Tees ingin menjadi nomor satu di Asia Tenggara

Tees.co.id dibangun oleh tiga sekawan Aria Rajasa, Gary Lilardi, dan Bima pada 2013.

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
Tees ingin menjadi nomor satu di Asia Tenggara
arie rajasa. ©2016 Merdeka.com/Syakur Usman

Banyak alasan untuk membuat startup company. Antara lain memangkas satu proses bisnis sehingga lebih mudah dan cepat atau menciptakan model bisnis baru. Startup Tees.co.id mencoba menggabungkan semua itu. Startup ini semula menawarkan jasa customize kaos secara online, tapi kini berkembang menjadi customize segala barang. Bahkan Tees juga melayani customize barang untuk jumlah order hanya satu unit.Tees.co.id dibangun oleh tiga sekawan Aria Rajasa, Gary Lilardi, dan Bima pada 2013. Terinspirasi oleh platform sejenis dari Amerika Serikat seperti Zazzle.com dan Cafepress.com, serta Designbyhumans.com di Eropa. Kini Tees dikunjungi sekitar 5.000 pengguna aktif setiap hari dan sudah mencapai profit sejak 2015. Untuk mengetahui perkembangan terkini Tees dan rencana ke depan, M Syakur Usman dari KapanLagi Network (KLN) menemui Aria Rajasa, Co-Founder Tees, yang juga alumnus Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia angkatan 2001, baru-baru ini di kantornya. Berikut petikannya:Apa alasan mendirikan Tees?Kami membangun Tees 3 tahun lalu, karena kesulitan kami sendiri membikin bisnis merchandise. Saya bersama Bima saat itu. Lalu kami berpikir bagaimana supaya desainer atau orang kreatif fokus berkarya. Sedangkan urusan produksi, pengiriman, customer service, payment, dan lain-lain bisa hilang dari kekhawatiran mereka. Karena ribetnya tak berhubungan dengan karya. Lalu kami bertemu dengan Gary Lilardi yang memiliki bisnis printing dan cocok, karena dia membawa teknologi baru, yang bisa membuat merchandise, tapi dalam jumlah satuan. Teknologi ini tentu menyelesaikan banyak masalah. Dulu ada minimal order untuk produksi satu merchandise, seperti dua lusin untuk satu desain. Kemudian jika tidak laku bagaimana, belum lagi menyimpannya. Supaya tidak rugi, harus dijual diskon. Inilah yang banyak terjadi dan berulang. Dengan teknologi ini, mereka cukup lihat desain saja. Begitu pesen, kami yang produksi. Kami ambil semua risikonya. Tees mulai dari kaos, dan sekarang berkembang. Seperti apa perkembangan usaha Tees hingga kini?Cukup bagus. Ada lebih dari 200 ribu desain yang sudah di-submit ke Tees, yang datang dari 30.000 desainer. Desainer ini kebanyakan pribadi, orang-orang kreatif atau mahasiswa. Saat ini kami memiliki 18 orang sumber daya manusia dengan kantor di Jakarta dan Yogyakarta (untuk IT development). Sedangkan untuk proses manufakturing/produksi, kami bermitra seperti di daerah Roxy, Mangga Besar, Bandung, dan lain-lain. Setiap tahun fokus kami berbeda-beda. Yang konsisten, teknologi selalu dikembangkan karena berubah terus, kebutuhannya juga.Di tahun I, tahap pembuktian, maksudnya apakah ada pasar bagi Tees. Ternyata pasarnya ada, sehingga kami eksplorasi.

Tahun II, kami fokus pengembangan di satu produk ke produk lain, dari satu produk kini menjadi 30 produk. Dan di tahun III, kami fokus melakukan promosi untuk segmen B2B, mengembangkan model bisnis, dan mencari profitabilitas. Sebenarnya tahun kedua sudah profit, tapi dianggap terlalu cepat oleh investor. Katanya, pertumbuhannya berarti kurang tinggi (model bisnis di Tees antara lain memungut biaya mulai Rp 100 ribu per kaos yang dipesan. Biaya tersebut untuk biaya produksi, pengiriman, customer service, sistem payment, dan lain-lain). Dari sisi jumlah pengguna dan order?Tidak bisa bilang jumlah pengguna, tapi pengguna aktif Tees adalah 5 ribu per hari.

Untuk jumlah order, meningkat setiap bulan dan tahun. Lumayan angkanya, tapi tidak bisa disebut. Kalau per tahun kami tumbuh 10 kali lipat. Untuk tahun ini estimasi saya hanya naik 5 kali lipat. Dari sisi kategori produk, karena namanya Tees, sekitar 50% masih kaos. Sisanya, beberapa kategori produk, seperti totebag, bantal, notebook, dan casing telepon seluler. Nah di 2016 fokus apa saja yang mau dikerjakan?Ada beberapa hal. Pertama, kami masuk ke segmen Business to Business (B2B). Sejak tahun lalu fitur live editor, banyak digunakan untuk pemesanan dalam jumlah besar (bulk). Mulai ratusan sampai seribu unit pesanan. Pesanan tersebut berkali-kali dalam satu bulan. Karena itu, kami akan masuk ke segmen B2B. Apalagi kebanyakan konsumen sudah tahu Tees, tapi tidak tahu kalau kami juga menangani B2B. Kedua, ada beberapa hal yang dieksplorasi. Kami akan rilis pada Maret 2016, tapi tidak bisa disebut. Yang bisa disebut, kami sedang melakukan revamping bisnis supaya web Tees lebih mobile friendly dan Live Editor bisa dipakai di mobile, sekarang ini belum bisa. Dari sisi teknologi?Lebih banyak fokus di platform. Kami bukan menjadi perusahaan manufaktur sehingga tidak punya aset besar. Jadi kami fokus tetap di teknologi. Seperti live editor, kami bikin sendiri. Kemudian web dibikin semudah mungkin supaya orang bisa create dan belajar membuat kaos sendiri.

Live editor kami lumayan kompleks, karena kami punya CRM di belakangnya, production Iine up juga kami punya. Jadi back-end nya jauh lebih ribet.Sebenarnya hal unik apa yang ditawarkan Tees saat ini? Kami membawa model offline ke online. Seperti startup pada umumnya, kami menyelesaikan masalah offline ke online, supaya lebih mudah. Intinya, kami ingin so easy, sehingga orang-orang bisa berkreasi dengan ide-ide sendiri. Kami ingin membuat semua hal yang customize, meski hanya satu unit volume ordernya. Dan kami juga selalu memberikan the best experience, termasuk produk-produknya.Setiap bulan kami selalu mendorong ada produk baru. Kami mencoba setiap 3 bulan ada 3 produk baru. Misalnya produk dari segmen korporasi, kami coba bikin satuan. Saya pribadi ingin membuat baju olahraga, seperti kaos dry fit untuk lari, karena teknologinya sudah ada, tapi tidak bisa bikin satuan. Jadi kami lagi kembangkan teknologinya supaya bisa bikin satuan. Ada platform sejenis di luar negeri yang menjadi benchmark?Ada, seperti di Amerika Serikat namanya Zazzle.com dan Cafepress.com. Zazzle sudah belasan tahun berdiri dan kini bernilai US$ 300 juta. Kemudian Designbyhumans.com di Eropa. Di luar negeri, sudah banyak model bisnis seperti ini. Di Indonesia mulai banyak pemain baru dalam 2 tahun terakhir. Ini menarik untuk mengembangkan pasar secara bersama-sama.Strategi Anda untuk meningkatkan users experience lebih baik?Banyak yang harus kami improve. Misalnya, 40% trafik lebih banyak dari mobile atau smartphone, tapi konversinya rendah banget. Cuma seperempat atau 25% dari konversi desktop. Jadi strategi kami akan improve mobile experience, tapi bukan bikin aplikasi mobile.

Ada tools di mana konsumen bisa bikin desain sendiri, dengan tambahan teks dan image. Jadi pemesanan custom sudah banyak, kira-kira 2 banding 8. Kami akan bikin fitur lain yang mendukung.Kenapa tidak membuat aplikasi mobile?Aplikasi mobile itu mahal untuk maintenance, meski mudah membuatnya. Jujur aja, lumayan time consuming dan banyak pakai resourcer. Kedua, kami belum merasa perlu ke sana. Rencana ada, tapi saat ini belum. Kami sekarang lebih concern memperbaikin mobile web dulu. Maklum startup kecil. Tidak bisa semua dikerjakan sekaligus.Nah, soal Investor, dari mana saja?Di awal, ada angel investor, mereka individu dan teman dekat. Untuk venture company, setahun lalu, kami deal dengan 500 Startup di Singapura dan 8Capita (Malaysia). Kami juga sedang mencari funding. Lihat saja nanti hasilnya.Lebih suka investor lokal atau asing?Ke depan, kami lebih suka investor asing. Karena investor lokal belum paham soal model bisnis kami. Kemudian investor lokal memiliki pola pikirnya konvensional. Investor lokal juga tidak efisien, kami meeting 4 hingga 5 kali dan gagal.

Ini berbeda dengan investor asing. Kami berbicara dengan investor asing, responsnya menarik. Seperti saat 500 Startup, cukup 1-2 kali meeting. Jadi kami tahun kapan ditolak atau diterima dalam 1-2 hari. Timing ini penting sekali bagi startup. Karakter investor seperti apa yang dibutuhkan?Karakter pertama, mengerti visi Tees. Kedua, punya strategic value yang tinggi dalam pengembangan Tees. Misalnya kami ingin punya mitra untuk ekspansi regional. Dan ketiga, kami ingin punya investor yang pernah investasi di bisnis serupa, sehingga bisa berbagi playbook-nya. Ini pening untuk membantu ekspansi kami ke regional atau global.Berapa investasi yang sudah dikeluarkan untuk Tees?Tidak bisa bilang. Kami eksperimen banyak sekali cara. Dari iklan gila-gilaan, menghabis cukup banyak uang. Ujung-ujungnya ini tentang hustle. Karena itu, kami lebih banyak melakukan kemitraan, mendorong deal. Kebanyakan ke sana sekarang. Startup yang saya lihat sekarang mencoba segala cara. Tapi tidak pernah keluar gedung. Dua tahun pertama, kami mencari cara online sebanyak mungkin. Jadi buang duit banyak sekali. Saat duit sudah menipis, akhirnya kami ke luar gedung dan menawarkan layanan kami, jadi seperti jemput bola. Mendatangi banyak orang. Saat kami mulai keluar gedung, ternyata bisnis datang. Ini mungkin biasa di bisnis offline. Ini revolusi yang tidak sengaja mendatangkan profit. Getting out of the building, lucu ya. Apa mimpi besar Anda bersama Tees?Semua startup tentu punya mimpi global. Dalam lima tahun, kami ingin Tees menjadi the hustle name in customize anything. Kami ingin menjadi nomor satu di Asia Tenggara (ASEAN).Dari sisi customer, kami ingin customize anything. Semua yang dipakai dan dilihat harus customize-able. Ini seperti making your own value. Ini mimpi saya sejak lama, karena saya tipe orang yang stand out.Dari sisi bisnis, kami mau melakukan demokratisasi manufaktur. Terinspirasi dari sebuah buku, kami ingin membuat manufakturing hanya sebuah service di internet. Maksudnya, ketika kita ingin bikin kaos 1.000 unit, orang tidak perlu tahu pabriknya di mana. Cukup pakai online tools, tiba-tiba sudah selesai diproduksi dan siap dikirim. Orang tidak perlu ke pabrik, bikin deal dan kemudian bingung soal jumlah ordernya. Jadi bagaimana caranya, kami membuat manufacturing to the mass and mass to the manufacturing. Itu visinya. Goalnya, kami menjadi kaya dengan memperkaya orang lain. Bukan tujuan mulia, tapi that’s how its works. Dengan Memberikan akses ke semua orang dan kepada orang yang mau memanfaatkan ini. Saya percaya itu dan sudah menjadi mantra saya.Apa hambatan Tees selama ini?Kami selalu ingin moving faster, tapi yang namanya startup ada keterbatasan. Seperti aplikasi mobile yang belum ada karena sumber daya manusianya tidak ada.

Rekomendasi