Membuat kaus sablon, cukil kayu, dan seni tato. Begitulah kegiatan saban hari di komunitas Taring Babi, sebuah wadah bagi anak punk di selatan Jakarta. Mereka menunjukkan eksistensi dengan membuat sebuah kegiatan bertajuk kreatifitas. Berjuang tanpa henti untuk menghapus stigma di tengah masyarakat dan berguna bagi orang lain.Dari kegiatan itu mereka hidup. Memberi banyak manfaat bagi kehidupan di komunitasnya. "Siapa saja datang ke sini kita terima. Apa yang ada silakan dimanfaatkan," kata Bob, gitaris Marjinal sekaligus penggagas komunitas Taring Babi, saat berbincang dengan merdeka.com Kamis pekan lalu.Bagi Bob, punk berarti manusia bebas tanpa dipagari sekat aturan. Sekat merupakan sebuah batas atas ketidakterimaan perbedaan sesungguhnya. "Memaksimalkan dari apa yang kita punya meski itu kecil," ujarnya seraya mengisap rokok filter.Menurut Mike, vokalis Marjinal dan juga penggagas komunitas Taring Babi, penilaian atas anak-anak punk sepatutnya dibuang jauh dari stigma negatif. "Itu sama saja menolak perbedaan," tuturnya.Mike menegaskan konstitusi pun secara tegas tidak melarang keberadaan mereka. Malah hak untuk diberi kebebasan juga diperjuangkan dalam Undang-undang Dasar 1945. Apalagi, kata dia, ideologi punk sejalan dengan Pancasila. "Berbeda-beda tapi tetap satu," katanya.Siapapun tokoh menyikapi perbedaan dengan cerdas dia anggap sebagai punk sejati. Wajar jika dia mengagumi Soekarno, Pramudya Ananta Toer, dan Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Sebab ketiga orang ini memperjuangkan perbedaan tanpa harus jadi permasalahan."Pemikiran-pemikiran mereka Mike anggap sebagai manusia seutuhnya. Sama seperti Mike sekarang, jadi diri apa adanya dan menghormati setiap perbedaan tanpa kekerasan," ujarnya.Mike mengaku akan terus berupaya menghapus stigma negatif di masyarakat soal anak-anak punk. Bukan ingin dihargai atau diakui keberadaannya. "Memaksimalkan yang minimal dari kita. Membuat orang tersenyum itu sudah lebih dari cukup untuk sebuah nilai dibanding bayaran atas pengakuan," tuturnya.