yang premium. Misalnya layanan JNE OKE untuk tarif ekonomis, kemudian layanan Reguler, YES, atau yang premium yakni SS (super speed). Semuanya kami sediakan. Dengan semakin banyaknya jumlah kiriman barang dari pelaku e-commerce, apa saja tantangannya?Kami masih menghadapi kendala yakni ketergantungan dengan pihak ketiga, terutama jika ada keluhan barang atau kiriman rusak.
Harus diakui, dari sisi pengangkutan, masih menggunakan moda umum, seperti angkutan pesawat menggunakan pesawat komersial, bukan pesawat milik sendiri. Ini problem. Karena saat loading barang ke pesawat, kami tidak terlibat langsung, karena dilakukan oleh petugas porter di bandara. Tapi kami menjaga maksimal supaya keselamatan dan keamanan barang tetap bisa dimonitor. Jadi dalam proses itu, saat barang rusak/cacat, kami harus bertanggung jawab juga.Apakah ada pengantian jika barang yang dikirim JNE rusak?Tentu diganti. Namun untuk kiriman yang ongkos kirimnya, jika dikali 10 kali, masih lebih rendah dari nilai barang, kami sarankan ambil premi tambahan. Misalnya kiriman berupa smartphone senilai Rp 5 juta, setelah dikali 10 kali, ongkos kirimnya tidak sampai Rp 5 juta, kami sarankan premi tambahan. Preminya hanya 0,2% dari nilai barang. Premi ini untuk menekan risiko barang rusak atau cacat.Apa saja yang dilakukan JNE supaya semakin siap melayani permintaan yang tinggi ke depan?Internet sekarang menjadi kebutuhan, sebagai enabler untuk orang bertransaksi. Internet atau teknologi informasi ini menjadi tren, karena menjadi penguat bagi dunia usaha/bisnis saat ini. Internet banyak memberi kemudahan, termasuk dalam berinteraksi dengan konsumen jasa kurir. Dalam konteks kami, kami telah membuat aplikasi mobile MyJNE. Di aplikasi mobile ini, konsumen bisa melihat lokasi terdekat konter JNE, cek tarif untuk tujuan ke mana pun sesuai dengan service levelnya, pelacakan posisi pengiriman. Ada pula fitur yang bisa dimanfaatkan seller dan buyer dalam bertransaski, semacam rekening bersama. Kami menyebutnya My COD. Dengan aplikasi ini, kami berharap konsumen bisa lebih mudah berinteraksi dengan JNE, dengan fasilitas barang dijemput oleh JNE. Dulu konsumen harus datang ke konter, sekarang bisa dari rumah atau tempat-tempat umum dengan menggunakan aplikasi mobile itu.Dengan aplikasi My JNE, orang menjadi lebih mudah bertransaski atau menjual produk/layanan di e-commerce. (Pada awal Maret lalu, JNE meluncurkan tujuh produk yakni aplikasi mobile MyJNE, JNE-PopBox, @Box Pre-paid, Promo Super Speed, JNE INternational Shipment, Layanan CD Music, dan JNE Trucking). Berapa penambahan konter tahun ini?Pada 2016, kami mau tambah 500 konter atau 10%-15% dari jumlah konter saat ini. Dengan jumlah 5.000 konter dan populasi Indonesia 260 juta, maka satu konter harus melayani 52 ribu orang. Terlalu besar, sehingga sehingga skalanya harus lebih kecil supaya lebih merata. Dari kota provinsi, kami sudah menuju kota-kota kabupaten, kotamadya, kecamatan, dan kelurahan. Ini terus dilakukan, supaya semakin dekat dengan konsumen.Nah, pada 2016 apa saja rencana bisnis perseroan?Pada 2016 kami menganggarkan Rp 400 miliar untuk pengembangan infrastruktur dan Rp 55 miliar untuk pengembangan teknologi. Kami menginvestasikan dana sebesar itu, karena kami melihat kebutuhan konsumen terus meningkat dan berkembang sehingga perlu sarana penunjang. Dulu interaksi orang lewat telepon, kini bisa lewat rumah lewat smartphone. Di sisi infrastruktur, seiring kenaikan jumlah kiriman, kalau tidak dilakukan otomasi atau manual, kami khawatir tingkat kesalahan bisa meningkat. Kami tidak mau kiriman naik, kesalahan juga naik. Maka itu, perlu gudang sortir center dengan otomasi tadi, seperti perusahaan kurir besar di luar negeri. Jutaan kiriman dilakukan oleh mesin. Sortir barang, jika dilakukan secara manual, tingkat kesalahannya cenderung tinggi. Kemudian di sisi teknologi, kami ingin memperbaiki sistem IT, memiliki SDM yang cakap dan trampil.Apa goal utama dari investasi besar tersebut? Tujuan akhirnya, kami ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri. JNE ingin menjadi national flagship courrier company yang bisa bersaing di pasar internasional. Kami ingin membangun kekuatan di dalam negeri. Sehingga saat pasar bebas ASEAN, kami tidak takut pemain asing masuk. Justru pasar bebas itu membuka pintu perusahaan lokal untuk melompat, ke pasar lebih besar, pasar ASEAN.Kapan JNE ekspansi ke pasar ASEAN?Kami akan buka di Singapura dan Malaysia. Di Kuching, Malaysia, kami sudah berbicara dengan salah satu pihak. Sementara di Papua New Guinea, kami sudah dapat informasi. Semua masih dalam proses. Kami memang ingin masuk ke pasar ASEAN untuk menjadi pemain lokal yang go international. Kami melihat potensi pasarnya ada, karena tenaga kerja Indonesia/TKI ada di mana-mana. Artinya, kebutuhan TKI ada, seperti kebutuhan makanan asal Indonesia.
Bisnis e-commerce berkontribusi 70% terhadap pendapatan JNE
Memiliki 5.000 konter di seluruh Indonesia, hampir semua pelaku e-commerce di republik ini menggunakan jasa JNE.
Rekomendasi