Matahari belum sepenuhnya bangkit ketika kesibukan mulai terlihat di terminal Almarj, pinggiran Ibu Kota Kairo, Mesir, Sabtu dua pekan lalu. Sebuah Mercedes biru tua tujuan Rafah masih nangkring di sana. Perlu delapan penumpang buat mengisi penuh tempat duduk dan baru datang seorang ibu bersama dua anaknya yang belum genap usia sekolah dasar."Saya pulang ke Rafah (di bagian Gaza)," kata ibu berjilbab sekaligus berabaya serba hitam ini kepada merdeka.com. Seraya tersenyum, dia menolak menyebut namanya. Dia duduk mojok di sebelah kiri, sedangkan putra dan putrinya asyik bermain. Di luar, sopir mobil omprengan sibuk teriak mengail penumpang setujuan dengan ibu beranak dua itu. Setelah dua jam ngetem, Mercedes dengan tiga baris tempat duduk ini berisi penuh penumpang. Selain merdeka.com, tambahannya adalah lima lelaki, semuanya asal Khan Yunis di selatan Jalur Gaza. Termasuk Muhammad (24 tahun) bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab, dan Ismail (22 tahun) merantau di Benghazi, Libya. Dia menjadi teknisi di sebuah rumah sakit di kota terbesar kedua setelah Ibu Kota Tripoli itu. Sekitar jam 07.30, omprengan itu berangkat. Lama perjalanan ke perbatasan antara Mesir dan Jalur Gaza 5-6 jam. "Kita mungkin tiba di Rafah pukul 12.30," ujar Ismail, bungsu dari tujuh bersaudara. Dia baru empat bulan bekerja di Libya. Menurut dia, keadaan membaik setelah Presiden Mesir Muhammad Mursi dari kelompok Ikhwanul Muslimin berkuasa. Penduduk Gaza bebas keluar-masuk Mesir saban hari. “Karena itu saya bisa mencari pekerjaan lebih baik di luar Gaza.”Rafah memang satu-satunya harapan buat sekitar 1,6 juta warga Gaza sejak Israel memblokade wilayah seluas 360 kilometer persegi ini lebih dari lima tahun lalu. Sebab itu, ketika rezim Husni Mubarak sangat sungkan kepada Israel sehingga jarang membuka perlintasan Rafah, banyak terowongan bermunculan di sepanjang perbatasan. Karena Israel menutup perbatasan darat, laut, dan udara dengan Gaza, krisis kemanusiaan terjadi di sana. Menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, tingkat pengangguran 70 persen dan sekitar 80 persen mengandalkan bantuan kemanusiaan.
Perjalanan mulai molor dari perkiraan lantaran kami menghabiskan sejam buat mengisi perut dan beristirahat di sebuah restoran di Provinsi Ismailiyah. Baru seperempat jam melaju lagi, sopir terpaksa mencari jalan pintas buat menghindari kecelakaan. Terpaksa kami memutar di bawah jalan laying yang memang sudah macet panjang. Kami terjebak di sini hingga sejam.Ketika tiba di daerah Al-Abid, sopir beralasan ingin membeli air. Yang terjadi, malah beristirahat hingga setengah jam. Untungnya ini rehat terakhir. Sopir barangkali merasa bersalah karena berkali-kali sejumlah penumpang ditelepon keluarganya di Gaza: kapan tiba di Rafah? Dia memacu kencang hingga kecepatan rata-rata 140 kilometer per jam. Kami tiba di Rafah sekitar jam 14.30.
Terengah menuju Rafah
Perjalanan bermobil dari Kairo ke Rafah biasanya antara 5-6 jam.
Rekomendasi