Nggak gampang jadi orang ngondek

"Nggak gampang jadi ngondek. Ngondek harus dipelajari. Misalnya lagi berenang, lihat cowok, auuu cucok...," ujarnya.

Anwar Khumaini
Oleh Anwar Khumaini - Reporter
Nggak gampang jadi orang ngondek
mongol. ©2015 kapanlagi.com

Mongol Stres, meski belum lama terjun di dunia seni peran, namun kiprahnya sudah banyak dinikmati para penikmat seni, khususnya komedi. Pria 'KW' asal Manado, Sulawesi Utara ini mentasbihkan dirinya sebagai pakar KW internasional.Sehingga wajar, jika tema stand up comedy yang dia tampilkan baik di stasiun televisi atau pun di panggung-panggung off air tak jauh dari tema-tema KW."Setiap comic nggak boleh sama. Misalnya Raditya Dika soal galau, hubungan dengan pacar. Kalau Panji soal ini. Nah gue mikir, soal apa ya. Gue akhirnya dapat lah soal pakar KW internasional," cerita Mongol dalam sebuah obrolan santai dengan merdeka.com di sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan, belum lama ini.Mongol menurutkan, tak gampang berperan sebagai lelaki ngondek, alias mirip perempuan. Apalagi kalau dasarnya dia adalah lelaki normal. Harus belajar dan survei serius."Nggak gampang jadi ngondek. Ngondek harus dipelajari. Misalnya lagi berenang, lihat cowok, auuu cucok...," ujarnya sambil tertawa.Tak banyak orang tau awal mula Mongol meniti karirnya sebagai comic, dan bahkan kini merambah ke dunia peran. Dari dijebak teman, hingga akhirnya keenakan jadi comic hingga sekarang.Namun tak selamanya jalan hidup pria yang suka berperan sebagai banci ini selalu mulus. Banyak rintangan yang dihadapi pria beranak satu ini.Berikut wawancara lengkap Mongol dengan merdeka.com: Sejak kapan Mongol terjun di dunia perfilman, selama ini kan terkenal sebagai comic (pelaku stand up comedy)?Awalnya sih dari stand up. Jadi pada medio 2011 kita punya grup BBM, gue inget banget grupnya namanya Lanang Sejati, laki-laki semuanya anggotanya. Nah ada satu temen kita salah satu direktur ulang tahun. Gue jadi kepala keamanan waktu itu, panitia. Saat kita lagi meeting, ternyata ada kegiatan stand up. Gue dijebak sama temen sendiri. Kita booking cafe. Setiap undangan yang diundang harus kasih barcode BB. Nah saat itulah saya dipaksa untuk stand up.September pertama kali tayang, gue langsung dapat film. Dan gue mungkin kalau boleh jujur, gue stand up pertama yang gak jadi cameo, langsung jadi pemeran utama, bareng artis Rio Dewanto dan Titi Rajo Bintang. di film Mursala. Kesampingkanlah Raditya Dika dan Panji, mereka kan entertaint. Tapi gue pertama, langsung main gitu, dan gue bangga banget main sama idola gue, Titi Rajo Bintang. Selama ini kan kita banyak lihat filmnya saja. Lebih suka mana, stand up comedy atau main film?Stand up, 15 menit pulang. Kalau syuting seharian kita bisa di lokasi. Sudah gitu kita gak bisa kabur di lokasi. Stand up tinggal nego sama panitia, boleh gak gue dicepetin tampilnya, ntar bagi hasil (tertawa lebar).

Kalau soal penghasilan besar mana?Stand up lebih gede, senior di Jakarta Rp 25 juta per 15 menit seperti Raditya Dika, Panji, dll. Jadi untuk off air sehari bisa dapatlah Rp 25 juta. Kalau main di Jakarta sehari 2 proyek misalnya, ya dapat Rp 50 juta.Kalau film?Biasanya 2 minggu syuting.

Karakter Mongol di Stand up comedy selama ini khas, itu murni karakter Mongol atau nyari-nyari? Kalau stand up ada terkenal namanya persona, ciri khas seseorang. Setiap comic nggak boleh sama. Misalnya Raditya Dika soal galau, hubungan dengan pacar. Kalau Panji soal ini. Nah gue mikir, soal apa ya. Gue akhirnya dapatlah soal pakar KW internasional.Bagaimana mencari bahan-bahan buat stand up?Nyari. Itu materi soal KW nggak ada yang karangan, semua cari di lapangan. Misalnya lihat cowok six pack, tapi ternyata aww... (memperagakan gaya waria)Jadi harus survei terlebih dahulu? Iya betul.Tapi sekarang Mongol malah kelihatan KW banget?Gue kalau boleh jujur, gue harus survei soal KW. Dalam film Comic 8 dulu, saya harus pakai kostum ala Sailormoon, itu nggak gampang, pakai stocking jala-jala, kegesek-kegesek nggak enak. Tapi setelah kita lihat hasilnya, penonton 1,6 juta dalam dua minggu, kebanggaan itu ada. Kalau soal KW, kalau nggak lentur orang nggak akan ketawa. Kita harus sedikit ngondek lah.Keluarga ada yang komplain nggak dengan profesi Mongol selama ini?Biasanya anak. Dia suka bilang, kok papi kayak bencong sih. Kalau istri sudah nggak ada, kita bubar.

Jadi anak yang komplain. Tapi kita jelasin, orang tua saya, mama ikut membantu menjelaskan. Kalau anak dimarahi nggak bisa, mending dijelasin, eh ke sini-ke sini kebablasan ngondek. Habis film dapat peran ngondek lagi, ngondek lagi. Ada saya pernah pakai kostum celana di belakang pantatnya ditulus 'buruan dong masukin', tapi nggak apa-apa sih asal bisa perankan karakter dengan sempurna.Tapi nggak takut lama-lama jadi KW beneran?Ngapain takut. Gue sih berpikir ini bagian dari seni. Ngapain kita sensasi berlian tapi karya seni nothing. Mending kita ngejar karya. Itu Robin William (aktor yang sebelumnya comic asal Amerika) jadi nenek-nenek.Tertantang perankan karakter lain di film selanjutnya?Iya lah. Tapi di beberapa film sudah mengubah karakter gue.Mudah nggak sih memerankan jadi pria KW?Nggak gampang jadi ngondek. Ngondek harus dipelajari. Misalnya lagi berenang, lihat cowok, auuu cucok... Jadi kita harus pelajari. Cara jalannya juga harus beda. Dulu saja buat belajar, gue undang saja mereka (para waria), gue bikin ultah lipsing, semuanya pakai sasak ala Syahrini, jadi cong semua yang manggung. Gue tanya mereka, kok loe bisa ya nggak sakit pakai sepatu gitu (high heel), mereka menjelaskan, oh gini bang.Kebetulan gue punya mentor, artis senior Ria Irawan. Dia selalu ajari gue, kalau karakter begini loe harus begini. Dia nggak pernah sungkan ngajari. Gue untuk karakter cong, kata Ria Irawan gue harus beli kamus bahasa gaul. Misalnya cucok, lambreta, lavida loka, lamborgini, artinya lama banget. Panjang kan, kan harusnya lambreta banget gitu saja.Karakter apa yang pengen dimainkan di film-film selanjutnya? Film terbaru saya 'Ups Ada Vampir' di sana saya jadi guru, gak ngondek. Jadi gue pakai baju China, gue harus menjalani adegan salto, berarti laki banget. Beda saat saya jadi Sailormoon, taraaa...Gue jadi guru nggak boleh ngondek. Gue disuruh pakai sling, tapi yaudah dijalanin saja yang penting duit buat jajan anak. Kalau anak cowok gampang, kalau cewek, jajannya Rp 20 ribu, omanya bilang Rp 300 ribu minta ke papi.

Rekomendasi