Juli tahun lalu menjadi momen bersejarah bagi MR dan ibunya. Untuk pertama kalinya mereka bebas dari tekanan hidup dan ancaman pembunuhan di Iran.Setiba di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, seorang lelaki Iran dan Indonesia berbadan tegap menjemput mereka. Di dalam mobil keduanya bilang MR dan ibunya akan diantar ke tempat tinggal sementara di daerah Cisarua, Bogor, Jawa Barat.Dia dalam mobil itulah MR dan ibunya membayar ongkos sekitar US$ 4.500 per orang untuk menyeberang ke Australia. "Anak-anak harganya mungkin setengahnya, tapi ada juga imigran lain membayar hingga enam ribu dolar," kata MR saat ditemui merdeka.com Sabtu pekan lalu di sebuah pusat belanja di Kelapa Gading, Jakarta Utara. MR dan ibunya berasal dari keluarga tergolong kaya. Mereka hidup serba berkecukupan di Ibu Kota Teheran, Iran. Wajar saja dia terhenyak saat mengetahui wajib tinggal berdesakan dengan 60 imigran gelap lainnya.Para imigran ilegal ini dilarang meninggalkan tempat penampungan itu. Mereka memang tidak punya pilihan. Buka mulut bakal dilaporkan ke polisi. Kita tidak makan dengan baik, sehari hanya sekali dan tidak bisa interaksi," kenangnya dengan raut ngeri.Selama lima bulan dalam kondisi memprihatinkan, kabar baik datang. Puluhan orang itu berlayar ke Australia dari sebuah pelabuhan di Sukabumi, Jawa Barat.Tapi perjalanan sampai ke pelabuhan itu tidak mudah. Imigran-imigran gelap itu sempat menginap tiga malam dalam hutan. "Lima menit dari laut, saya sudah melihat kapal tua dan kecil di seberang tapi polisi menangkap kami," tutur MR. "Sebagian dari kami lari ke hutan dan yang lain ditahan di kantor polisi."Tapi tidak dengan MR dan ibunya. Mereka ditempatkan di rumah tahanan imigrasi di Cisarua. "Saya ditangkap karena saya ilegal dan mungkin polisinya tidak dibayar cukup," katanya sambil tertawa.Keterlibatan polisi dan pemerintah daerah amat terbuka. Menurut MR, dia sering mendapati polisi tengah bertransaksi dengan orang Iran agar tutup mulut dan markas mereka diamankan. "Saya merasa polisi di Indonesia sama dengan polisi di Iran, jika dikasih duit nggak apa-apa. Bedanya Indonesia lebih murah," sindirnya. Dari Cisarua perjalanan hendak dilanjutkan ke Makassar untuk mengurus statusnya sebagai penerima suaka. Saat di Jakarta tak disangka dirinya bertemu teman satu negara mempunyai bernasib sama. Mereka kini tinggal bareng di sebuah apartemen. Namun MR bersyukur sudah lepas dari tempat penampungan di Cisarua. "Perasaan saya kalau ke Cisarua lebih dari dua hari saya akan sakit karena ada kenangan buruk. Saya lima bulan di sana dan itu semuanya serba buruk."