Mami Yola dan keluarga sindikat narkoba

Mami Yola merupakan bos narkoba di Kampung Berland.

Laurel Benny Saron Silalahi
Mami Yola dan keluarga sindikat narkoba
Penggerebekan Berlan. ©2016 merdeka.com/imam buhori

Yoneta berteriak diperkosa saat anggota Kepolisian Sektor Senen, Jakarta Pusat hendak menangkapnya. Dia mengancam untuk membuka baju. Namun Brigadir Kepala Taufik tak bergeming. Kemudian wanita paruh baya itu berteriak 'Basi'. Tak lama, 15 orang lelaki membawa senjata tajam mendatangi kediaman Yoneta. Mereka secara membabi buta menyerang anggota polisi itu. Bripka Taufik menyelamatkan diri dengan loncat ke Kali Ciliwung tepat berada di belakang. Sementara informan yang ikut dalam penggerebekan itu juga turut melompat. Alhasil keduanya tak selamat karena derasnya aliran kali. Bripka Taufik dan Japri, informan Polisi itu ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Sementara Inspektur Satu Prabowo mengalami luka bacok sabetan senjata tajam. Dia dihujami senjata tajam saat bertugas mengawasi jalannya penggerebekan dari luar rumah. "Dia teriak ingin di perkosa," ujar seorang perwira Polisi saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu. Mami Yola begitu Yoneta di kenal oleh warga juga anak buahnya adalah seorang bandar narkoba. Wanita paruh baya itu mendiami rumah di sebuah gang sempit Jalan Slamet Riyadi IV, Kebon Manggis, Jakarta Timur. Dia merupakan bos besar peredaran narkoba di kawasan Kampung Berland. "Dia memang bandarnya," ujar Perwira itu. Perwira itu juga menuturkan jika Mami Yola dan keluarganya merupakan sindikat. Terkuaknya bisnis Mami Yola bermula saat penggerebekan dilakukan jajaran Kepolisian Sektor Senen. Penggerebekan berujung tewasnya satu orang Polisi dan seorang informan itu membuka tabir gelap Mami Yola sebagai bandar narkoba. Apalagi dua anak buahnya, Ade Badak dan Riko menjadi pengawal Mami Yola. Keduanya merupakan pasukan berani mati yang membeking Mami Yola menjalankan bisnisnya.Sumiati, Ketua Rukun Tetangga 03, Kelurahan Kebon Manggis, Jakarta Timur menuturkan jika kedua anak buah Mami Yola yang tewas ditembak Polisi itu merupakan loyalis sang bandar. Bahkan menurut Sumiati, keduanya sering terlihat menenteng senjata api dan dianggap sebagai tangan kanan Mami Yola. "Ade Badak itu memang suka ke sini, bawa-bawa pistol," ujar Sumiati. Dia pun tak mau jika lokasi penggerebekan di Kebon Manggis disebut sebagai Kampung Berland. "Jujur saja saya kesal Kampung Berland disebut sarang narkoba"Buat mengamankan bisnis haramnya, Mami Yola menurut Sumiati memang membuat rumah kontrakan dihuni oleh anak buahnya. Kontrakan itu terletak tepat di samping kediaman Mami Yola. Anak buahnya itu juga yang turut mengamankan jalannya bisnis haram Mami Yola. "Mereka anak buahnya," kata Sumiati.Berdasarkan keterangan Kepolisian, bisnis Mami Yola masuk dalam peredaran narkoba dalam jumlah besar. Hasil penyelidikan di rekeningnya, selama dua tahun terjun dalam bisnis narkoba, Mami Yola memiliki uang sebesar Rp 16 miliar. "Kalau dilihat dari rekeningnya, dia mulai bisnisnya dari tahun 2012," ujar Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Eko Daniyanto, Kamis pekan kemarin. Buat menutupi bisnis haramnya dari warga sekitar tempat dia tinggal, Mami Yola memang dikenal dekat dengan tetangganya. Salah satunya ialah dengan meminjamkan uang kepada para tetangganya. Sedangkan untuk menghindari kedatangan Polisi, Mami Yola memelihara anak buah yang menghuni kontrakan tepat di samping kediamannya. Ada kode khusus digunakan sebagai pemberitahu jika ada petugas datang. Salah satunya ialah 'Basi' dan kentongan. "Kejadian kemarin itu banyak warga datang karena kentongan itu dibunyikan," ujar Santi, tetangga Mami Yola menuturkan. Santi mengaku jika suaminya pernah ditangkap Polisi karena sering berkumpul dengan pengguna narkoba di kediaman Mami Yola. Meskipun dikenal sebagai orang kuat dalam peredaran narkoba di Berland, ternyata Mami Yola dikenal sebagai pribadi yang religius. Di rumahnya terdapat beberapa aksesori dan perabotan keagamaan terpasang di dinding bercat hijau itu. Salib, foto Tuhan Yesus, dan alkitab terpajang rapih di rumahnya. Beberapa lembar surat undangan kegiatan gereja juga ditumpuk rapih di atas meja kecil."Mereka memang religius, setiap minggu pagi sering ke Gereja di Rawamangun," ujar Santi.

Rekomendasi